Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Keberagaman yang Salah Tafsir

   Tidak ada komentar     
categories: 
Persatuan adalah modal utama suatu bangsa. Ibarat filosofi batang lidi dan sapu. Indonesia bukanlah sebatang lidi yang hanya memiliki satu bentuk, satu ukuran, satu warna dan satu tujuan. Indonesia adalah sebuah sapu dengan puluhan batang lidi, puluhan warna, bentuk dan ukuran. Sehingga untuk menyatukan puluhan batang lidi tersebut, kita butuh tali pengikat.
Sama halnya dengan sebuah sapu yang butuh pengikat untuk menyatukan tujuan. Indonesia sebagai negara multikulturalisme yang terdiri dari beragam suku, adat, agama, tradisi, warna kulit, bahasa hingga adat-istiadat maka untuk menyatukannya, Indonesai butuh pengikat agar semua batang keberagaman tersebut dapat terangkul dalam satu pilar negara sebagai unsur pemersatu bangsa. Telah kita ketahui, pendiri bangsa ini telah merumuskan satu pilar atas dasar keberagaman dan kemajemukkan yang kita sebut Bhinneka Tunggal Ika (Unity In Diversity): berbeda-beda tetapi tetap satu jua. 

Simbol kebhinekaan ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya raya. Ya kaya dalam artian keberagamaan budaya. Kita pantas berbangga diri dengan kekayaan dalam keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia. Multikulturalisme yang dimiliki Indonesia menjadi kekayaan tak ternilai harganya. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat kaya akan sumber daya, budaya dan kesenian. Sebagai gambaran, negara yang berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa dengan 1.128 suku bangsa dan 741 bahasa. Tentu dari keberagaman ini lahir  maha karya besar dari masing-masing budaya. Terbukti Indonesia memiliki berbagai macam tradisi, seperti tradisi penikahan  adat Jawa, pernikahan adat Gorontalo, pernikahan adat Lombok dan masih banyak lagi. Kesemua tradisi tersebut memiliki perbedaan dari segi tata cara pelaksanaannya. Belum lagi dari jenis tarian Indonesia yang begitu banyak. Hampir seluruh daerah memiliki tarian daerah. Begitu juga pakaian adat dan rumah adat. Jika kita selami seluruhnya, maka Indonesia benar-benar pantas sebagai penyandang negara dengan kebudayaan terkaya di dunia.
Agaknya, perlu kita selami kembali makna keberagaman itu sendiri. Nyatanya, keberagaman selain sebagai kekayaan juga sebagai tantangan. Sebagai negara Indonesia yang baik, seharusnya kita tidak boleh terlalu lama terlena dalam balutan kata-kata manis, balutan kebanggaaan sebagai negara dengan kekayaan budaya terbesar. Kita perlu menengok kedepan, bahwa negara ini sebenarnya mengantongi ratusan tantangan. Tantangan terbesar bangsa, justru pada keberagaman itu sendiri.
Disadari ataupun tidak, keberagaman kerap bersinggungan dengan konflik horizontal. Bahkan, bukan sesuatu yang baru jika keberagamanlah ujung pangkal dari sebuah konflik horizontal yang kerap menghujani bumi nusantara.
Perbedaan perspektif kerap kali menjadi pemicu konflik antar-golongan. Konflik antar golongan atau lebih populer disebut konflik rasial. Perbedaan persepktif yang muncul karena perbedaan suku, agama, budaya, tradisi, bahasa hingga adat, bisa menjadi pemicu munculnya sentimentil agama, suku-etnik, bahasa dan sebagainya. Sentimentil semacam itu sering kita sebut sebagai sikap rasialisme. Sikap yang menganggap golongannyalah yang terbaik dan dan menganggap buruk atau jelek golongan lain. Sikap semacam inilah yang menjadi akar konflik yang kini mulai menjamur di nusantara. Antar-golongan sama-sama mengaggap sebagai yang paling benar. Jika masing-masing golongan akan mempertahankan pandangan mereka, tanpa ada yang mengalah. Maka konflik bisa saja terjadi. Seperti konflik sentimentil agama yang terjadi di Poso, sulawesi tengah beberapa tahun silam. Konflik di kesukuan di Papua, dan masih banyak lagi konflik yang dipicu oleh keberagaman dan perbedaan persepketif masyarakat yang diakibatkan oleh sikap rasialisme.
