Selasa, 30 Agustus 2016

Ini Makna Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Bagi Guru

Bertahun-tahun yang lalu, saya masih meraba-raba untuk memahami apa makna sesungguhnya dari seorang guru yang diberi tanda kehormatan sebagai PAHLAWAN tanpa tanda jasa.
Hingga saat dimana saya, tiga tahun lalu berstatus sebagai Mahasiswi yang kelak akan menjadi seorang guru. Dimana status itu sebenarnya tak saya inginkan.
"Duh, dimana 'gengsi' nya sebagai seorang guru? cita-cita saya kan jadi dokter atau jadi pegawai di Departemen Keuangan. Gajinya kan banyak." begitu pikir saya diawal-awal menjalani hari sebagai calon guru masa depan.
"Apa yang mau diharapkan dari profesi seorang guru? gaji pas-pasan, tugasnya juga gak mudah." Tapi semua pikiran-pikiran seperti itu sirna seiring perlahan saya menikmati proses untuk menjadi guru.
Hati gak bisa bohong dan jalan-Nya tak pernah salah. Saya ditakdirkan untuk menjadi seorang Guru, ya seorang Guru!
Proses demi proses saya jalani menuju terwujudnya menjadi seorang guru. Tiga tahun kuliah, teori sudah ditangan tinggal praktek yang dinanti, menikmati hari-hari menjadi seorang ibu guru.
Akhirnya, setelah mencari-cari makna yang sesungguhnya dibalik kata PAHLAWAN itu, dua bulan yang lalu saya menemukannya, saya dapat memaknainya. Karena dimulai dua bulan yang lalu, saya berdiri dihadapan 40 pasang mata. Menyapa generasi muda, bertanya apa mimpi mereka. Ya, saya menjadi guru sesungguhnya. Kini benar-benar menjadi nyata.
Tau seperti apa rasanya berdiri dihadapan penerus generasi bangsa ini? Menjadi pusat perhatian dari seluruh pasang mata. Jika saat itu saat yang tepat untuk meneteskan airmata, saya ingin menangis, menangis haru dihadapan mereka. saya BAHAGIA, itulah ungkapan hati saya.
Perasaan ini mungkin takkan saya rasakan kalau saya menjadi seorang dokter. Kini saya tau, saya lebih dari seorang dokter. Ketika dokter bertugas menyembuhkan orang sakit, tapi saya bertugas menyembuhkan moral yang sakit. Ya, seperti apa generasi bangsa ini ada ditangan seorang guru bukan dokter. Maka dengan bangga saya mengatakan saya adalah GURU.
Suatu ketika salah satu murid saya bertanya, "Buk, kenapa guru disebut PAHLAWAN TANPA TANDA JASA? kan kami bayar uang sekolah, guru juga digaji." saya tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.
"Sekarang ibu mau tanya sama kamu, sudah cukup uang sekolah dan gaji yang diterima seorang guru untuk membalas jasa-jasanya? Guru yang mengenalkan kamu huruf A-Z, guru yang dengan sabar membimbing kamu mengenalkan hal-hal yang kamu gak tau hingga membuat kamu sukses dan kelak kamu mempunyai gaji yang lebih dari guru kamu. Apakah kamu masih membayar lagi kepada nya atas kesuksesan kamu itu? bahkan nanti kamu lupa namanya." saya tatap sang murid yang terdiam.
"Berapa mahal sih kamu bayar seorang guru untuk sekedar menegur kamu kalau kamu malas belajar, menasehati kamu kalau kamu mulai salah, padahal guru kamu itu bukan siapa-siapa kamu, gak ada hubungan darah, tapi dia rela membuang energinya untuk memberi nasehat panjang lebar untuk kamu." murid itu semakin terdiam.
Mulia sekali bukan? Guru itu Profesi yang luar biasa, yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dari tangan sang guru lah terlahir matahari yang akan memberi cahaya pada Negeri ini.
Masih pantaskah  kita bertanya kenapa atas kehormatan PAHLAWAN TANPA TANDA JASA itu?
Sekarang saya semakin sadar, bukan gaji yang tinggi yang saya cari, tapi semangat yang tinggi untuk menciptakan generasi yang hebat. Bukan generasi yang hanya pintar tapi juga bermoral.
Menjadi seorang guru itu ternyata harus dari hati, karena nilai sebuah ketulusan benar-benar diuji. Dua bulan yang lalu pun saya menyadari tugas guru yang sesungguhnya adalah mendidik tapi tidak menggunakan kekerasan pada fisik. Saya murka dengan guru yang seenaknya melayangkan tamparan kepada murid-muridnya saat mereka melakukan suatu kenakalan, bagi saya cukup dengan menampar hati mereka dengan nasehat, itu akan memberi bekas yang lama, namun tamparan wajah hanya akan memberi rasa benci dan dendam dihati mereka. Jangan pernah didik mereka dengan kekerasan didiklah dengan kasih sayang.
Kenakalan murid itu hanya sebuah perasaan yang tak bisa mereka ungkapkan, bahwa mereka ingin diberi ekstra perhatian. Sulitkah menebar cinta pada mereka?
Semoga  cita-cita ini terwujud, bisa melahirkan banyak matahari untuk Indonesia hingga Indonesia bercahaya dari sinar Matahari yang sempurna.
Akhirnya saya benar-benar menemukan maknanya. Makna dibalik kata PAHLAWAN itu, yang kini tanda kehormatan PAHLAWAN bisa saya sandang jika menjadi Guru yang sesungguhnya. Guru yang bukan datang kesekolah hanya karena mengharap gaji semata, tapi Guru yang datang karena panggilan jiwa. Jiwa yang rindu kebaikan moral bangsanya. Ya, itulah guru sesungguhnya.

Keberagaman yang Salah Tafsir

   Tidak ada komentar     
categories: 
Persatuan adalah modal utama suatu bangsa. Ibarat filosofi batang lidi dan sapu. Indonesia bukanlah sebatang lidi yang hanya memiliki satu bentuk, satu ukuran, satu warna dan satu tujuan. Indonesia adalah sebuah sapu dengan puluhan batang lidi, puluhan warna, bentuk dan ukuran. Sehingga untuk menyatukan puluhan batang lidi tersebut, kita butuh tali pengikat.
Sama halnya dengan sebuah sapu yang butuh pengikat untuk menyatukan tujuan. Indonesia sebagai negara multikulturalisme yang terdiri dari beragam suku, adat, agama, tradisi, warna kulit, bahasa hingga adat-istiadat maka untuk menyatukannya, Indonesai butuh pengikat agar semua batang keberagaman tersebut dapat terangkul dalam satu pilar negara sebagai unsur pemersatu bangsa. Telah kita ketahui, pendiri bangsa ini telah merumuskan satu pilar atas dasar keberagaman dan kemajemukkan yang kita sebut Bhinneka Tunggal Ika (Unity In Diversity): berbeda-beda tetapi tetap satu jua. 

