“Kecantikan tak mesti anugerah, terkadang ia menjadi malapetaka bagi
pemiliknya”
Itulah yang
diyakini oleh Putri Mandalika. Anak dari
sepasang raja dan ratu yang arif lagi bijaksana. Adalah mereka Raja Tonjang
Beru dan Ratu Dewi Seranting yang juga
memerintah Kerajaan Tonjang Beru pada masanya.
Kerajaan Tonjang
Beru begitu damai. Rakyat hidup bahagia dan sejahtera, tak kurang sesuatu
apapun. Semua hidup dalam kedamaian dan kasih mengasihi. Hingga bau peperangan
dan permusuhan tak pernah tercium. Kebahagiaan
rakyat Tonjang Beru semakin lengkap kala putri yang anggun lagi baik hati lahir dari raja dan ratu pujaan
mereka. Putri itu bernama Mandalika.
Seiring
berjalannya waktu, raut-raut kecantikan sang putri kecil mulai nampak. Kecantikan
itu semakin sempurna ketika sang putri beranjak dewasa. Selain rupanya yang cantik, Putri Mandalika ternyata mewarisi
kewibawaan kedua orang tuanya. Jadilah Putri Mandalika dicintai oleh seluruh rakyat
Kerajaan Tonjang Beru, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Semua
mengagumi kearifan dan kecantikan sang putri. Begitu juga dengan para pangeran
dari berbagai kerajaan. Mereka sungguh penasaran akan kecantikkan dan kearifan
sang putri. Akhirnya silih berganti pangeran datang di istana Tonjang Beru. Mereka datang
untuk satu tujuan, melamar Putri Mandalika.
Bukannya
bahagia mendapat lamaran dari banyak pangeran, dicintai seluruh rakyat negeri, sang putri justru amat sedih. Ternyata kecantikan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya menjadi
petaka besar. Kecantikan membuatnya diincar para pangeran di seluruh daratan Pulau Lombok. Mulai
dari Kerajaan Johor, Lipur, Kuripan, Pane, Beru dan Kerajaan Daha. Semua jatuh
hati kepadanya. Mereka berebut untuk memperistri si putri jelita. Namun tak mungkin seorang putri menerima lamaran dari banyak
pangeran. Selain pertimbangan cinta, ia juga
tak ingin memilih salah satu di antara para pangeran. Jika ia memilih satu,
maka pangeran yang lain akan iri dan sakit hati.
Keputusan
pun ditetapkan, putri tak akan menerima lamaran dari pangeran manapun, keputusan
itu membuat para pangeran di seluruh negeri gigit jari. Upaya memperistri putri
yang cantik jelita pupuslah sudah.
Rupaya tak
semua pangeran mampu berlapang dada. Mengetahui bahwa putri tak ingin menerima
lamaran semua pangeran, dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah
Pangeran Datu Teruna dari Kerajaan Johor dan Pengeran Maliawang dari Kerajaan
Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan
ancaman hancurnya Kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolak. Pangeran
Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman serupa. Pagi-pagi
buta mereka sudah mendatangi Kerajaan Tonjang Beru. Kedua utusan pangeran itu
datang dengan iring-iringan pasukan.
Seperti
biasa, kedatangan mereka disambut baik oleh Kerajaan Tonjang Beru. Dewi
Seranting yang tak lain adalah ibu dari Mandalika mempersiapkan jamuan untuk
para tamu terhormatnya. Ia tak ingin
mengecawakan tamu yang telah datang jauh-jauh hanya untuk menemui putrinnya.
Setelah
diterima oleh Kerajaan Tonjang Beru. Kedua utusan tersebut kemudian
menyampaikan hajat masing-masing. Diawali dengan utusan dari pangeran Datu Teruna
yaitu Arya Bawal.
“Raja Tonjang
Beru yang terhormat. Kami datang kemari atas utusan dari
pangeran kami, Datu Teruna. Beliau menginginkan putrimu menjadi istrinya.
Bagaimana pendapat tuan raja mengenai hajat pangeran kami?”