Sungguh sangat disayangkan, jika perbedaan disalah artikan. Ketika keberagaman dinilai sebagai sesuatu yang mendatangkan malapetaka. Perlu disadari, bahwa konflik yang terjadi di bumi pertiwi seharusnya tak dapat disandingakan dengan keberagaman yang ada. Yakinilah, bahwa frekuensi konflik yang terjadi masih tergolong rendah jika disandingkan dengan tingkat keberagaman dan kemajemukan kebudayaan Indonesia.
Indonesia harus mulai memikirkan bagaimana mengubah tantangan menjadi sebuah kekuatan. Multikulturasilme Indonesia yang menjadi kekayaan terbesar bangsa disebut-sebut sebagai pemicu konflik rasial. Kesalahan perspektif inilah yang perlu diluruskan.
Multikulturalisme bukan pemicu konflik melainkan merupakan kekuatan bangsa dalam menghadapi berbagai arang dan rintangan serta dalam mengarungi labirin kehidupan bangsa, terutama dalam upaya pembangunan bangsa seutuhnya.
Keberagaman yang lahir dari perbedaan budaya Indonesia merupakan modal penting dalam kemajuan bangsa. Kebudayaan  menjadi kunci suatu bangsa untuk mengatasi segala kesulitan dan masalah-masalah yang timbul, terutama di era globalisasi. Perlu kita sadari, sesungguhnya di dalam multikulturalisme tersembunyi kekuatan yang muncul dari budaya yang berjenis-jenis. Setiap budaya memiliki kekuatan tersendiri. Itu sebabnya budaya satu membutuhkan budaya yang lain. Ibarat sebuah rantai, kita terikat dan saling kait antara satu mata rantai dan lainnya. Jika perbedaan dan keberagaman itu disatukan, tentu akan menjadi sebuah kekuatan maha dasyat dalam melawan arus negatif globalisasi yang menawarkan monokultural. Banyangkan, seandainya Indonesia hanya terdiri dari satu suku, adat, bahasa, agama, budaya atau monokulturalisme. Maka Indonesia akan mudah disapu oleh bangsa lain. mungkin saja, detik ini kita masih harus berjuang dengan bambu runcing melawan penjajah. Nyatanya Indonesia dianugrahi  dengan keberagaman dan kemajemukkan atau multikulturalisme.
Hakekatnya, multikulturalismelah yang membuat Indonesia kuat dan mampu melawan penjajah, karena ketika golongan yang satu kalah, maka golongan yang lain akan bahu membahu melawan. Sehingga kelemahan satu golongan akan tertutupi oleh golongan lain. itulah makna multikulturalisme yang sesungguhnya.
Di era globalisasi ini, makna perbedaan adalah anugrah Tuhan yang terbesar memang telah disalahartikan. Hal demikian itu disebabkan oleh munculnya sikap rasialisme. Memang tak dipungkiri rasialisme memang merupakan racun paling ampuh dalam melunturkan multikulturalisme. Jika suatu negara telah terinfeksi racun, tentu ia membutuhkan sebuah penawar. Penawar paling ampuh dalam upaya menangkal rasialisme adalah dengan kembali menguatkan makna keberagaman itu sendiri. Baik dari segi suku, budaya, agama, bahasa, adat-istiadat. Kesemua itu menunjukkan identitas kita sebagai warga negara Indonesia. Disamping itu, masyarakat perlu ditanamkan sikap Bhineka Tunggal Ika sejak dini, agar mengerti bahwa keberagaman adalah anugrah Tuhan yang terindah.