Simbol kebhinekaan ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya raya. Ya kaya dalam artian keberagamaan budaya. Kita pantas berbangga diri dengan kekayaan dalam keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia. Multikulturalisme yang dimiliki Indonesia menjadi kekayaan tak ternilai harganya. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat kaya akan sumber daya, budaya dan kesenian. Sebagai gambaran, negara yang berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa dengan 1.128 suku bangsa dan 741 bahasa. Tentu dari keberagaman ini lahir  maha karya besar dari masing-masing budaya. Terbukti Indonesia memiliki berbagai macam tradisi, seperti tradisi penikahan  adat Jawa, pernikahan adat Gorontalo, pernikahan adat Lombok dan masih banyak lagi. Kesemua tradisi tersebut memiliki perbedaan dari segi tata cara pelaksanaannya. Belum lagi dari jenis tarian Indonesia yang begitu banyak. Hampir seluruh daerah memiliki tarian daerah. Begitu juga pakaian adat dan rumah adat. Jika kita selami seluruhnya, maka Indonesia benar-benar pantas sebagai penyandang negara dengan kebudayaan terkaya di dunia.
Agaknya, perlu kita selami kembali makna keberagaman itu sendiri. Nyatanya, keberagaman selain sebagai kekayaan juga sebagai tantangan. Sebagai negara Indonesia yang baik, seharusnya kita tidak boleh terlalu lama terlena dalam balutan kata-kata manis, balutan kebanggaaan sebagai negara dengan kekayaan budaya terbesar. Kita perlu menengok kedepan, bahwa negara ini sebenarnya mengantongi ratusan tantangan. Tantangan terbesar bangsa, justru pada keberagaman itu sendiri.
Disadari ataupun tidak, keberagaman kerap bersinggungan dengan konflik horizontal. Bahkan, bukan sesuatu yang baru jika keberagamanlah ujung pangkal dari sebuah konflik horizontal yang kerap menghujani bumi nusantara.
Perbedaan perspektif kerap kali menjadi pemicu konflik antar-golongan. Konflik antar golongan atau lebih populer disebut konflik rasial. Perbedaan persepktif yang muncul karena perbedaan suku, agama, budaya, tradisi, bahasa hingga adat, bisa menjadi pemicu munculnya sentimentil agama, suku-etnik, bahasa dan sebagainya. Sentimentil semacam itu sering kita sebut sebagai sikap rasialisme. Sikap yang menganggap golongannyalah yang terbaik dan dan menganggap buruk atau jelek golongan lain. Sikap semacam inilah yang menjadi akar konflik yang kini mulai menjamur di nusantara. Antar-golongan sama-sama mengaggap sebagai yang paling benar. Jika masing-masing golongan akan mempertahankan pandangan mereka, tanpa ada yang mengalah. Maka konflik bisa saja terjadi. Seperti konflik sentimentil agama yang terjadi di Poso, sulawesi tengah beberapa tahun silam. Konflik di kesukuan di Papua, dan masih banyak lagi konflik yang dipicu oleh keberagaman dan perbedaan persepketif masyarakat yang diakibatkan oleh sikap rasialisme.
Sungguh sangat disayangkan, jika perbedaan disalah artikan. Ketika keberagaman dinilai sebagai sesuatu yang mendatangkan malapetaka. Perlu disadari, bahwa konflik yang terjadi di bumi pertiwi seharusnya tak dapat disandingakan dengan keberagaman yang ada. Yakinilah, bahwa frekuensi konflik yang terjadi masih tergolong rendah jika disandingkan dengan tingkat keberagaman dan kemajemukan kebudayaan Indonesia.
Indonesia harus mulai memikirkan bagaimana mengubah tantangan menjadi sebuah kekuatan. Multikulturasilme Indonesia yang menjadi kekayaan terbesar bangsa disebut-sebut sebagai pemicu konflik rasial. Kesalahan perspektif inilah yang perlu diluruskan.
Multikulturalisme bukan pemicu konflik melainkan merupakan kekuatan bangsa dalam menghadapi berbagai arang dan rintangan serta dalam mengarungi labirin kehidupan bangsa, terutama dalam upaya pembangunan bangsa seutuhnya.
Keberagaman yang lahir dari perbedaan budaya Indonesia merupakan modal penting dalam kemajuan bangsa. Kebudayaan  menjadi kunci suatu bangsa untuk mengatasi segala kesulitan dan masalah-masalah yang timbul, terutama di era globalisasi. Perlu kita sadari, sesungguhnya di dalam multikulturalisme tersembunyi kekuatan yang muncul dari budaya yang berjenis-jenis. Setiap budaya memiliki kekuatan tersendiri. Itu sebabnya budaya satu membutuhkan budaya yang lain. Ibarat sebuah rantai, kita terikat dan saling kait antara satu mata rantai dan lainnya. Jika perbedaan dan keberagaman itu disatukan, tentu akan menjadi sebuah kekuatan maha dasyat dalam melawan arus negatif globalisasi yang menawarkan monokultural. Banyangkan, seandainya Indonesia hanya terdiri dari satu suku, adat, bahasa, agama, budaya atau monokulturalisme. Maka Indonesia akan mudah disapu oleh bangsa lain. mungkin saja, detik ini kita masih harus berjuang dengan bambu runcing melawan penjajah. Nyatanya Indonesia dianugrahi  dengan keberagaman dan kemajemukkan atau multikulturalisme.
Hakekatnya, multikulturalismelah yang membuat Indonesia kuat dan mampu melawan penjajah, karena ketika golongan yang satu kalah, maka golongan yang lain akan bahu membahu melawan. Sehingga kelemahan satu golongan akan tertutupi oleh golongan lain. itulah makna multikulturalisme yang sesungguhnya.
Di era globalisasi ini, makna perbedaan adalah anugrah Tuhan yang terbesar memang telah disalahartikan. Hal demikian itu disebabkan oleh munculnya sikap rasialisme. Memang tak dipungkiri rasialisme memang merupakan racun paling ampuh dalam melunturkan multikulturalisme. Jika suatu negara telah terinfeksi racun, tentu ia membutuhkan sebuah penawar. Penawar paling ampuh dalam upaya menangkal rasialisme adalah dengan kembali menguatkan makna keberagaman itu sendiri. Baik dari segi suku, budaya, agama, bahasa, adat-istiadat. Kesemua itu menunjukkan identitas kita sebagai warga negara Indonesia. Disamping itu, masyarakat perlu ditanamkan sikap Bhineka Tunggal Ika sejak dini, agar mengerti bahwa keberagaman adalah anugrah Tuhan yang terindah.
           