“Aku
hanyalah seorang ayah. Keputusan mengenai siapa yang akan
menjadi suami Mandalika, semuanya kuserahkan pada putriku. Karena
kebahagiaannya adalah kebahagiaan Kejaraan Tonjang Beru.” jawab raja
penuh wibawa
Kali
ini, Putri Mandalika angkat bicara.
“Karena kuasa memilih
telah diberikan kepadaku. Dengan berat hati dan beribu ampun aku menolak
lamaran ini!” jelas Putri Mandalika singkat
Mendengar
tutur kata sang putri, Arya Bawal menjadi naik pitam.
“Jika
putri tidak bersedia menerima lamaran dari pangeran Datu Teruna, maka tunggu
kehancuran dan malapetaka besar yang akan menimpa kerjaan dan seluruh rakyat Tonjang
Beru.”
Arya Tebuik
ikut andil bicara, ia gigih mengancam raja.
Dewi
Seranting yang sedari tadi turut menyimak jalannya perbincangan
itu tersentak kaget. Bagaimana pengeran Datu Teruna bisa sekejam itu. Ia bahkan mengancam menghancurkan Kerajaaan Tonjang Beru.
Ternyata tak
hanya utusan dari Pangeran Datu Teruna yang berkata demikian. Arya Bumbang
selaku utusan dari Pangeran Maliawang pun melakukan ancaman.
“Raja, begitupun
dengan maksud kedatangan kami di sini. Kami ingin melamar Putri Mandalika
untuk dijadikan istri Pangeran Maliawang. Namun jika putri juga menolak lamaran
Pangeran Maliawang sebagaimana putri menolak lamaran Pangeran Datu Teruna, maka
kami juga mengancam dengan hal yang sama. Menghancurkan
dan meluluhlantakkan kerjaan serta rakyat Tonjang Beru selama-lamanya.”
“Tidak! Putri Mandalika
hanya akan diperistri oleh Pengeran Datu Teruna!” Tukas Arya
Tebuik memanaskan suasana.
“Hai, Kalau
Kalian tetap nekat menjadi lawan dari pangeran kami, maka langkahi dulu mayat
ini” Arya Bumbang mengacungkan pedang
Merasa
diremehkan Arya Tebuik ikut mengeluarkan senjata andalannya. Kelewang yang
sudah berdiam lama di pinggangnya itu ia acungkan, bahkan lebih tinggi dari
acungan Arya Bumbang.
“Yaaakkk...!”
“Sriiingg...!”
Suara pedang keduanya
beradu hingga terdengar di seluruh sudut istana. Raja Tonjang Beru panik.
“Hentikan...!
Kuperintahkan kalian untuk berhenti!” tukas Raja.
Seisi ruangan
mematung. Begitu juga dengan dua utusan yang sudah termakan emosi.
“Apakah kalian
kemari untuk melamar putriku ataukah menunjukkan keperkasaan kalian?” raja
melanjutkan ucapannya
“Maafkan kami
tuan raja! Kami terbawa emosi” balas kedua utusan tersebut.
“Pergilah
kalian dari kerajaan ini! Aku tak ingin melihat
keributan dan perkelahian. Biarkan putriku memikirkan hajat kalian.” tutup raja
Belum lagi kedua utusan itu beranjak melangkahi pintu istana, putri
tiba-tiba berdiri. Mereka mengira putri sudah mengambil keputusan. Siapa yang akan
diterimanya.
“Tunggu!
Beri aku waktu tujuh hari untuk mempertimbangkan semua ini. Setelah itu akan kuberi
tahu keputusan mana yang akan kuambil.”
“Baiklah
tuan Putri, jika itu permintaanmu, kami akan menunggu hingga tujuh hari setelah
pertemuan ini. Namun jika tidak, maka sesuai ancaman. Kerajaan ini akan kami
hancurkan beserta seluruh rakyatnya.”
Ancaman
itu mengiris hati raja. Betapa ia tak menyangka, hanya karena kecantikkan
putrinya, nasib rakyat menjadi taruhan. Tapi, Raja tak mungkin akan menyalahkan
putri semata wayangnya, karena Putri Mandalika memang tak sepatutnya disalahkan
atas perkara ini.