           

Agar Badak Jawa Gak Pusing Pala Barbie

   Tidak ada komentar     
categories: 
Istilah “Pusing Pala Barbie” mugkin cocok untuk menggambarkan kehidupan Badak Jawa yang kian
hari kian memprihatinkan. Hal ini karena jumlah mereka yang semakin menyusut dan terdesak. Dewasa ini, permasalahan yang paling intens dibicarakan adalah mengenai mengadaan rumah yang nyaman untuk keberlangsungan hidup Badak Jawa.
Upaya menyediakan rumah yang nyaman dan aman bagi binatang bernama Badak Jawa ini tidak dapat ditunda lagi. Deretan panjang ancaman kepunahannya seharusnya menjadi perhatian berbagai pihak. Kehidupan di hutan belantara sudah tak lagi menjadi urutan nomer satu, mengingat banyaknya pemburuan liar terhadap hewan langka ini.
Berbagai hal telah diupayakan guna menemukan rumah yang memadai untuk keberlangsungan episode kehidupan Badak Jawa,  terutama Badak Jawa yang sudah terancam punah. Di Indonesia, populasi Badak Jawa Jawa bisa di temukan di Taman Nasional Ujung Kulon  dengan jumlah yang sangat sedikit, hanya sekitar 60 ekor.
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan wilayah yang  cocok untuk habitat Badak Jawa. Namun, perlu dipertimbangkan lagi untuk membiarkan Badak Jawa bertahan di Taman Nasional Ujung Kulon. Mengingat lokasi Taman Nasional Ujung Kulon yang berdekatan dengan Gunung Krakatau yang suatu waktu dapat meletus dan menghancurkan populasi hewan langka ini. Disamping itu, di Taman Nasional Ujung Kulon Badak Jawa Jawa harus hidup dengan dua kekhwatiran besar, yaitu ancaman pemburu gelap yang menginginkan cula mereka dan jumlah asupan pakan alami yang kurang, karena Badak Jawa harus bersaing dengan Banteng yang jumlahnya lebih besar dibandingkan Badak Jawa.
Melihat penomena tersebut, maka keputusan untuk menemukan rumah baru bagi Badak Jawa sangat perlu di lakukan, mengingat populasi Badak Jawa yang semakin terdesak. Berdasarkan penelitian awal WFF, tersebutlah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat sebagai rumah kedua yang cocok untuk Badak Jawa, karena lokasinya yang tidak terlalu jauh serta pernah menjadi habitat Badak Jawa.
Taman Nasional Halimun di Gunung Salak dianggap lebih nyaman untuk rumah Badak Jawa. Hal ini karena Badak Jawa bisa bebas mencari makan tanpa harus khawatir bersaing dengan Banteng seperti di Taman Nasional Ujung Kulon. Hal lain yang menjadi pertimbangan untuk memilih Taman Nasional Halimun di Gunung Salak sebagai lokasi baru untuk rumah Badak Jawa, karena topografi Taman Nasional Halimun di Gunung Salak sangat sesuai dengan habitat Badak Jawa. Selain itu, lokasi Taman Nasional Halimun di Gunung Salak juga berada jauh dari gunung berapi, sehingga populasi Badak Jawa dirasa lebih aman berada di Taman Nasional Halimun di Gunung Salak dibandingkan tetap berada di Taman Nasional Ujung Kulon.
Seperti halnya manusia ketika hendak pindah ke rumah baru, mereka butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi rumah barunya. Begitu pula dengan Badak Jawa. Bukan perkara mudah memindah Badak Jawa dari Taman Nasional Ujung Kulon ke Taman Nasional Halimun di Gunung Salak. Kekhawatiran terbesar adalah Badak Jawa tidak mampu beradaptasi dengan habitat baru mereka. Namun, ada bebarapa hal yang bisa dilakukan guna mengoptimalkan pemindahan rumah Badak Jawadan tentunya membuat mereka nyaman di rumah baru. Adapun hal-hal tersebut, yaitu :
1.      Optimalisasi Kubangan yang nyaman. Mengingat Indonesia sekarang berada dalam musim kemarau, maka perlu adanya upaya dari pemerintah maupun masyarakat untuk turut menjaga ketersediaan air bagi Badak Jawa. Adapun upaya yang dilakukan dengan rutin mengontrol daerah kubangan. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terjadi kekeringan di daerah kubangan. Jika didapati kubangan dalam kondisi kering, maka petugas perlu melakukan penyaluran air menuju tempat-tempat kubangan tersebut. Disamping itu, untuk menjaga kubangan tetap terisi air, dapat dilakukan dengan penggalian sumur di dekat kubangan yang berfungsi sebagai lokasi cadangan air, jika suatu waktu kubangan mengalami kekeringan. Kubangan yang nyaman akan mampu meminimalisir tingkat stres Badak Jawa, karena binatang yang satu ini umumnya lebih suka berlama-lama dalam kubangan. Selain untuk menjaga suhu tubuh, berkubang di lumpur juga dapat mencegah penyakit dan parasit.