Agar Badak Jawa Gak Pusing Pala Barbie

   Tidak ada komentar     
categories: 
Istilah “Pusing Pala Barbie” mugkin cocok untuk menggambarkan kehidupan Badak Jawa yang kian
hari kian memprihatinkan. Hal ini karena jumlah mereka yang semakin menyusut dan terdesak. Dewasa ini, permasalahan yang paling intens dibicarakan adalah mengenai mengadaan rumah yang nyaman untuk keberlangsungan hidup Badak Jawa.
Upaya menyediakan rumah yang nyaman dan aman bagi binatang bernama Badak Jawa ini tidak dapat ditunda lagi. Deretan panjang ancaman kepunahannya seharusnya menjadi perhatian berbagai pihak. Kehidupan di hutan belantara sudah tak lagi menjadi urutan nomer satu, mengingat banyaknya pemburuan liar terhadap hewan langka ini.
Berbagai hal telah diupayakan guna menemukan rumah yang memadai untuk keberlangsungan episode kehidupan Badak Jawa,  terutama Badak Jawa yang sudah terancam punah. Di Indonesia, populasi Badak Jawa Jawa bisa di temukan di Taman Nasional Ujung Kulon  dengan jumlah yang sangat sedikit, hanya sekitar 60 ekor.
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan wilayah yang  cocok untuk habitat Badak Jawa. Namun, perlu dipertimbangkan lagi untuk membiarkan Badak Jawa bertahan di Taman Nasional Ujung Kulon. Mengingat lokasi Taman Nasional Ujung Kulon yang berdekatan dengan Gunung Krakatau yang suatu waktu dapat meletus dan menghancurkan populasi hewan langka ini. Disamping itu, di Taman Nasional Ujung Kulon Badak Jawa Jawa harus hidup dengan dua kekhwatiran besar, yaitu ancaman pemburu gelap yang menginginkan cula mereka dan jumlah asupan pakan alami yang kurang, karena Badak Jawa harus bersaing dengan Banteng yang jumlahnya lebih besar dibandingkan Badak Jawa.
Melihat penomena tersebut, maka keputusan untuk menemukan rumah baru bagi Badak Jawa sangat perlu di lakukan, mengingat populasi Badak Jawa yang semakin terdesak. Berdasarkan penelitian awal WFF, tersebutlah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat sebagai rumah kedua yang cocok untuk Badak Jawa, karena lokasinya yang tidak terlalu jauh serta pernah menjadi habitat Badak Jawa.
Taman Nasional Halimun di Gunung Salak dianggap lebih nyaman untuk rumah Badak Jawa. Hal ini karena Badak Jawa bisa bebas mencari makan tanpa harus khawatir bersaing dengan Banteng seperti di Taman Nasional Ujung Kulon. Hal lain yang menjadi pertimbangan untuk memilih Taman Nasional Halimun di Gunung Salak sebagai lokasi baru untuk rumah Badak Jawa, karena topografi Taman Nasional Halimun di Gunung Salak sangat sesuai dengan habitat Badak Jawa. Selain itu, lokasi Taman Nasional Halimun di Gunung Salak juga berada jauh dari gunung berapi, sehingga populasi Badak Jawa dirasa lebih aman berada di Taman Nasional Halimun di Gunung Salak dibandingkan tetap berada di Taman Nasional Ujung Kulon.
Seperti halnya manusia ketika hendak pindah ke rumah baru, mereka butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi rumah barunya. Begitu pula dengan Badak Jawa. Bukan perkara mudah memindah Badak Jawa dari Taman Nasional Ujung Kulon ke Taman Nasional Halimun di Gunung Salak. Kekhawatiran terbesar adalah Badak Jawa tidak mampu beradaptasi dengan habitat baru mereka. Namun, ada bebarapa hal yang bisa dilakukan guna mengoptimalkan pemindahan rumah Badak Jawadan tentunya membuat mereka nyaman di rumah baru. Adapun hal-hal tersebut, yaitu :
1.      Optimalisasi Kubangan yang nyaman. Mengingat Indonesia sekarang berada dalam musim kemarau, maka perlu adanya upaya dari pemerintah maupun masyarakat untuk turut menjaga ketersediaan air bagi Badak Jawa. Adapun upaya yang dilakukan dengan rutin mengontrol daerah kubangan. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terjadi kekeringan di daerah kubangan. Jika didapati kubangan dalam kondisi kering, maka petugas perlu melakukan penyaluran air menuju tempat-tempat kubangan tersebut. Disamping itu, untuk menjaga kubangan tetap terisi air, dapat dilakukan dengan penggalian sumur di dekat kubangan yang berfungsi sebagai lokasi cadangan air, jika suatu waktu kubangan mengalami kekeringan. Kubangan yang nyaman akan mampu meminimalisir tingkat stres Badak Jawa, karena binatang yang satu ini umumnya lebih suka berlama-lama dalam kubangan. Selain untuk menjaga suhu tubuh, berkubang di lumpur juga dapat mencegah penyakit dan parasit.
2.      Sistem keamanan habitat baru perku ditingkatkan, agar meminimalisir aksi pemburuan liar dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memasang kamera pengintai lebih banyak. Sebagai catatan, sebelum melakukan pemasangan kamera pengintai, petugas harus mengetahui jalur-jalur yang biasa dilalui Badak Jawa. Nah, upayakan agar kamrea pengintai dipasang di jalur-jalur yang biasa dilalui Badak Jawa.
3.      Kedepan, Badak Jawa akan berada di Taman Nasional Halimun Gunung Salak yang juga merupakan lokasi wisata, maka ada baiknya petugas menyiapkan jalur khusus untuk pengunjung agar tidak mengganggu aktivitas Badak Jawa. Kita ketahui bersama, bahwa sifat dasar Badak Jawa adalah tenang dan pemalu, kecuali sedang berkembang biak atau seekor induk yang sedang mengasuh anakknya.
4.      Pengelolaan Taman Nasional Halimun Gunung Salak juga harus memperhatikan ketersediaan pakan alami Badak Jawa. Di Taman Nasional Ujung Kulon ketersediaan pakan alami Badak Jawa sangat minim. Hal ini disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan tanaman Invasi langkap (Arenga Obtusifolia) di sekitar lokasi tumbuhnya pakan alami Badak Jawa. Tumbuhan tersebut menghalangi masuknya sinar matahari yang akhirnya menghambat tumbuhnya semak-semak dan ranting yang menjadi pakan alami Badak Jawa.
            Demikianlah upaya yang dapat dilakukan untuk optimalisai rumah yang nyaman bagi Badak Jawa. Intinya, setiap mahluk hidup akan merasa aman dan nyaman jika kebutuhan pokok mereka telah terpenuhi. Oleh karena itu, upaya yang dapat kita lakukan dalam rangka mendukung perkembangbiakan dan kenyamanan Badak Jawa adalah dengan memenuhi kebutuhan pokok Badak Jawa berupa penyedian pangan yang memadai serta rumah yang nyaman yang terbebas dari ancaman dan ganguan pihak lain, baik binatang lain maupun manusia.
            Terakhir, upaya pelesatrian Badak Jawa harus terus digencarkan, baik dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat maupun dengan aksi-aksi yang mendukung pelestarian Badak Jawa. Kegiatan lomba menulis ini juga merupakan upaya yang sangat tepat dalam menyosialisasikan pelestraian Badak Jawa di masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu mendukung situ-situs edukasi seperti vivo.co.id serta organisasi pemeduli Badak Jawa seperti WFF.   