***
Kedua pangeran
yang mendapat laporan dari masing-masing utusan ternyata tak sabar menunggu
hingga hari ketujuh. Dengan licik mereka mengirim senggeger
agar sang putri jatuh hati kepada mereka. Tanpa diketahui, pangeran Datu Teruna
mengirim Senggeger Utusaning Allah untuk memikat Putri Mandalika. Begitu juga pangeran Maliawang yang meniup senggeger Jaring
Sutra. Kedua senggeger ini terkenal sangat ampuh dan sakti. Namun di luar dugaan mereka, kekuatan kedua senggeger
itu tak mampu menembus Putri Mandalika. Hingga kedua wajah mereka muncul
berbarengan di hadap sang putri.
Mengetahui
aksi mereka gagal. Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang menjadi semakin
geram. Mereka sudah tak sabar memperistri putri yang cantik jelita lagi sakti
tersebut.
Meski
senggeger itu tak mempan menembus sang putri, ia tetap bingung.
Keputusan apa yang akan diambilnya.
“Jika aku
memilih di antara keduanya, atau tak memilih keduanya. Nasib kerajaan ini tetap
sama, ia akan hancur, begitu juga rakyatku,” putri
membatin sambil terus memikirkan nasib kerajaan dan rakyatnya.
Karena banyak
berpikir, putri menjadi tak nafsu makan. Bagaimana jika ancaman dari kedua
pangeran tersebut benar-benar terjadi. Dengan kebimbangan dan kebingungan yang
terus melanda hati sang putri. Ia menjadi semakin kurus dan jatuh sakit. Akhirnya,
kesedihan dan kepiluan menimpa seluruh rakyat Tonjang Beru. Di tengah
kepiluannya, Raja Tonjang Beru menemui putri yang kini terbaring lemah di atas
dipan tidurnya.
“Anakku,
bagaimana keadaanmu?” sapa raja sambil membelai rambut panjang putrinya.
“Ayah, negeri ini terlalu indah untuk pertumpahan setetas darah,
terlalu damai jika harus terdengar sayatan pedang. Aku tak mungkin sanggup
melihat negeri ini hancur karena peperangan memperebutkanku!” bisiknya pelan
Mendengar
tutur kata putrinya, raja Tonjang Beru tak kuasa menahan air mata yang sudah
meleleh menuruni lereng wajah yang mulai senja termakan usia.
“Tidak anakku, ini bukan salahmu! Sungguh
ayah dan ibumu akan selalu membantumu” tutur raja sambil berurai air mata
“Maafkan
putri, Ayahanda. Tak ada niatan dalam hati menjadikan negeri ini saling musuh
dan meninggalkan dendam. Ini semua salah putri karena tak menerima lamaran
kedua pangeran itu. Maka, izinkanlah putri untuk menyelesaikan
sendiri masalah ini”
“Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah pertumpahan darah itu
anakku?” tanya raja sekali lagi
“Aku
akan melakukan semedi!” jawab putri
mantap
“Tidak,
kau sedang sakit, Anakku!” bantah raja
“Ayah
izinkanlah putrimu pergi. esok hari aku akan berangkat melakukan semedi. Keputusan yang terbaik hanya
berasal dari Tuhan. Maka aku akan meminta kepadaNya untuk menunjukkan keputusan
itu dalam semediku”
Putri
bersikeras untuk melakukan semedi. Tak bisa menolak permintaan putrinya, raja
pun mengiyakan keputusan putri Mandalika untuk melakukan semedi.
Jadilah
sang putri berangkat menuju tempat semedi dalam keadaan sakit. Putri tak peduli
dengan kondisinya, di benaknya hanya ada satu hal: keselamatan rakyatnya.
Raja dan ratu
melepas kepergian putri penuh iba. Mereka sungguh bangga putri mereka memiliki
hati seputih mutiara. Tak sia-sia Dewi Seranting mengandung Putri Mandalika
sembilan bulan dalam rahimnya.