2.      Sistem keamanan habitat baru perku ditingkatkan, agar meminimalisir aksi pemburuan liar dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memasang kamera pengintai lebih banyak. Sebagai catatan, sebelum melakukan pemasangan kamera pengintai, petugas harus mengetahui jalur-jalur yang biasa dilalui Badak Jawa. Nah, upayakan agar kamrea pengintai dipasang di jalur-jalur yang biasa dilalui Badak Jawa.
3.      Kedepan, Badak Jawa akan berada di Taman Nasional Halimun Gunung Salak yang juga merupakan lokasi wisata, maka ada baiknya petugas menyiapkan jalur khusus untuk pengunjung agar tidak mengganggu aktivitas Badak Jawa. Kita ketahui bersama, bahwa sifat dasar Badak Jawa adalah tenang dan pemalu, kecuali sedang berkembang biak atau seekor induk yang sedang mengasuh anakknya.
4.      Pengelolaan Taman Nasional Halimun Gunung Salak juga harus memperhatikan ketersediaan pakan alami Badak Jawa. Di Taman Nasional Ujung Kulon ketersediaan pakan alami Badak Jawa sangat minim. Hal ini disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan tanaman Invasi langkap (Arenga Obtusifolia) di sekitar lokasi tumbuhnya pakan alami Badak Jawa. Tumbuhan tersebut menghalangi masuknya sinar matahari yang akhirnya menghambat tumbuhnya semak-semak dan ranting yang menjadi pakan alami Badak Jawa.
            Demikianlah upaya yang dapat dilakukan untuk optimalisai rumah yang nyaman bagi Badak Jawa. Intinya, setiap mahluk hidup akan merasa aman dan nyaman jika kebutuhan pokok mereka telah terpenuhi. Oleh karena itu, upaya yang dapat kita lakukan dalam rangka mendukung perkembangbiakan dan kenyamanan Badak Jawa adalah dengan memenuhi kebutuhan pokok Badak Jawa berupa penyedian pangan yang memadai serta rumah yang nyaman yang terbebas dari ancaman dan ganguan pihak lain, baik binatang lain maupun manusia.
            Terakhir, upaya pelesatrian Badak Jawa harus terus digencarkan, baik dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat maupun dengan aksi-aksi yang mendukung pelestarian Badak Jawa. Kegiatan lomba menulis ini juga merupakan upaya yang sangat tepat dalam menyosialisasikan pelestraian Badak Jawa di masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu mendukung situ-situs edukasi seperti vivo.co.id serta organisasi pemeduli Badak Jawa seperti WFF.   

By : Fatima Az Zahra
Salah satu Esai saya yang dimuat di www.viva.co.id

Memperkasakan Literasi Agar Terpelihara Generasi

   Tidak ada komentar     
categories: 
Literasi bukan merupakan sesuatu yang asing bagi kita, terlebih lagi bagi mereka yang menyandang profesi keguruan, khususnya guru bahasa, entah itu bahasa Indonesia, bahasa Daerah maupun bahasa Asing. Bagi kaum akademik, literasi bisa dikatakan sebagai makanan keseharian mereka, meski hanya berupa sebuah tugas rumah yang diberikan dosen kepada mahasiswanya atau guru kepada siswanya. Lalu sejauh mana literasi yang kita pahami? Apakah hanya terbatas pada kegiatan baca-tulis yang kita kenal selama ini? 