By : Fatima Az Zahra
Salah satu Esai saya yang dimuat di www.viva.co.id

Memperkasakan Literasi Agar Terpelihara Generasi

   Tidak ada komentar     
categories: 
Literasi bukan merupakan sesuatu yang asing bagi kita, terlebih lagi bagi mereka yang menyandang profesi keguruan, khususnya guru bahasa, entah itu bahasa Indonesia, bahasa Daerah maupun bahasa Asing. Bagi kaum akademik, literasi bisa dikatakan sebagai makanan keseharian mereka, meski hanya berupa sebuah tugas rumah yang diberikan dosen kepada mahasiswanya atau guru kepada siswanya. Lalu sejauh mana literasi yang kita pahami? Apakah hanya terbatas pada kegiatan baca-tulis yang kita kenal selama ini? 
            Literasi memang identik dengan dunia membaca dan menulis. Bahkan sebagian orang kerap menyebutkan kegiatan literasi dengan kegiatan membuat cerpen, menulis puisi, membaca dan kegiatan berbau kebahasaan lainnya. Lantas, apa sebenarnya literasi dalam makna yang sesungguhnya? Saya mengutip pendapat Koiichiro Matsuura, Director-General UNESCO, beliau menjelaskan bahwa literasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi mencakup bagaimana berkomunikasi dalam masyarakat, terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.
Berdasarkan penjelasan Koiichiro Matsuura, literasi memang tidak hanya melulu tentang dunia membaca dan menulis. Lebih dari itu, dunia literasi dapat menjadi sebuah wujud keberadaan bangsa. Mengapa saya katakan demikian? Apa hubungannya literasi dengan keberadaan bangsa?
Forum Lingkar Pena Bersama Bundaku Baca Gorontalo
Jelas ada hubungannya, jika ditarik dari makna literasi, di situ terdapat  makna literasi sebagai sebuah bahasa dan alat komunikasi antar-masyarakat. Tentu kita masih ingat penggalan Ikrar Sumpah Pemuda “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Bahasa sendiri merupakan wujud dari keberadaan bangsa. Karena tanpa bahasa, tentu tidak ada komunikasi, tidak ada kaum yang memerintah maupun kaum yang diperintah. Artinya, tidak ada negara. Jadi, literasi dalam hal ini juga merupakan aspek pemersatu yang merupa kan cikal bakal lahirnya suatu bangsa.
Disamping itu, bangsa yang maju tidak bisa dibangun dengan hanya mengandalkan kekayaan alam yang melimpah ataupun pengelolaan negara yang baik. Akan tetapi, didapat juga dari peradaban tulisan atau penguasaan literasi yang dapat menjembatani peradaban dari  generasi ke genarasi barunya. Perjalanan suatu bangsa dapat diketehui oleh generasi berikutnya melalui ulasan sejarah yang mereka temukan dalam buku-buku. Buku sejarah dapat mudah ditemukan karena jasa penggiat literasi terdahulu. Merekalah yang bersuka rela membukukan dan menulis setiap penggal sejarah perjalanan bangsa ini. Coba kita banyangkan, andai kata nenek moyang kita tidak pernah berinisiatif untuk menulis ataupun membukukan kisah perjalanan hidup mereka, tentu sampai detik ini kita tidak akan pernah mengetahui jikalau Indonesia pernah merdeka di tahun 1945.
Berdasarkan paparan tersebut. Literasi merupakan hal yang urgen ada dan harus dikembangkan oleh suatu bangsa. Namun sungguh disayangkan, negara dengan jumlah kebudayaan serta keberagamaan tutur bahasa yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Perkembangan akan dunia literasi terkesan lamban bahkan hampir tidak diminati, khususnya bagi generasi muda. Mereka lebih tertarik dengan dunia visual dibandingkan dengan dunia literasi, sehingga menonton dianggap lebih ngetop dibandingkan membaca.
Hal demikian memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena memang Indonesia lebih dahulu dipengaruhi oleh dunia visual dibandingkan dengan dunia litarasi. Akibatnya, masyarakat khususnya generasi muda lebih dominan memilih menonton dibandingkan membaca buku. Meskipun tidak salah sepenuhnya, ketidakpekaan generasi muda terhadap literasi harus mendapatkan perhatian yang serius. Sebab jika dibiarkan, maka bisa dipastikan dalam kurun waktu yang tidak lama, literasi di Indonesia akan berakhir seiring dengan bergantinya generasi ke generasi berikutnya.
Negara tentu tidak ingin mewariskan generasi yang lemah. Generasi yang mudah melupakan sejarah bangsanya. Menyikapi hal tersebut, setidaknya ada dua solusi yang bisa kita lakukan dalam upaya memperkasakan kembali literasi yang mulai luntur, khususnya di kalangan generasi muda. Salah satunya adalah melalui kegiatan menulis buku harian. Menulis buku harian secara sepintas terlihat sangat sepele, tapi dampak dari kebiasaan menulis buku harian sejak dini bisa menumbuhkan kegemaran literasi bagi anak. Banyak tokoh besar yang lahir menjadi seorang penulis yang berangkat dari kebiasaan menulis buku harian salah satunya adalah Raditya Dika. Penulis yang kebanyakan karyanaya mengandung komedi itu, memulai karir kepenulisannya di dunia Blogger yang tak jauh beda dengan buku harian atau diary.
Disamping membiasakan menulis buku harian, memperkasakan kembali literasi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi perpustakaan. Perpustakaan dipahami sebagai sarana yang menyediakan penggalian informasi secara lengkap dan tepat. Di sana, anda akan menemukan beragam informasi yang disajikan melalui buku-buku maupun internet yang beragam jenisnya. mengoptimalkan kebedaradaan perpustakaan menjadi hal yang harus diperhitungkan bagi pemerintah.   
Sayangnya, persoalan mengenai optimalisasi perpustakan agaknya belum menjadi topik utama pemerintah dalam upaya memperkasakan literasi di kalangan generasi muda. Pemerintah terkesan hanya menyuruh atau mendorog badan bahasa atau organisasi kebahasaan lainnya untuk berupaya meningkatkan minat literasi masyarakat terutama generasi muda. Akan tetapi, pemerintah tidak mendukung secara penuh hal tersebut. Jika demikian, pemerintah bisa dikatakan bermimpi untuk mewujudkan generasi literasi yang unggul. Sedangkan perhatian pemerintah terhadapan kepustakaan masih dianaktirikan.
Nasib perpustakaan sastra yang dianaktirikan dirasakan pula oleh sebuah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di taman Ismail Marjuki. PDS tersebut Terancam akan ditutup karena kurang mendapat kucuran dana dari pemerintah. Meskipun, dokumentasi sastra tersebut merupakan milik pribadi, setidaknya pemerintah harus turut menjaga hasil karya sastra anak bangsa dengan turut memeliharnya melalui subsidi dana untuk pengelolaannya.
Persoalan mengenai PDS HB Jassin yang teraccam tutup merupakan segelintir kecil masalah dokumentasi sastra Indonesia. Masalah itu membuktikan jika kepustakaan di Indonesia masih dikesampingkan. Apa jadinya jika pusat-pusat dokumentasi sastra tidak ada, apakah bangsa ini masih mengenal sejarah sastra? Seiring tidak dikenalnya sejarah sastra, maka perkembangan litarasi di Indonesia akan lambat bahkan mungkin saja akan punah, begitu pun dengan perkembangan generasi. Generasi berikutnya bisa jadi tak mengenal karya sastra ataupun dunia literasi. Mereka akan lebih mengenal dunia visual sebagaimana yang telah terjadi sekarang ini. Televisi, radio, game dan berbagai media visual lainnya seolah memiliki tempat tersendiri di hati para remaja dan anak-anak. Mereka lebih menghapal judul film dibandingkan judul buku.
Jadi, di sinilah dibutuhkan setidaknya dua peran elemen masyarakat, yaitu pemerintah dan masyarakat itu sendiri untuk turut menjaga dan mengembangkan dunia literasi melalui kegiatan menulis buku harian sejak dini serta optimalisasi fungsi perpustakaan. Hal ini dimaksudkan agar generasi kedepan bisa mencicipi sastra sastra sebelum mereka, bahkan bisa menjadi penggiat-penggiat literasi yang akan menyelamatkan bangsa dari kepunahan karya sastra. Disamping itu, kegiatan literasi sejak dini dapat menjadi benteng pertahanan masa depan dalam menangkal budaya globalisasi yang menyuguhkan kehidupan instan yang berpangkal dari seringnya menonton dibanding membaca. Selanjutnya, generasi yang terbaik adalah generasi yang mengetahui sejarah bangsanya serta belajar dari sejarah itu. Sejarah bangsa bisa tertulis atau tidak, itu berada di ujung pena penggiat literasi.  

Jika Ia Rina

            “Semua tas letakkan di atas meja!”
Suara Pak Guru tiba-tiba membuat ribut seisi kelas. Tampak tegang
“Cepat!” Pak guru gigih membentak para siswa yang masih terlihat memegangi tas mereka.
 “Hari ini, Andra kehilangan uang. Jadi bapak harus menggeledah isi tas kalian. Jangan sampai bapak temukan uang itu ada di salah satu tas yang berjejer di atas meja ini!” Tukasnya sedikit menggeram.
Setelah semua tas anak-anak digeladah. Pandangan Dewan Guru tertuju pada satu siswa. Dialah Rina anak si Tukang Bakso yang selalu nunggak membayar SPP. Kabarnya bulan ini dia kembali menunggak.
“Rin, Kenapa tidak berikan tas itu kepada kami?” Bujuk Pak Guru dengan nada lembut.
Pak Guru memahami keseharian gadis bermata sipit itu. Gadis yang selalu periang dan gemar membantu sahabatnya. Wajahnya selalu ceria meski temannya kerap mengejek. Tapi tunggu. Agaknya gelagak gadis itu sedikit aneh. Tak sedikitpun ia membiarkan seseorang menyentuh tas lusuhnya. Bahkan meski semua tas sekawannya telah dieksekusi Dewan Guru. Ia tak melepas genggaman tangannya
“Rin, ayolah…! Bapak hanya ingin memeriksa tasmu  Nak!” Kali ini nada bicara Pak Ogat sedikit meninggi. Semua Dewan Guru semakin gusar.
“Jangan-jangan anak ini?” Dewan Guru mulai berguman.
Tapi jika bukan karena ada hal yang mencurigakan. Mengapa tak ia biarkan saja Dewan Guru memeriksa tas miliknya. Tentu ada hal yang aneh. Ini tidak wajar. Tak biasanya ia membangkang. Suasana kelas menjadi semakin ribut. Para siswa mulai berbisik. Pandangan mereka kali ini hanya tertuju pada sosok gadis yang hanya diam merunduk. Tampak tubuhnya amat gemetar.
“Sudah jelas. Dialah pelakunya. Mungkin saja karena ia belum membayar SPP bulan ini.” Salah seorang guru mulai angkat bicara.
“Ah...!  Sudahlah  Rin.  Kamu jangan membuat kami penasaran!”  Kali ini Pak Ogat menarik paksa tas gadis itu.
“Tolong jangan dibuka tas saya Pak!” Rina terbata-bata. Ucapan Gadis itu tak begitu terdengar. Kristal bening mulai jatuh dari kelopak matanya.
“Tidak apa! Bapak hanya mau membuka tasmu. Toh kalau bukan kamu pelakunya. Kami juga tak ‘kan menghukummu.” Tangan Rina masih memegang ujung kemeja Pak Ogat, sesaat sebelum Pak Ogat menarik paksa tas dalam genggamannya.
“Pak saya malu!” Tukasnya sedikit memelas.
“Loh malu kenapa?” Pak Ogat semakin bingung.
“Kalau begitu biarkan bapak membuka tas ini…!” Lanjut pria setengah baya itu.
Semua siswa di kelas XII tanpak cemas. Mereka tentu berpikir bahwa akan ada berita heboh di sekolah mereka. Ya Rina mencuri. Ketika tas dibuka. Sebuah benda putih menggintip dari sela-sela tas yang mulai rusak termakan usia. Seisi tas Rina dikeluarkan. Tinggal satu benda yang belum terbuka. Kantong plastik putih yang tak begitu istimewa.
“Apa ini?”
Sejurus kemudian semua siswa mengerumuni Rina dan Pak Ogat. Rupanya mereka benar-benar dibuat penasaran dengan sikap Rina yang tak membiarkan siapapun menyentuh tasnya. Tapi bukan hanya hari ini. Hampir setiap hari gadis itu tak membiarkan teman-temannya menyentuh, terlebih lagi membuka tas miliknnya. Dan hari ini, mereka menemukan jawabannya. Pak Ogat menggeleng.
“Hanya ini? Kenapa kamu malu Rin?”
“Ia Pak, saya malu kalau teman-teman tahu sering mengambil sisa makanan di kantin buat makan siang Pak!” Pak Ogat memeluk itu.
“Maafkan kami sudah berprasangka buruk padamu!”