Sebelum putri
meninggalkan istana, ia berpesan bahwa selama dirinya melakukan semedi, tak
satupun pelayan istana diperbolehkan datang menemuinya, meskipun untuk memberinya
makan. Ia benar-benar tak ingin diganggu. Putri Mandalika bertekad mendapatkan
jawaban terbaik atas masalah pelik yang menimpa dirinya dan Kerajaan Tonjang
Beru saat ini. Ia tak ingin salah dalam mengambil keputusan. Dengan ditemani para parjurit dan beberapa dayang-dayang, putri berangkat menuju tempat
semedi di sebelah utara
kerajaan.
Dua
hari berlalu setelah Putri Mandalika memutuskan melakukan semedi. Suasana Kerajaan
Tonjang Beru diliputi kecemasan dan kekhawatiran teramat dalam. Ini sudah lima
hari berlalu semenjak kerajaan Johor dan Lipur mengancam akan menghancurkan Kerajaan
Tonjang Beru jika sang Putri Mandalika menolak lamaran mereka. Itu artinya
hanya tersisa dua hari lagi untuk memikirkan cara terbaik agar pertumpahan
darah tidak terjadi di Negeri Tonjang Beru.
Raja
semakin gusar, untuk mengantisipasi terjadinya peperangan, ia mengutus seluruh prajurit
dan panglima kerajaan agar berjaga-jaga di seluruh sudut kerajaan. Tak
ketinggalan pula, pemukiman rakyat juga dijaga ketat oleh para prajurit istana.
Keamanan harus ditingkatkan. Begitu juga rakyat, mereka diperintahkan agar tidak
keluar di hari ketujuh saat putri akan mengumumkan keputusannya.
“Perintahkan
seluruh rakyat agar menutup pintu-pintu rumah
meraka. Jangan ada satupun yang berkeliaran di luar rumah ketika hari dimana Putri
Mandalika akan mengumumkan keputusan semedinya!” perintah raja
kepada seluruh prajuritnya
Sudah
dua hari melakukan semedi, Putri Mandalika belum juga menemukan jawaban atas
permasalahannya. Ia berusaha tetap tenang. Bahkan, tak sedikit pun tubuhnya
bergeser dari tempat semedinya sejak awal.
Tepat esok
hari, saat fajar hendak muncul di ufuk timur. Tiba-tiba sang putri menerima
sebuah bisikkan. Bisikkan itu tak begitu jelas, tapi ia yakin itu adalah
wangsit yang diturunkan Tuhan untuk menyelesaikan masalah yang tengah
dihadapinya. Putri mengakhiri semedinya tepat
sehari sebelum keputusannya akan diumumkan.
Merasa
sudah menemukan jawaban atas masalahnya, putri akhirnya kembali ke istana.
Kembalinya
Putri Mandalika ke istana disambut tangis haru oleh raja dan ratu. Mereka amat khawatir jika putri mengambil keputusan yang salah.
Namun, putri tak ingin terburu-buru, ia tak boleh memberi tahu keputusannya.
“Ayahanda,
putri sudah menentukkan keputusan apa yang akan ku ambil mengenai perkara
pelik ini!” jelasnya singkat
“Apa itu putriku, beri tahu ayah sekarang, Ayah
hendak...,”
Belum lagi
raja menyelesaikan perkataannya, Putri Mandalika menyela perkataan pria itu.
“Ampun,
beribu ampun Ayahanda. Saat ini, Putri belum bisa memberi tahu keputusan apa
yang akan putri ambil.”
Raja Tonjang
Beru dan Dewi Seranting kemudian terhenyak, mengapa putrinya tak ingin memberi
tahu keputusannya. Padahal, kedua orang tuanya begitu mencemaskan keadaan kerajaan.
Ini bukan waktunya bermain-main.
Mengapa harus dirahasiakan?
“Tapi,
mengapa putri tak memberi tahu ayah dan ibumu? Kita semua berada dalam
kekhawatiran yang sama. Kekhawatiran akan nasib kerajaan dan rakyat Tonjang
Beru” lanjut raja penuh harap
Putri Mandalika
masih kokoh dengan pendiriannya. Ia tak ingin terburu-buru
memberi tahu kedua orang tuanya tentang keputusan yang akan diambilnya. Sejenak
ia mengalihkan pandangan pada sudut-sudut kerajaan. Terlihat begitu banyak
prajurit yang berjaga-jaga di sana. Mereka sudah siap dengan pedang dan panah masing-masing. Begitu
lengkap. Sungguh keadaan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di bumi
kelahirannya.