            Literasi memang identik dengan dunia membaca dan menulis. Bahkan sebagian orang kerap menyebutkan kegiatan literasi dengan kegiatan membuat cerpen, menulis puisi, membaca dan kegiatan berbau kebahasaan lainnya. Lantas, apa sebenarnya literasi dalam makna yang sesungguhnya? Saya mengutip pendapat Koiichiro Matsuura, Director-General UNESCO, beliau menjelaskan bahwa literasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi mencakup bagaimana berkomunikasi dalam masyarakat, terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.
Berdasarkan penjelasan Koiichiro Matsuura, literasi memang tidak hanya melulu tentang dunia membaca dan menulis. Lebih dari itu, dunia literasi dapat menjadi sebuah wujud keberadaan bangsa. Mengapa saya katakan demikian? Apa hubungannya literasi dengan keberadaan bangsa?
Forum Lingkar Pena Bersama Bundaku Baca Gorontalo
Jelas ada hubungannya, jika ditarik dari makna literasi, di situ terdapat  makna literasi sebagai sebuah bahasa dan alat komunikasi antar-masyarakat. Tentu kita masih ingat penggalan Ikrar Sumpah Pemuda “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Bahasa sendiri merupakan wujud dari keberadaan bangsa. Karena tanpa bahasa, tentu tidak ada komunikasi, tidak ada kaum yang memerintah maupun kaum yang diperintah. Artinya, tidak ada negara. Jadi, literasi dalam hal ini juga merupakan aspek pemersatu yang merupa kan cikal bakal lahirnya suatu bangsa.
Disamping itu, bangsa yang maju tidak bisa dibangun dengan hanya mengandalkan kekayaan alam yang melimpah ataupun pengelolaan negara yang baik. Akan tetapi, didapat juga dari peradaban tulisan atau penguasaan literasi yang dapat menjembatani peradaban dari  generasi ke genarasi barunya. Perjalanan suatu bangsa dapat diketehui oleh generasi berikutnya melalui ulasan sejarah yang mereka temukan dalam buku-buku. Buku sejarah dapat mudah ditemukan karena jasa penggiat literasi terdahulu. Merekalah yang bersuka rela membukukan dan menulis setiap penggal sejarah perjalanan bangsa ini. Coba kita banyangkan, andai kata nenek moyang kita tidak pernah berinisiatif untuk menulis ataupun membukukan kisah perjalanan hidup mereka, tentu sampai detik ini kita tidak akan pernah mengetahui jikalau Indonesia pernah merdeka di tahun 1945.
Berdasarkan paparan tersebut. Literasi merupakan hal yang urgen ada dan harus dikembangkan oleh suatu bangsa. Namun sungguh disayangkan, negara dengan jumlah kebudayaan serta keberagamaan tutur bahasa yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Perkembangan akan dunia literasi terkesan lamban bahkan hampir tidak diminati, khususnya bagi generasi muda. Mereka lebih tertarik dengan dunia visual dibandingkan dengan dunia literasi, sehingga menonton dianggap lebih ngetop dibandingkan membaca.
Hal demikian memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena memang Indonesia lebih dahulu dipengaruhi oleh dunia visual dibandingkan dengan dunia litarasi. Akibatnya, masyarakat khususnya generasi muda lebih dominan memilih menonton dibandingkan membaca buku. Meskipun tidak salah sepenuhnya, ketidakpekaan generasi muda terhadap literasi harus mendapatkan perhatian yang serius. Sebab jika dibiarkan, maka bisa dipastikan dalam kurun waktu yang tidak lama, literasi di Indonesia akan berakhir seiring dengan bergantinya generasi ke generasi berikutnya.