Jangan Jadi Mahasiswa Biasa : “Unstoped Dreaming With LDK SKI UNG”

   Tidak ada komentar     
categories: 
LDK, panjangnya Lembaga Dakwah Kampus. Pernah dengar? Pasti pernah dong! Kesan mendengar nama LDK disebut? Biar saya tebak. Pertama, kalian pasti bilang “ih kegiatannya Cuma ke kampus dan ke masjid alias Cuma dakwah. Uhh ngebosenin, gak kece”. Kedua, kalian juga bilang ”serem banget harus pakai jilbab besar, aduuh aku yang pakai jilbab kecil aja kepanasan apa lagi mau pakai yang besar.

Eits tunggu dulu, jangan lihat dari covernya dong. Kegiatan LDK gak kaku seperti yang sahabat bahasakan tadi. Nih biar dijelasin sedikit, LDK pastinya merupakan organisasi intra kampus, sama halnya dengan Senat, HMJ dan BEM. Tapi, kami memiliki satu warna yang menjadi pembeda antara LDK dan organisasi lain. Orientasi terbesar anak LDK adalah mengembara dimuka bumi tapi tetap bermuara pada Ridho-Nya. Di LDK diajarkan bagaimana mahasiswa mampu untuk mengatur waktu, bukan waktu yang mengatur mahasiswa. 
 

Masih bingung dengan makna kalimat yang bergaris bawah di atas? 
Gini nih, pasti sebagai mahasiswa kita menginginkan hal-hal yang besar, mulai dari impian besar, kehidupan yang mapan, sampai pada hal terkecil sekalipun. Bagaimana kita tidak harus dipusingkan dengan tugas kuliah yang numpuk. Padahal mahasiswa ya sahabatnya memang tugas, kalau gak mau dapat tugas, kenapa milih resiko untuk kuliah? Hehe bercanda. Lanjut ya, tentunya untuk mewujudkan hal-hal besar tersebut. Kita akan melakukan hal besar pula.                                                                                          
   “Never give up on what you really to do. The person with big dreams is more powerful then the on with all the facts” .Albert Eistein

Kapan kita mampu melakukan hal besar tersebut? Jawabannya adalah ketika kita mampu mengatur waktu yang kita miliki. maka setiap kegiatan akan bernilai besar. Nah itu lah salah satu motto anak LDK, menyibukkan diri dengan kebaikan agar tidak disibukkan dengan keburukan. 

Sebagai mahasiswa, menjadi sibuk adalah teman hidup. dengan menyibukkan diri berarti kita terhindar dari kesia-siaan waktu. Tapi pernah tidak kita berfikir bahwa kesibukkan yang kita lakukan kemudian akan mendatangkan manfaat? Let's pikirkan!

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad, Thabrani, Darutqutni)

Nah, sobat sekalian. Menyibukkan diri dalam aktivitas yang bermanfaat dapat membentuk karakter kita menjadi orang yang bermanfaat pula lo. Tapi, ingat dulu. Ketika kita disibukkan dengan aktivitas dakwah alias ngajak orang menuju kebaikkan, tidak berarti kita meninggalkan amanah orang tua, kuliah.iyalah. Ingatlah ketika kita menolong saudara kita, maka sama halnya dengan menolong Allah.

”... Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S Muhammad :7) 

Pada hakekatnya mahasiswa selalu berfikir bagaimana menjadi baik dan sukses. Sementara keseharian tak mendukung kalimat sukses yang selalu terlontar. Nah, coba deh mulai berfikir. Atur sedemikian mungkin waktu dan kegiatan yang sahabat miliki. Coba mulai biasakan diri dengan hal yang bermanfaat bukan kesia-siaan

Mula-mula manusia akan membentuk sebuah kebiasaan, lama-lama kebiasaanlah yang akan membentuk manusia tersebut”

So, siap biasakan diri dengan kebaikkan? LDK menanti! Di sinilah bejana yang siap menampung segala aspirasi sahabat. Bengkel paling ampuh untuk memperbaiki mindset hidup mahasiswa pada umumnya.

“Anda di masa datang adalah apa yang anda lakukan saat ini”
So Ayo Lakukan hal-hal terbaik untuk masa depan kita, guesss

Senin, 29 Agustus 2016

Putri Mandalika : The Legend Princess of Lombok

   Tidak ada komentar     
categories: 

Kecantikan tak mesti anugerah, terkadang ia menjadi malapetaka bagi pemiliknya
Itulah yang diyakini oleh Putri Mandalika. Anak dari sepasang raja dan ratu yang arif lagi bijaksana. Adalah mereka Raja Tonjang Beru dan Ratu Dewi Seranting yang juga memerintah Kerajaan Tonjang Beru pada masanya. 