Putri tak
menghendaki sedikitpun peperangan di negeri ini, apalagi permusuhan dan
kedengkian yang kelak berujung pada pertumpahan
darah. Mandalika berjalan sedikit mendekati
kedua orang tuanya, dikecupnya kening Dewi Seranting yang tak lagi mulus
seperti dahulu. Ia juga memegang kaki ayahandanya sebagai tanda betapa ia menghormati pria itu. Putri kemudian
berdiri tepat di hadapan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting. Raja sudah
mengira putrinya akan menyampaikan keputusannya saat itu juga. Namun dugaan
mereka salah. Putri justru meminta satu permohonan kepada baginda raja.
“Ayahanda, putri memiliki satu permohonan!”
“Apa itu sebutkan, Putriku!” kejar sang raja
“Ayahanda, hari yang kujanjikan untuk memberi tahu keputusanku kepada
pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang akan tiba besok. Itu artinya tinggal
hari ini kegundahan akan menyelimuti Tonjang Beru…”
Putri kemudian
terdiam. Raja masih tak mengerti atas
perkataan yang barusan dilontarkan putrinya. Namun tak ingin menyela anaknya.
Ia membiarkan sang putri terdiam sejenak. Raja tahu betul, ini bukan keputusan
yang mudah. Memilih di antara dua pangeran menjadi suami dengan ancaman
kehancuran Kerajaan Tonjang Beru jika salah satu pangeran mengalami sakit hati
karena penolakan, bukanlah hal yang sepele.
Dewi Seranting
kemudian memeluk putrinya, sambil terisak. Kini air mata
wanita paruh baya itu sudah menganak sungai.
“Katakanlah, katakanlah putriku. Apa yang hendak kau minta dari kami?”
Putri masih terdiam, ia belum
melanjutkan perkataannya. Sepertinya sangat berat. Putri seperti mendapat bisikan yang menggangu hatinya. Sempat ia berniat memilih salah satu dari kedua pangeran tersebut.
Tapi ia kembali sadar, tentu pangeran yang tak dipilihnya akan murka dan
benar-benar menghancurkan seluruh Negeri Tonjang Beru.
Ia
kembali pada pilihannya, bukankah ia sudah menerima wangsit dari semedinya
selama tiga hari. Ia tak boleh membiarkan setan membisikkan tipu muslihatnya lagi.
Maka sebelum ia berubah pikiran, segera ia utarakan permohonannya kepada
baginda raja.
“Putri ingin ayahanda
mengundang seluruh pangeran di negeri ini beserta seluruh rakyatnya tepat di
hari ketika aku
mengumumkan keputusanku. Sampaikan kepada mereka bahwa aku mengundang mereka
hadir besok pagi sebelum terbit fajar di ufuk timur”
“Tapi,
untuk apa anakku? Kau ingin mengundang seluruh rakyat
negeri ini? Bukankah itu akan memperburuk suasana? Bagaimana jika terjadi peperangan? Maka sudah pasti
seluruh rakyat akan menjadi korban!”
“Tidak
Ayahanda, putri berjanji. Peperangan dan pertumpahan
darah yang ayahanda khawatirkan selama ini, tak akan terjadi!”
Putri Mandalika
meyakinkan ayahnya, tak akan
terjadi peperangan. Apalagi pertumpahan darah. Tapi sepertinya, raja tak begitu
yakin, ia tetap gusar. Tapi raja telah berjanji memenuhi permintaan putri
semata wayangnya itu.
“Lalu, dimana engkau akan mengundang mereka?” tanya raja
sekali lagi meyakinkan tuan putri bahwa keputusan yang diambilnya tak salah.
“Perintahkanlah kepada mereka untuk
menungguku sebelum fajar di Pantai Seger. Aku akan datang menemui mereka di sana!”
Raja lantas
mengiyakan permintaan putrinya. Segera setelah ia meninggalkan ruangan. Raja
langsung menemui patihnya agar mengirimkan surat undangan kepada seluruh
pangeran yang pernah datang melamar putrinya.
