Bertahun-tahun yang lalu, saya masih meraba-raba untuk memahami apa
makna sesungguhnya dari seorang guru yang diberi tanda kehormatan
sebagai PAHLAWAN tanpa tanda jasa.
Hingga saat dimana saya, tiga tahun lalu berstatus sebagai Mahasiswi
yang kelak akan menjadi seorang guru. Dimana status itu sebenarnya tak
saya inginkan.
"Duh, dimana 'gengsi' nya sebagai seorang guru? cita-cita saya kan jadi
dokter atau jadi pegawai di Departemen Keuangan. Gajinya kan banyak."
begitu pikir saya diawal-awal menjalani hari sebagai calon guru masa
depan.
"Apa yang mau diharapkan dari profesi seorang guru? gaji pas-pasan,
tugasnya juga gak mudah." Tapi semua pikiran-pikiran seperti itu sirna
seiring perlahan saya menikmati proses untuk menjadi guru.
Hati gak bisa bohong dan jalan-Nya tak pernah salah. Saya ditakdirkan untuk menjadi seorang Guru, ya seorang Guru!
Proses demi proses saya jalani menuju terwujudnya menjadi seorang guru.
Tiga tahun kuliah, teori sudah ditangan tinggal praktek yang dinanti,
menikmati hari-hari menjadi seorang ibu guru.
Akhirnya, setelah mencari-cari makna yang sesungguhnya dibalik kata
PAHLAWAN itu, dua bulan yang lalu saya menemukannya, saya dapat
memaknainya. Karena dimulai dua bulan yang lalu, saya berdiri dihadapan
40 pasang mata. Menyapa generasi muda, bertanya apa mimpi mereka. Ya,
saya menjadi guru sesungguhnya. Kini benar-benar menjadi nyata.
Tau seperti apa rasanya berdiri dihadapan penerus generasi bangsa ini?
Menjadi pusat perhatian dari seluruh pasang mata. Jika saat itu saat
yang tepat untuk meneteskan airmata, saya ingin menangis, menangis haru
dihadapan mereka. saya BAHAGIA, itulah ungkapan hati saya.
Perasaan ini mungkin takkan saya rasakan kalau saya menjadi seorang
dokter. Kini saya tau, saya lebih dari seorang dokter. Ketika dokter
bertugas menyembuhkan orang sakit, tapi saya bertugas menyembuhkan moral
yang sakit. Ya, seperti apa generasi bangsa ini ada ditangan seorang
guru bukan dokter. Maka dengan bangga saya mengatakan saya adalah GURU.
Suatu ketika salah satu murid saya bertanya, "Buk, kenapa guru disebut
PAHLAWAN TANPA TANDA JASA? kan kami bayar uang sekolah, guru juga
digaji." saya tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.
"Sekarang ibu mau tanya sama kamu, sudah cukup uang sekolah dan gaji
yang diterima seorang guru untuk membalas jasa-jasanya? Guru yang
mengenalkan kamu huruf A-Z, guru yang dengan sabar membimbing kamu
mengenalkan hal-hal yang kamu gak tau hingga membuat kamu sukses dan
kelak kamu mempunyai gaji yang lebih dari guru kamu. Apakah kamu masih
membayar lagi kepada nya atas kesuksesan kamu itu? bahkan nanti kamu
lupa namanya." saya tatap sang murid yang terdiam.
"Berapa mahal sih kamu bayar seorang guru untuk sekedar menegur kamu
kalau kamu malas belajar, menasehati kamu kalau kamu mulai salah,
padahal guru kamu itu bukan siapa-siapa kamu, gak ada hubungan darah,
tapi dia rela membuang energinya untuk memberi nasehat panjang lebar
untuk kamu." murid itu semakin terdiam.
Mulia sekali bukan? Guru itu Profesi yang luar biasa, yang tak bisa
dipandang sebelah mata. Dari tangan sang guru lah terlahir matahari yang
akan memberi cahaya pada Negeri ini.
Masih pantaskah kita bertanya kenapa atas kehormatan PAHLAWAN TANPA TANDA JASA itu?
Sekarang saya semakin sadar, bukan gaji yang tinggi yang saya cari, tapi
semangat yang tinggi untuk menciptakan generasi yang hebat. Bukan
generasi yang hanya pintar tapi juga bermoral.
Menjadi seorang guru itu ternyata harus dari hati, karena nilai sebuah
ketulusan benar-benar diuji. Dua bulan yang lalu pun saya menyadari
tugas guru yang sesungguhnya adalah mendidik tapi tidak menggunakan
kekerasan pada fisik. Saya murka dengan guru yang seenaknya melayangkan
tamparan kepada murid-muridnya saat mereka melakukan suatu kenakalan,
bagi saya cukup dengan menampar hati mereka dengan nasehat, itu akan
memberi bekas yang lama, namun tamparan wajah hanya akan memberi rasa
benci dan dendam dihati mereka. Jangan pernah didik mereka dengan
kekerasan didiklah dengan kasih sayang.
Kenakalan murid itu hanya sebuah perasaan yang tak bisa mereka
ungkapkan, bahwa mereka ingin diberi ekstra perhatian. Sulitkah menebar
cinta pada mereka?
Semoga cita-cita ini terwujud, bisa melahirkan banyak matahari untuk
Indonesia hingga Indonesia bercahaya dari sinar Matahari yang sempurna.
Akhirnya saya benar-benar menemukan maknanya. Makna dibalik kata
PAHLAWAN itu, yang kini tanda kehormatan PAHLAWAN bisa saya sandang jika
menjadi Guru yang sesungguhnya. Guru yang bukan datang kesekolah hanya
karena mengharap gaji semata, tapi Guru yang datang karena panggilan
jiwa. Jiwa yang rindu kebaikan moral bangsanya. Ya, itulah guru
sesungguhnya.
Sumber : http://uwagoeltom.blogspot.co.id/
0 komentar:
Posting Komentar