Kerajaan Tonjang Beru begitu damai. Rakyat hidup bahagia dan sejahtera, tak kurang sesuatu apapun. Semua hidup dalam kedamaian dan kasih mengasihi. Hingga bau peperangan dan permusuhan tak pernah tercium.  Kebahagiaan rakyat Tonjang Beru semakin lengkap kala putri yang anggun lagi baik hati lahir dari raja dan ratu pujaan mereka. Putri itu bernama Mandalika.
Seiring berjalannya waktu, raut-raut kecantikan sang putri kecil mulai nampak. Kecantikan itu semakin sempurna ketika sang putri beranjak dewasa. Selain rupanya yang cantik, Putri Mandalika ternyata mewarisi kewibawaan kedua orang tuanya. Jadilah Putri Mandalika dicintai oleh seluruh rakyat Kerajaan Tonjang Beru, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Semua mengagumi kearifan dan kecantikan sang putri. Begitu juga dengan para pangeran dari berbagai kerajaan. Mereka sungguh penasaran akan kecantikkan dan kearifan sang putri. Akhirnya silih berganti pangeran datang di istana Tonjang Beru. Mereka datang untuk satu tujuan, melamar Putri Mandalika.
Bukannya bahagia mendapat lamaran dari banyak pangeran, dicintai seluruh rakyat negeri, sang putri justru amat sedih. Ternyata kecantikan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya menjadi petaka besar. Kecantikan membuatnya diincar para pangeran di seluruh daratan Pulau Lombok. Mulai dari Kerajaan Johor, Lipur, Kuripan, Pane, Beru dan Kerajaan Daha. Semua jatuh hati kepadanya. Mereka berebut untuk memperistri si putri jelita. Namun tak mungkin seorang putri menerima lamaran dari banyak pangeran. Selain pertimbangan cinta, ia juga tak ingin memilih salah satu di antara para pangeran. Jika ia memilih satu, maka pangeran yang lain akan iri dan sakit hati.  
            Keputusan pun ditetapkan, putri tak akan menerima lamaran dari pangeran manapun, keputusan itu membuat para pangeran di seluruh negeri gigit jari. Upaya memperistri putri yang cantik jelita pupuslah sudah.
Rupaya tak semua pangeran mampu berlapang dada. Mengetahui bahwa putri tak ingin menerima lamaran semua pangeran,  dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dari Kerajaan Johor dan Pengeran Maliawang dari Kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya Kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolak. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman serupa. Pagi-pagi buta mereka sudah mendatangi Kerajaan Tonjang Beru. Kedua utusan pangeran itu datang dengan iring-iringan pasukan.
            Seperti biasa, kedatangan mereka disambut baik oleh Kerajaan Tonjang Beru. Dewi Seranting yang tak lain adalah ibu dari Mandalika mempersiapkan jamuan untuk para tamu terhormatnya. Ia tak ingin mengecawakan tamu yang telah datang jauh-jauh hanya untuk menemui putrinnya.
            Setelah diterima oleh Kerajaan Tonjang Beru. Kedua utusan tersebut kemudian menyampaikan hajat masing-masing. Diawali dengan utusan dari pangeran Datu Teruna yaitu Arya Bawal.
“Raja Tonjang Beru yang terhormat. Kami datang kemari atas utusan dari pangeran kami, Datu Teruna. Beliau menginginkan putrimu menjadi istrinya. Bagaimana pendapat tuan raja mengenai hajat pangeran kami?”
“Aku hanyalah seorang ayah. Keputusan mengenai siapa yang akan menjadi suami Mandalika, semuanya kuserahkan pada putriku. Karena kebahagiaannya adalah kebahagiaan Kejaraan Tonjang Beru. jawab raja penuh wibawa
            Kali ini, Putri Mandalika angkat bicara.
Karena kuasa memilih telah diberikan kepadaku. Dengan berat hati dan beribu ampun aku menolak lamaran ini!” jelas Putri Mandalika singkat
            Mendengar tutur kata sang putri, Arya Bawal menjadi naik pitam.
“Jika putri tidak bersedia menerima lamaran dari pangeran Datu Teruna, maka tunggu kehancuran dan malapetaka besar yang akan menimpa kerjaan dan seluruh rakyat Tonjang Beru.
Arya Tebuik ikut andil bicara, ia gigih mengancam raja.
            Dewi Seranting yang sedari tadi turut menyimak jalannya  perbincangan itu tersentak kaget. Bagaimana pengeran Datu Teruna bisa sekejam itu. Ia bahkan mengancam menghancurkan Kerajaaan Tonjang Beru.
Ternyata tak hanya utusan dari Pangeran Datu Teruna yang berkata demikian. Arya Bumbang selaku utusan dari Pangeran Maliawang pun melakukan ancaman.
Raja, begitupun dengan maksud kedatangan kami di sini. Kami ingin melamar Putri Mandalika untuk dijadikan istri Pangeran Maliawang. Namun jika putri juga menolak lamaran Pangeran Maliawang sebagaimana putri menolak lamaran Pangeran Datu Teruna, maka kami juga mengancam dengan hal yang sama. Menghancurkan dan meluluhlantakkan kerjaan serta rakyat Tonjang Beru selama-lamanya.”
Tidak! Putri Mandalika hanya akan diperistri oleh Pengeran Datu Teruna!” Tukas Arya Tebuik memanaskan suasana.
“Hai, Kalau Kalian tetap nekat menjadi lawan dari pangeran kami, maka langkahi dulu mayat ini” Arya Bumbang mengacungkan pedang
Merasa diremehkan Arya Tebuik ikut mengeluarkan senjata andalannya. Kelewang[1] yang sudah berdiam lama di pinggangnya itu ia acungkan, bahkan lebih tinggi dari acungan Arya Bumbang.
“Yaaakkk...!”
“Sriiingg...!”
Suara pedang keduanya beradu hingga terdengar di seluruh sudut istana. Raja Tonjang Beru panik.
“Hentikan...! Kuperintahkan kalian untuk berhenti!” tukas Raja.
Seisi ruangan mematung. Begitu juga dengan dua utusan yang sudah termakan emosi.
“Apakah kalian kemari untuk melamar putriku ataukah menunjukkan keperkasaan kalian?” raja melanjutkan ucapannya
“Maafkan kami tuan raja! Kami terbawa emosi” balas kedua utusan tersebut.
“Pergilah kalian dari kerajaan ini! Aku tak ingin melihat keributan dan perkelahian. Biarkan putriku memikirkan hajat kalian.” tutup raja
Belum lagi kedua utusan itu beranjak melangkahi pintu istana, putri tiba-tiba berdiri. Mereka mengira putri sudah mengambil keputusan. Siapa yang akan diterimanya.
“Tunggu! Beri aku waktu tujuh hari untuk mempertimbangkan semua ini. Setelah itu akan kuberi tahu keputusan mana yang akan kuambil.”
            “Baiklah tuan Putri, jika itu permintaanmu, kami akan menunggu hingga tujuh hari setelah pertemuan ini. Namun jika tidak, maka sesuai ancaman. Kerajaan ini akan kami hancurkan beserta seluruh rakyatnya.”
            Ancaman itu mengiris hati raja. Betapa ia tak menyangka, hanya karena kecantikkan putrinya, nasib rakyat menjadi taruhan. Tapi, Raja tak mungkin akan menyalahkan putri semata wayangnya, karena Putri Mandalika memang tak sepatutnya disalahkan atas perkara ini.
***
Kedua pangeran yang mendapat laporan dari masing-masing utusan ternyata tak sabar menunggu hingga hari ketujuh. Dengan licik mereka mengirim senggeger[2] agar sang putri jatuh hati kepada mereka. Tanpa diketahui, pangeran Datu Teruna mengirim Senggeger Utusaning Allah untuk memikat Putri Mandalika. Begitu juga pangeran Maliawang yang meniup senggeger Jaring Sutra. Kedua senggeger ini terkenal sangat ampuh dan sakti. Namun di luar dugaan mereka, kekuatan kedua senggeger itu tak mampu menembus Putri Mandalika. Hingga kedua wajah mereka muncul berbarengan di hadap sang putri.
            Mengetahui aksi mereka gagal. Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang menjadi semakin geram. Mereka sudah tak sabar memperistri putri yang cantik jelita lagi sakti tersebut.
            Meski senggeger itu tak mempan menembus sang putri, ia tetap bingung. Keputusan apa yang akan diambilnya.
“Jika aku memilih di antara keduanya, atau tak memilih keduanya. Nasib kerajaan ini tetap sama, ia akan hancur, begitu juga rakyatku,” putri membatin sambil terus memikirkan nasib kerajaan dan rakyatnya.
Karena banyak berpikir, putri menjadi tak nafsu makan. Bagaimana jika ancaman dari kedua pangeran tersebut benar-benar terjadi. Dengan kebimbangan dan kebingungan yang terus melanda hati sang putri. Ia menjadi semakin kurus dan jatuh sakit. Akhirnya, kesedihan dan kepiluan menimpa seluruh rakyat Tonjang Beru. Di tengah kepiluannya, Raja Tonjang Beru menemui putri yang kini terbaring lemah di atas dipan tidurnya.