Sebagaimana
permintaan Putri Mandalika, surat itu berisi undangan untuk menghadiri acara
pengumuman keputusan sang putri untuk para pangeran dengan menyertakan seluruh
rakyatnya turut menghadiri acara tersebut.
Pangeran
Maliawang yang menerima surat tersebut kemudian tersenyum, ia begitu yakin
bahwa Putri Mandalika pasti memilih dirinya. Maka ia memerintahkan seluruh
rakyatnya turut serta menghadiri undangan dari Kerajaan Tonjang Beru.
***
Benar saja. Seluruh pangeran datang bersama rakyatnya. Hingga seluruh undangan yang hadir kini sudah memenuhi dataran Pantai Seger. Jika dilihat dari atas, barisan para undangan itu
menyerupai sekumpulan semut. Begitu banyak, mulai dari anak kecil hingga
dewasa. Para rakyat yang hadir ingin mengetahui keputusan sang putri, pada
siapakah ia akan menjatuhkan pilihannya.
Tak ingin
membiarkan rakyatnya menunggu lama, maka benar sebelum subuh, sang putri sudah
datang di Pantai Seger. Ia datang bersama kedua orang tuanya. Tampak Putri
Mandalika berdandan amat cantik, diusung kereta dari emas. Sang putri mendekati para undangan dan turun tepat di hadapan mereka.
Para undangan yang penasaran akan wajah ayu Putri Mandalika berebut berada di urutan terdepan. Namun sang putri yang membaca situasi demikian, langsung
berdiri di tengah-tengah undangan, ia lalu menyapa seluruh rakyat yang hadir.
“Wahai rakyat Tonjang Beru yang aku cintai, para pengeran dari berbagai
kerajaan yang aku hormati bersama rakyat yang turut serta.
Kuucapkan beribu terima kasih atas kesediaan kalian menghadiri undangan yang
aku kirimkan. Maka hari ini, kalianlah yang akan menjadi saksi peristiwa
bersejarah ini.”
Tak selang
beberapa saat, suasana yang tadinya ramai berubah menjadi sepi, semua terdiam
menyimak tutur kata Putri Mandalika. Selesai
mengatakan hal itu, putri lalu melanjutkan langkahnya hingga terhenti tepat di
atas bibir pantai. Ia terdiam lalu berdiri di atas batu membelakangi lautan.
Suara lembut
sang putri seperti terkalahkan oleh ombak pantai. Untung saja para rakyat tak menambah dengan keributan mereka. Di
tengah rasa penasaran dari para pangeran dan rakyatnya. Putri Mandalika pun
memulai pidatonya.
“Rakyat Tonjang Beru serta para pangeran yang aku hormati. Sungguh hati
ini teramat sakit, tak sanggup rasanya jika harus menyaksikan peperangan dan pertumpahan
darah di negeri ini. Aku terlahir dari rahim seorang Dewi
Seranting bukan untuk kalian perebutkan. Maka hari ini, aku umumkan bahwa
diriku untuk kalian semua!”
Para pangeran
yang mendengar perkataan putri itu menjadi bingung. Mereka semakin geram ketika
mengira bahwa sang putri memilih semua pangeran menjadi suaminya. Tapi belum
lagi para pengeran menuai protes. Putri melanjutkan kembali perkataannya.
“Dalam semediku. Aku mendapat wangsit mengorbankan diriku
menjadi nyale yang dapat kalian nikmati di bulan dan tanggal keluarnya nyale dari permukaan laut!” tutup Putri Mandalika
Seketika,
langit yang tadinya terang penuh bintang, berubah menjadi gumpalan-gumpalan awan hitam. Kilatan-kilatan
petir menyambar dari ujung barat langit hingga timur. Ombak terlihat mengamuk
menyapu bibir pantai. Para undangan yang melihat perubahan alam itu berlarian
mencari perlindungan. Namun, suasana itu tak bertahan lama. Berselang beberapa
menit suasana kembali seperti sediakala.