Negara tentu tidak ingin mewariskan generasi yang lemah. Generasi yang mudah melupakan sejarah bangsanya. Menyikapi hal tersebut, setidaknya ada dua solusi yang bisa kita lakukan dalam upaya memperkasakan kembali literasi yang mulai luntur, khususnya di kalangan generasi muda. Salah satunya adalah melalui kegiatan menulis buku harian. Menulis buku harian secara sepintas terlihat sangat sepele, tapi dampak dari kebiasaan menulis buku harian sejak dini bisa menumbuhkan kegemaran literasi bagi anak. Banyak tokoh besar yang lahir menjadi seorang penulis yang berangkat dari kebiasaan menulis buku harian salah satunya adalah Raditya Dika. Penulis yang kebanyakan karyanaya mengandung komedi itu, memulai karir kepenulisannya di dunia Blogger yang tak jauh beda dengan buku harian atau diary.
Disamping membiasakan menulis buku harian, memperkasakan kembali literasi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi perpustakaan. Perpustakaan dipahami sebagai sarana yang menyediakan penggalian informasi secara lengkap dan tepat. Di sana, anda akan menemukan beragam informasi yang disajikan melalui buku-buku maupun internet yang beragam jenisnya. mengoptimalkan kebedaradaan perpustakaan menjadi hal yang harus diperhitungkan bagi pemerintah.   
Sayangnya, persoalan mengenai optimalisasi perpustakan agaknya belum menjadi topik utama pemerintah dalam upaya memperkasakan literasi di kalangan generasi muda. Pemerintah terkesan hanya menyuruh atau mendorog badan bahasa atau organisasi kebahasaan lainnya untuk berupaya meningkatkan minat literasi masyarakat terutama generasi muda. Akan tetapi, pemerintah tidak mendukung secara penuh hal tersebut. Jika demikian, pemerintah bisa dikatakan bermimpi untuk mewujudkan generasi literasi yang unggul. Sedangkan perhatian pemerintah terhadapan kepustakaan masih dianaktirikan.
Nasib perpustakaan sastra yang dianaktirikan dirasakan pula oleh sebuah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di taman Ismail Marjuki. PDS tersebut Terancam akan ditutup karena kurang mendapat kucuran dana dari pemerintah. Meskipun, dokumentasi sastra tersebut merupakan milik pribadi, setidaknya pemerintah harus turut menjaga hasil karya sastra anak bangsa dengan turut memeliharnya melalui subsidi dana untuk pengelolaannya.
Persoalan mengenai PDS HB Jassin yang teraccam tutup merupakan segelintir kecil masalah dokumentasi sastra Indonesia. Masalah itu membuktikan jika kepustakaan di Indonesia masih dikesampingkan. Apa jadinya jika pusat-pusat dokumentasi sastra tidak ada, apakah bangsa ini masih mengenal sejarah sastra? Seiring tidak dikenalnya sejarah sastra, maka perkembangan litarasi di Indonesia akan lambat bahkan mungkin saja akan punah, begitu pun dengan perkembangan generasi. Generasi berikutnya bisa jadi tak mengenal karya sastra ataupun dunia literasi. Mereka akan lebih mengenal dunia visual sebagaimana yang telah terjadi sekarang ini. Televisi, radio, game dan berbagai media visual lainnya seolah memiliki tempat tersendiri di hati para remaja dan anak-anak. Mereka lebih menghapal judul film dibandingkan judul buku.
Jadi, di sinilah dibutuhkan setidaknya dua peran elemen masyarakat, yaitu pemerintah dan masyarakat itu sendiri untuk turut menjaga dan mengembangkan dunia literasi melalui kegiatan menulis buku harian sejak dini serta optimalisasi fungsi perpustakaan. Hal ini dimaksudkan agar generasi kedepan bisa mencicipi sastra sastra sebelum mereka, bahkan bisa menjadi penggiat-penggiat literasi yang akan menyelamatkan bangsa dari kepunahan karya sastra. Disamping itu, kegiatan literasi sejak dini dapat menjadi benteng pertahanan masa depan dalam menangkal budaya globalisasi yang menyuguhkan kehidupan instan yang berpangkal dari seringnya menonton dibanding membaca. Selanjutnya, generasi yang terbaik adalah generasi yang mengetahui sejarah bangsanya serta belajar dari sejarah itu. Sejarah bangsa bisa tertulis atau tidak, itu berada di ujung pena penggiat literasi.