Persatuan adalah modal utama suatu bangsa. Ibarat filosofi batang
lidi dan sapu. Indonesia bukanlah sebatang lidi yang hanya memiliki satu
bentuk, satu ukuran, satu warna dan satu tujuan. Indonesia adalah sebuah sapu
dengan puluhan batang lidi, puluhan warna, bentuk dan ukuran. Sehingga untuk
menyatukan puluhan batang lidi tersebut, kita butuh tali pengikat.
Sama halnya dengan sebuah sapu yang butuh pengikat untuk menyatukan
tujuan. Indonesia sebagai negara multikulturalisme yang terdiri dari beragam
suku, adat, agama, tradisi, warna kulit, bahasa hingga adat-istiadat maka untuk
menyatukannya, Indonesai butuh pengikat agar semua batang keberagaman tersebut
dapat terangkul dalam satu pilar negara sebagai unsur pemersatu bangsa. Telah
kita ketahui, pendiri bangsa ini telah merumuskan satu pilar atas dasar
keberagaman dan kemajemukkan yang kita sebut Bhinneka Tunggal Ika (Unity In Diversity): berbeda-beda tetapi
tetap satu jua.
Simbol kebhinekaan ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang
kaya raya. Ya kaya dalam artian keberagamaan budaya. Kita pantas berbangga diri
dengan kekayaan dalam keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia. Multikulturalisme
yang dimiliki Indonesia menjadi kekayaan tak ternilai harganya. Dalam konteks
ini, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang menjadikan Indonesia
sebagai negara yang sangat kaya akan sumber daya, budaya dan kesenian. Sebagai
gambaran, negara yang berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa dengan 1.128 suku
bangsa dan 741 bahasa. Tentu dari keberagaman ini lahir maha karya besar dari masing-masing budaya.
Terbukti Indonesia memiliki berbagai macam tradisi, seperti tradisi
penikahan adat Jawa, pernikahan adat
Gorontalo, pernikahan adat Lombok dan masih banyak lagi. Kesemua tradisi
tersebut memiliki perbedaan dari segi tata cara pelaksanaannya. Belum lagi dari
jenis tarian Indonesia yang begitu banyak. Hampir seluruh daerah memiliki
tarian daerah. Begitu juga pakaian adat dan rumah adat. Jika kita selami
seluruhnya, maka Indonesia benar-benar pantas sebagai penyandang negara dengan
kebudayaan terkaya di dunia.
Agaknya, perlu kita selami kembali makna keberagaman itu sendiri.
Nyatanya, keberagaman selain sebagai kekayaan juga sebagai tantangan. Sebagai
negara Indonesia yang baik, seharusnya kita tidak boleh terlalu lama terlena
dalam balutan kata-kata manis, balutan kebanggaaan sebagai negara dengan
kekayaan budaya terbesar. Kita perlu menengok kedepan, bahwa negara ini
sebenarnya mengantongi ratusan tantangan. Tantangan terbesar bangsa, justru
pada keberagaman itu sendiri.
Disadari ataupun tidak, keberagaman kerap bersinggungan dengan
konflik horizontal. Bahkan, bukan sesuatu yang baru jika keberagamanlah ujung
pangkal dari sebuah konflik horizontal yang kerap menghujani bumi nusantara.
Perbedaan perspektif kerap kali menjadi pemicu konflik
antar-golongan. Konflik antar golongan atau lebih populer disebut konflik
rasial. Perbedaan persepktif yang muncul karena perbedaan suku, agama, budaya,
tradisi, bahasa hingga adat, bisa menjadi pemicu munculnya sentimentil agama,
suku-etnik, bahasa dan sebagainya. Sentimentil semacam itu sering kita sebut
sebagai sikap rasialisme. Sikap yang menganggap golongannyalah yang terbaik dan
dan menganggap buruk atau jelek golongan lain. Sikap semacam inilah yang
menjadi akar konflik yang kini mulai menjamur di nusantara. Antar-golongan
sama-sama mengaggap sebagai yang paling benar. Jika masing-masing golongan akan
mempertahankan pandangan mereka, tanpa ada yang mengalah. Maka konflik bisa
saja terjadi. Seperti konflik sentimentil agama yang terjadi di Poso, sulawesi
tengah beberapa tahun silam. Konflik di kesukuan di Papua, dan masih banyak
lagi konflik yang dipicu oleh keberagaman dan perbedaan persepketif masyarakat
yang diakibatkan oleh sikap rasialisme.