“Anakku, bagaimana keadaanmu?” sapa raja sambil membelai rambut panjang putrinya.
            “Ayah, negeri ini terlalu indah untuk pertumpahan setetas darah, terlalu damai jika harus terdengar sayatan pedang. Aku tak mungkin sanggup melihat negeri ini hancur karena peperangan memperebutkanku!bisiknya pelan
Mendengar tutur kata putrinya, raja Tonjang Beru tak kuasa menahan air mata yang sudah meleleh menuruni lereng wajah yang mulai senja termakan usia.
Tidak anakku, ini bukan salahmu! Sungguh ayah dan ibumu akan selalu membantumu” tutur raja sambil berurai air mata
“Maafkan putri, Ayahanda. Tak ada niatan dalam hati menjadikan negeri ini saling musuh dan meninggalkan dendam. Ini semua salah putri karena tak menerima lamaran kedua pangeran itu. Maka, izinkanlah putri untuk menyelesaikan sendiri masalah ini”
“Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah pertumpahan darah itu anakku?” tanya raja sekali lagi
            “Aku akan melakukan semedi!” jawab putri mantap
            “Tidak, kau sedang sakit, Anakku!” bantah raja
            “Ayah izinkanlah putrimu pergi. esok hari aku akan berangkat melakukan semedi. Keputusan yang terbaik hanya berasal dari Tuhan. Maka aku akan meminta kepadaNya untuk menunjukkan keputusan itu dalam semediku”
Putri bersikeras untuk melakukan semedi. Tak bisa menolak permintaan putrinya, raja pun mengiyakan keputusan putri Mandalika untuk melakukan semedi.
            Jadilah sang putri berangkat menuju tempat semedi dalam keadaan sakit. Putri tak peduli dengan kondisinya, di benaknya hanya ada satu hal: keselamatan rakyatnya.
Raja dan ratu melepas kepergian putri penuh iba. Mereka sungguh bangga putri mereka memiliki hati seputih mutiara. Tak sia-sia Dewi Seranting mengandung Putri Mandalika sembilan bulan dalam rahimnya.
Sebelum putri meninggalkan istana, ia berpesan bahwa selama dirinya melakukan semedi, tak satupun pelayan istana diperbolehkan datang menemuinya, meskipun untuk memberinya makan. Ia benar-benar tak ingin diganggu. Putri Mandalika bertekad mendapatkan jawaban terbaik atas masalah pelik yang menimpa dirinya dan Kerajaan Tonjang Beru saat ini. Ia tak ingin salah dalam mengambil keputusan. Dengan ditemani para parjurit dan beberapa  dayang-dayang, putri berangkat menuju tempat semedi di sebelah utara kerajaan.
            Dua hari berlalu setelah Putri Mandalika memutuskan melakukan semedi. Suasana Kerajaan Tonjang Beru diliputi kecemasan dan kekhawatiran teramat dalam. Ini sudah lima hari berlalu semenjak kerajaan Johor dan Lipur mengancam akan menghancurkan Kerajaan Tonjang Beru jika sang Putri Mandalika menolak lamaran mereka. Itu artinya hanya tersisa dua hari lagi untuk memikirkan cara terbaik agar pertumpahan darah tidak terjadi di Negeri Tonjang Beru.
            Raja semakin gusar, untuk mengantisipasi terjadinya peperangan, ia mengutus seluruh prajurit dan panglima kerajaan agar berjaga-jaga di seluruh sudut kerajaan. Tak ketinggalan pula, pemukiman rakyat juga dijaga ketat oleh para prajurit istana. Keamanan harus ditingkatkan. Begitu juga rakyat, mereka diperintahkan agar tidak keluar di hari ketujuh saat putri akan mengumumkan keputusannya.
“Perintahkan seluruh rakyat agar menutup pintu-pintu rumah meraka. Jangan ada satupun yang berkeliaran di luar rumah ketika hari dimana Putri Mandalika akan mengumumkan keputusan semedinya! perintah raja kepada seluruh prajuritnya
            Sudah dua hari melakukan semedi, Putri Mandalika belum juga menemukan jawaban atas permasalahannya. Ia berusaha tetap tenang. Bahkan, tak sedikit pun tubuhnya bergeser dari tempat semedinya sejak awal.
Tepat esok hari, saat fajar hendak muncul di ufuk timur. Tiba-tiba sang putri menerima sebuah bisikkan. Bisikkan itu tak begitu jelas, tapi ia yakin itu adalah wangsit yang diturunkan Tuhan untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya. Putri mengakhiri semedinya tepat sehari sebelum keputusannya akan diumumkan.
            Merasa sudah menemukan jawaban atas masalahnya, putri akhirnya kembali ke istana.
            Kembalinya Putri Mandalika ke istana disambut tangis haru oleh raja dan ratu. Mereka amat khawatir jika putri mengambil keputusan yang salah. Namun, putri tak ingin terburu-buru, ia tak boleh memberi tahu keputusannya.
“Ayahanda, putri sudah menentukkan keputusan apa yang akan ku ambil mengenai perkara pelik ini!” jelasnya singkat
            “Apa itu putriku, beri tahu ayah sekarang, Ayah hendak...,
Belum lagi raja menyelesaikan perkataannya, Putri Mandalika menyela perkataan pria itu.
“Ampun, beribu ampun Ayahanda. Saat ini, Putri belum bisa memberi tahu keputusan apa yang akan putri ambil.”
Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting kemudian terhenyak, mengapa putrinya tak ingin memberi tahu keputusannya. Padahal, kedua orang tuanya begitu mencemaskan keadaan kerajaan. Ini bukan waktunya bermain-main. Mengapa harus dirahasiakan?
“Tapi, mengapa putri tak memberi tahu ayah dan ibumu? Kita semua berada dalam kekhawatiran yang sama. Kekhawatiran akan nasib kerajaan dan rakyat Tonjang Beru” lanjut raja penuh harap
Putri Mandalika masih kokoh dengan pendiriannya. Ia tak ingin terburu-buru memberi tahu kedua orang tuanya tentang keputusan yang akan diambilnya. Sejenak ia mengalihkan pandangan pada sudut-sudut kerajaan. Terlihat begitu banyak prajurit yang berjaga-jaga di sana. Mereka sudah siap dengan pedang dan panah masing-masing. Begitu lengkap. Sungguh keadaan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di bumi kelahirannya.
Putri tak menghendaki sedikitpun peperangan di negeri ini, apalagi permusuhan dan kedengkian yang kelak berujung pada pertumpahan darah. Mandalika berjalan sedikit mendekati kedua orang tuanya, dikecupnya kening Dewi Seranting yang tak lagi mulus seperti dahulu. Ia juga memegang kaki ayahandanya sebagai tanda  betapa ia menghormati pria itu. Putri kemudian berdiri tepat di hadapan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting. Raja sudah mengira putrinya akan menyampaikan keputusannya saat itu juga. Namun dugaan mereka salah. Putri justru meminta satu permohonan kepada baginda raja.
“Ayahanda, putri memiliki satu permohonan!”
Apa itu sebutkan, Putriku!” kejar sang raja
“Ayahanda, hari yang kujanjikan untuk memberi tahu keputusanku kepada pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang akan tiba besok. Itu artinya tinggal hari ini kegundahan akan menyelimuti Tonjang Beru…
Putri kemudian terdiam. Raja masih tak mengerti atas perkataan yang barusan dilontarkan putrinya. Namun tak ingin menyela anaknya. Ia membiarkan sang putri terdiam sejenak. Raja tahu betul, ini bukan keputusan yang mudah. Memilih di antara dua pangeran menjadi suami dengan ancaman kehancuran Kerajaan Tonjang Beru jika salah satu pangeran mengalami sakit hati karena penolakan, bukanlah hal yang sepele.
Dewi Seranting kemudian memeluk putrinya, sambil terisak. Kini air mata wanita paruh baya itu sudah menganak sungai.
“Katakanlah, katakanlah putriku. Apa yang hendak kau minta dari kami?”
Putri masih terdiam, ia belum melanjutkan perkataannya. Sepertinya sangat berat. Putri seperti mendapat bisikan yang menggangu hatinya. Sempat ia berniat memilih salah satu dari kedua pangeran tersebut. Tapi ia kembali sadar, tentu pangeran yang tak dipilihnya akan murka dan benar-benar menghancurkan seluruh Negeri Tonjang Beru.
            Ia kembali pada pilihannya, bukankah ia sudah menerima wangsit dari semedinya selama tiga hari. Ia tak boleh membiarkan setan membisikkan tipu muslihatnya lagi. Maka sebelum ia berubah pikiran, segera ia utarakan permohonannya kepada baginda raja.
“Putri ingin ayahanda mengundang seluruh pangeran di negeri ini beserta seluruh rakyatnya tepat di hari ketika aku mengumumkan keputusanku. Sampaikan kepada mereka bahwa aku mengundang mereka hadir besok pagi sebelum terbit fajar di ufuk timur”