Kini mereka
tak sibuk lagi berlarian. Semuanya terdiam, sosok putri yang berdiri di hadapan
mereka tiba-tiba menghilang. Seluruh rakyat desa dan para pengeran mencari
hingga keberadaan sang putri.
“Putri...
Putri Mandalika......!”
Teriakan para
pangeran dan rakyat terdengar di mana-mana. Menggema di seluruh dataran Pantai
Seger. Mereka mencari sang putri hingga ke dasar laut. Ke ujung barat pantai
hingga timur. Tapi sungguh, sang putri tak dapat ditemukan.
Dewi Seranting
yang mengetahui putri kesayangannya tak ditemukan, tak kuasa menahan jerit
tangis. Ia gemetar, tak kuasa berdiri. Tubuhnya terjatuh mengarah Raja Tonjang
Beru. Dalam dekapan raja, Dewi Serating terus menangis, matanya gigih melihat
setiap sudut pantai. Berharap ia melihat putrinya.
“Baginda Raja,
kemana anak kita, kemana ia?”
Tangis haru
sang ratu semakin memilukan suasana. Rakyat yang menyaksikan kejadiaan itu tak
luput dari tangis. Mereka semua berlarian menuju bibir pantai berharap
menemukan sosok sang putri, atau setidaknya jasad sang putri, jika ia mati
tergulung ombak.
Mereka terus
memanggil nama sang putri. Tapi nihil. Putri Mandalika memang benar-benar
menghilang. Mungkin telah jauh tergulung ombak.
Beberapa saat
kemudian, ketika para rakyat dan pangeran sibuk mencari sang putri. Muncul
hewan kecil menyerupai cacing dari dasar laut. Jumlah hewan itu tak terbilang.
Sungguh banyak. Raja dan seluruh rakyat negeri kaget, darimana asal binatang
ini. Tapi seketika mereka teringat pesan
sang putri bahwa dirinya sudah ditakdirkan menjadi nyale yang dapat
mereka nikmati.
“Mungkinkah
ini titisan putriku?” seru Raja Tonjang Beru
Dengan
diliputi hati yang masih hancur, raja mengambil bintang kecil itu. ia
meletakkan binatang itu dalam genggamannya.
“Sungguh, ini
putriku yang telah berubah menjadi nyale demi kalian!” tegas raja
Rakyat yang
menyaksikan itu, ikut mengekor raja. Mereka beramai ramai menangkap binatang
kecil itu sebagai bukti cinta kepada sang putri.
Para pangeran
yang menyaksikan kejadian memilukan itupun menitiskan air mata. Terutama dua
pangeran yang menjadi sebab kepergian Tuan Putri: Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Mereka amat menyesal.
“Cintamu
terhadap negerimu amat besar tuan putri. Demi Tuhan! Maafkan kami, hadirlah
kembali di sini putri, kami tak akan memperebutkanmu lagi. Bahkan kami rela tak
menikah denganmu selamanya, asal kau kembali” bisik
Pangeran Datu Teruna penuh sesal
Nasi telah
menjadi bubur, takdir sudah terlanjur digariskan: Putri Mandalika menjadi nyale.
Meski sesal dan maaf terucap beribu kali. Putri cantik jelita lagi bijaksana
tak mungkin kembali. Nyale sudah menggantikan rupanya di dunia.
Semenjak kejadian
itu, tak ada lagi bau peperangan tercium. Tak ada lagi persaingan yang
menghancurkan kedamaian. Seluruh kerajaan tetap damai dan tenang, rakyat Tonjang
Beru tetap sejahtera. Ini berlaku karena pengorbanan mulia sang putri yang
lebih memilih kesenangan rakyatnya dibanding kesenangan dirinya.
Kenangan akan
Putri Mandalika, masih tetap mengkristal hingga kehidupan saat ini. Akhirnya,
sebagai bukti cinta kasih kepada Putri Mandalika, rakyat di daerah Lombok
menjadikan hari berubahnya Putri Mandalika menjadi nyale atau cacing
laut sebagai hari Festival Bau
Nyale yang dirayakan setiap tanggal 20 bulan 10 penanggalan sasak, atau
antara bulan Februari dan Maret tahun Masehi.
***