Sungguh sangat disayangkan, jika perbedaan disalah artikan. Ketika
keberagaman dinilai sebagai sesuatu yang mendatangkan malapetaka. Perlu
disadari, bahwa konflik yang terjadi di bumi pertiwi seharusnya tak dapat
disandingakan dengan keberagaman yang ada. Yakinilah, bahwa frekuensi konflik
yang terjadi masih tergolong rendah jika disandingkan dengan tingkat
keberagaman dan kemajemukan kebudayaan Indonesia.
Indonesia
harus mulai memikirkan bagaimana mengubah tantangan menjadi sebuah kekuatan.
Multikulturasilme Indonesia yang menjadi kekayaan terbesar bangsa disebut-sebut
sebagai pemicu konflik rasial. Kesalahan perspektif inilah yang perlu
diluruskan.
Multikulturalisme bukan pemicu konflik melainkan merupakan kekuatan
bangsa dalam menghadapi berbagai arang dan rintangan serta dalam mengarungi
labirin kehidupan bangsa, terutama dalam upaya pembangunan bangsa seutuhnya.
Keberagaman yang lahir dari perbedaan budaya Indonesia merupakan
modal penting dalam kemajuan bangsa. Kebudayaan
menjadi kunci suatu bangsa untuk mengatasi segala kesulitan dan
masalah-masalah yang timbul, terutama di era globalisasi. Perlu kita sadari,
sesungguhnya di dalam multikulturalisme tersembunyi kekuatan yang muncul dari
budaya yang berjenis-jenis. Setiap budaya memiliki kekuatan tersendiri. Itu sebabnya
budaya satu membutuhkan budaya yang lain. Ibarat sebuah rantai, kita terikat
dan saling kait antara satu mata rantai dan lainnya. Jika perbedaan dan
keberagaman itu disatukan, tentu akan menjadi sebuah kekuatan maha dasyat dalam
melawan arus negatif globalisasi yang menawarkan monokultural. Banyangkan,
seandainya Indonesia hanya terdiri dari satu suku, adat, bahasa, agama, budaya
atau monokulturalisme. Maka Indonesia akan mudah disapu oleh bangsa lain.
mungkin saja, detik ini kita masih harus berjuang dengan bambu runcing melawan
penjajah. Nyatanya Indonesia dianugrahi dengan
keberagaman dan kemajemukkan atau multikulturalisme.
Hakekatnya, multikulturalismelah yang membuat Indonesia kuat dan
mampu melawan penjajah, karena ketika golongan yang satu kalah, maka golongan
yang lain akan bahu membahu melawan. Sehingga kelemahan satu golongan akan
tertutupi oleh golongan lain. itulah makna multikulturalisme yang sesungguhnya.
Di era globalisasi ini, makna perbedaan adalah anugrah Tuhan yang
terbesar memang telah disalahartikan. Hal demikian itu disebabkan oleh
munculnya sikap rasialisme. Memang tak dipungkiri rasialisme memang merupakan
racun paling ampuh dalam melunturkan multikulturalisme. Jika suatu negara telah
terinfeksi racun, tentu ia membutuhkan sebuah penawar. Penawar paling ampuh
dalam upaya menangkal rasialisme adalah dengan kembali menguatkan makna
keberagaman itu sendiri. Baik dari segi suku, budaya, agama, bahasa,
adat-istiadat. Kesemua itu menunjukkan identitas kita sebagai warga negara
Indonesia. Disamping itu, masyarakat perlu ditanamkan sikap Bhineka Tunggal Ika
sejak dini, agar mengerti bahwa keberagaman adalah anugrah Tuhan yang terindah.

0 komentar:
Posting Komentar