“Tapi, untuk apa anakku? Kau ingin mengundang seluruh rakyat negeri ini? Bukankah itu akan memperburuk suasana? Bagaimana jika terjadi peperangan? Maka sudah pasti seluruh rakyat akan menjadi korban!
            “Tidak Ayahanda, putri
berjanji. Peperangan dan pertumpahan darah yang ayahanda khawatirkan selama ini, tak akan terjadi!
Putri Mandalika meyakinkan ayahnya, tak akan terjadi peperangan. Apalagi pertumpahan darah. Tapi sepertinya, raja tak begitu yakin, ia tetap gusar. Tapi raja telah berjanji memenuhi permintaan putri semata wayangnya itu.
“Lalu, dimana engkau akan mengundang mereka?” tanya raja sekali lagi meyakinkan tuan putri bahwa keputusan yang diambilnya tak salah.
            “Perintahkanlah kepada mereka untuk menungguku sebelum fajar di Pantai Seger. Aku akan datang menemui mereka di sana!”
Raja lantas mengiyakan permintaan putrinya. Segera setelah ia meninggalkan ruangan. Raja langsung menemui patihnya agar mengirimkan surat undangan kepada seluruh pangeran yang pernah datang melamar putrinya.
Sebagaimana permintaan Putri Mandalika, surat itu berisi undangan untuk menghadiri acara pengumuman keputusan sang putri untuk para pangeran dengan menyertakan seluruh rakyatnya turut menghadiri acara tersebut.
Pangeran Maliawang yang menerima surat tersebut kemudian tersenyum, ia begitu yakin bahwa Putri Mandalika pasti memilih dirinya. Maka ia memerintahkan seluruh rakyatnya turut serta menghadiri undangan dari Kerajaan Tonjang Beru.
***
Benar saja. Seluruh pangeran datang bersama rakyatnya. Hingga seluruh undangan yang hadir kini sudah memenuhi dataran Pantai Seger. Jika dilihat dari atas, barisan para undangan itu menyerupai sekumpulan semut. Begitu banyak, mulai dari anak kecil hingga dewasa. Para rakyat yang hadir ingin mengetahui keputusan sang putri, pada siapakah ia akan menjatuhkan pilihannya.
Tak ingin membiarkan rakyatnya menunggu lama, maka benar sebelum subuh, sang putri sudah datang di Pantai Seger. Ia datang bersama kedua orang tuanya. Tampak Putri Mandalika berdandan amat cantik, diusung kereta dari emas. Sang putri mendekati para undangan dan turun tepat di hadapan mereka. Para undangan yang penasaran akan wajah ayu Putri Mandalika berebut berada di urutan terdepan. Namun sang putri yang membaca situasi demikian, langsung berdiri di tengah-tengah undangan, ia lalu menyapa seluruh rakyat yang hadir.
“Wahai rakyat Tonjang Beru yang aku cintai, para pengeran dari berbagai kerajaan yang aku hormati bersama rakyat yang turut serta. Kuucapkan beribu terima kasih atas kesediaan kalian menghadiri undangan yang aku kirimkan. Maka hari ini, kalianlah yang akan menjadi saksi peristiwa bersejarah ini.
Tak selang beberapa saat, suasana yang tadinya ramai berubah menjadi sepi, semua terdiam menyimak tutur kata Putri Mandalika. Selesai mengatakan hal itu, putri lalu melanjutkan langkahnya hingga terhenti tepat di atas bibir pantai. Ia terdiam lalu berdiri di atas batu membelakangi lautan.
Suara lembut sang putri seperti terkalahkan oleh ombak pantai. Untung saja para rakyat tak menambah dengan keributan mereka. Di tengah rasa penasaran dari para pangeran dan rakyatnya. Putri Mandalika pun memulai pidatonya.
“Rakyat Tonjang Beru serta para pangeran yang aku hormati. Sungguh hati ini teramat sakit, tak sanggup rasanya jika harus menyaksikan peperangan dan pertumpahan darah di negeri ini. Aku terlahir dari rahim seorang Dewi Seranting bukan untuk kalian perebutkan. Maka hari ini, aku umumkan bahwa diriku untuk kalian semua!
Para pangeran yang mendengar perkataan putri itu menjadi bingung. Mereka semakin geram ketika mengira bahwa sang putri memilih semua pangeran menjadi suaminya. Tapi belum lagi para pengeran menuai protes. Putri melanjutkan kembali perkataannya.
“Dalam semediku. Aku mendapat wangsit mengorbankan diriku menjadi nyale[3] yang dapat kalian nikmati di bulan dan tanggal keluarnya nyale dari permukaan laut! tutup Putri Mandalika
Seketika, langit yang tadinya terang penuh bintang, berubah menjadi gumpalan-gumpalan awan hitam. Kilatan-kilatan petir menyambar dari ujung barat langit hingga timur. Ombak terlihat mengamuk menyapu bibir pantai. Para undangan yang melihat perubahan alam itu berlarian mencari perlindungan. Namun, suasana itu tak bertahan lama. Berselang beberapa menit suasana kembali seperti sediakala.
Kini mereka tak sibuk lagi berlarian. Semuanya terdiam, sosok putri yang berdiri di hadapan mereka tiba-tiba menghilang. Seluruh rakyat desa dan para pengeran mencari hingga keberadaan sang putri.
“Putri... Putri Mandalika......!”
Teriakan para pangeran dan rakyat terdengar di mana-mana. Menggema di seluruh dataran Pantai Seger. Mereka mencari sang putri hingga ke dasar laut. Ke ujung barat pantai hingga timur. Tapi sungguh, sang putri tak dapat ditemukan.
Dewi Seranting yang mengetahui putri kesayangannya tak ditemukan, tak kuasa menahan jerit tangis. Ia gemetar, tak kuasa berdiri. Tubuhnya terjatuh mengarah Raja Tonjang Beru. Dalam dekapan raja, Dewi Serating terus menangis, matanya gigih melihat setiap sudut pantai. Berharap ia melihat putrinya.
“Baginda Raja, kemana anak kita, kemana ia?”
Tangis haru sang ratu semakin memilukan suasana. Rakyat yang menyaksikan kejadiaan itu tak luput dari tangis. Mereka semua berlarian menuju bibir pantai berharap menemukan sosok sang putri, atau setidaknya jasad sang putri, jika ia mati tergulung ombak.
Mereka terus memanggil nama sang putri. Tapi nihil. Putri Mandalika memang benar-benar menghilang. Mungkin telah jauh tergulung ombak.
Beberapa saat kemudian, ketika para rakyat dan pangeran sibuk mencari sang putri. Muncul hewan kecil menyerupai cacing dari dasar laut. Jumlah hewan itu tak terbilang. Sungguh banyak. Raja dan seluruh rakyat negeri kaget, darimana asal binatang ini. Tapi seketika mereka teringat pesan sang putri bahwa dirinya sudah ditakdirkan menjadi nyale yang dapat mereka nikmati.
“Mungkinkah ini titisan putriku?” seru Raja Tonjang Beru
Dengan diliputi hati yang masih hancur, raja mengambil bintang kecil itu. ia meletakkan binatang itu dalam genggamannya.
“Sungguh, ini putriku yang telah berubah menjadi nyale demi kalian!” tegas raja
Rakyat yang menyaksikan itu, ikut mengekor raja. Mereka beramai ramai menangkap binatang kecil itu sebagai bukti cinta kepada sang putri.
Para pangeran yang menyaksikan kejadian memilukan itupun menitiskan air mata. Terutama dua pangeran yang menjadi sebab kepergian Tuan Putri: Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Mereka amat menyesal.
“Cintamu terhadap negerimu amat besar tuan putri. Demi Tuhan! Maafkan kami, hadirlah kembali di sini putri, kami tak akan memperebutkanmu lagi. Bahkan kami rela tak menikah denganmu selamanya, asal kau kembali” bisik Pangeran Datu Teruna penuh sesal
Nasi telah menjadi bubur, takdir sudah terlanjur digariskan: Putri Mandalika menjadi nyale. Meski sesal dan maaf terucap beribu kali. Putri cantik jelita lagi bijaksana tak mungkin kembali. Nyale sudah menggantikan rupanya di dunia.
Semenjak kejadian itu, tak ada lagi bau peperangan tercium. Tak ada lagi persaingan yang menghancurkan kedamaian. Seluruh kerajaan tetap damai dan tenang, rakyat Tonjang Beru tetap sejahtera. Ini berlaku karena pengorbanan mulia sang putri yang lebih memilih kesenangan rakyatnya dibanding kesenangan dirinya.  
Kenangan akan Putri Mandalika, masih tetap mengkristal hingga kehidupan saat ini. Akhirnya, sebagai bukti cinta kasih kepada Putri Mandalika, rakyat di daerah Lombok menjadikan hari berubahnya Putri Mandalika menjadi nyale atau cacing laut sebagai hari Festival Bau[4] Nyale yang dirayakan setiap tanggal 20 bulan 10 penanggalan sasak, atau antara bulan Februari dan Maret tahun Masehi.
***



[1] (Lombok) Pedang Samurai
[2] (Lombok) Mantra yang digunakan untuk memikat atau menarik perhatian orang yang kita cintai
[3] (Lombok) Cacing laut
[4] (Lombok) Menangkap