Selasa, 30 Agustus 2016

Memperkasakan Literasi Agar Terpelihara Generasi

   Tidak ada komentar     
categories: 
Literasi bukan merupakan sesuatu yang asing bagi kita, terlebih lagi bagi mereka yang menyandang profesi keguruan, khususnya guru bahasa, entah itu bahasa Indonesia, bahasa Daerah maupun bahasa Asing. Bagi kaum akademik, literasi bisa dikatakan sebagai makanan keseharian mereka, meski hanya berupa sebuah tugas rumah yang diberikan dosen kepada mahasiswanya atau guru kepada siswanya. Lalu sejauh mana literasi yang kita pahami? Apakah hanya terbatas pada kegiatan baca-tulis yang kita kenal selama ini? 
            Literasi memang identik dengan dunia membaca dan menulis. Bahkan sebagian orang kerap menyebutkan kegiatan literasi dengan kegiatan membuat cerpen, menulis puisi, membaca dan kegiatan berbau kebahasaan lainnya. Lantas, apa sebenarnya literasi dalam makna yang sesungguhnya? Saya mengutip pendapat Koiichiro Matsuura, Director-General UNESCO, beliau menjelaskan bahwa literasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi mencakup bagaimana berkomunikasi dalam masyarakat, terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.
Berdasarkan penjelasan Koiichiro Matsuura, literasi memang tidak hanya melulu tentang dunia membaca dan menulis. Lebih dari itu, dunia literasi dapat menjadi sebuah wujud keberadaan bangsa. Mengapa saya katakan demikian? Apa hubungannya literasi dengan keberadaan bangsa?
Forum Lingkar Pena Bersama Bundaku Baca Gorontalo
Jelas ada hubungannya, jika ditarik dari makna literasi, di situ terdapat  makna literasi sebagai sebuah bahasa dan alat komunikasi antar-masyarakat. Tentu kita masih ingat penggalan Ikrar Sumpah Pemuda “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Bahasa sendiri merupakan wujud dari keberadaan bangsa. Karena tanpa bahasa, tentu tidak ada komunikasi, tidak ada kaum yang memerintah maupun kaum yang diperintah. Artinya, tidak ada negara. Jadi, literasi dalam hal ini juga merupakan aspek pemersatu yang merupa kan cikal bakal lahirnya suatu bangsa.
Disamping itu, bangsa yang maju tidak bisa dibangun dengan hanya mengandalkan kekayaan alam yang melimpah ataupun pengelolaan negara yang baik. Akan tetapi, didapat juga dari peradaban tulisan atau penguasaan literasi yang dapat menjembatani peradaban dari  generasi ke genarasi barunya. Perjalanan suatu bangsa dapat diketehui oleh generasi berikutnya melalui ulasan sejarah yang mereka temukan dalam buku-buku. Buku sejarah dapat mudah ditemukan karena jasa penggiat literasi terdahulu. Merekalah yang bersuka rela membukukan dan menulis setiap penggal sejarah perjalanan bangsa ini. Coba kita banyangkan, andai kata nenek moyang kita tidak pernah berinisiatif untuk menulis ataupun membukukan kisah perjalanan hidup mereka, tentu sampai detik ini kita tidak akan pernah mengetahui jikalau Indonesia pernah merdeka di tahun 1945.
Berdasarkan paparan tersebut. Literasi merupakan hal yang urgen ada dan harus dikembangkan oleh suatu bangsa. Namun sungguh disayangkan, negara dengan jumlah kebudayaan serta keberagamaan tutur bahasa yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Perkembangan akan dunia literasi terkesan lamban bahkan hampir tidak diminati, khususnya bagi generasi muda. Mereka lebih tertarik dengan dunia visual dibandingkan dengan dunia literasi, sehingga menonton dianggap lebih ngetop dibandingkan membaca.
Hal demikian memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena memang Indonesia lebih dahulu dipengaruhi oleh dunia visual dibandingkan dengan dunia litarasi. Akibatnya, masyarakat khususnya generasi muda lebih dominan memilih menonton dibandingkan membaca buku. Meskipun tidak salah sepenuhnya, ketidakpekaan generasi muda terhadap literasi harus mendapatkan perhatian yang serius. Sebab jika dibiarkan, maka bisa dipastikan dalam kurun waktu yang tidak lama, literasi di Indonesia akan berakhir seiring dengan bergantinya generasi ke generasi berikutnya.
Negara tentu tidak ingin mewariskan generasi yang lemah. Generasi yang mudah melupakan sejarah bangsanya. Menyikapi hal tersebut, setidaknya ada dua solusi yang bisa kita lakukan dalam upaya memperkasakan kembali literasi yang mulai luntur, khususnya di kalangan generasi muda. Salah satunya adalah melalui kegiatan menulis buku harian. Menulis buku harian secara sepintas terlihat sangat sepele, tapi dampak dari kebiasaan menulis buku harian sejak dini bisa menumbuhkan kegemaran literasi bagi anak. Banyak tokoh besar yang lahir menjadi seorang penulis yang berangkat dari kebiasaan menulis buku harian salah satunya adalah Raditya Dika. Penulis yang kebanyakan karyanaya mengandung komedi itu, memulai karir kepenulisannya di dunia Blogger yang tak jauh beda dengan buku harian atau diary.
Disamping membiasakan menulis buku harian, memperkasakan kembali literasi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi perpustakaan. Perpustakaan dipahami sebagai sarana yang menyediakan penggalian informasi secara lengkap dan tepat. Di sana, anda akan menemukan beragam informasi yang disajikan melalui buku-buku maupun internet yang beragam jenisnya. mengoptimalkan kebedaradaan perpustakaan menjadi hal yang harus diperhitungkan bagi pemerintah.   
Sayangnya, persoalan mengenai optimalisasi perpustakan agaknya belum menjadi topik utama pemerintah dalam upaya memperkasakan literasi di kalangan generasi muda. Pemerintah terkesan hanya menyuruh atau mendorog badan bahasa atau organisasi kebahasaan lainnya untuk berupaya meningkatkan minat literasi masyarakat terutama generasi muda. Akan tetapi, pemerintah tidak mendukung secara penuh hal tersebut. Jika demikian, pemerintah bisa dikatakan bermimpi untuk mewujudkan generasi literasi yang unggul. Sedangkan perhatian pemerintah terhadapan kepustakaan masih dianaktirikan.
Nasib perpustakaan sastra yang dianaktirikan dirasakan pula oleh sebuah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di taman Ismail Marjuki. PDS tersebut Terancam akan ditutup karena kurang mendapat kucuran dana dari pemerintah. Meskipun, dokumentasi sastra tersebut merupakan milik pribadi, setidaknya pemerintah harus turut menjaga hasil karya sastra anak bangsa dengan turut memeliharnya melalui subsidi dana untuk pengelolaannya.
Persoalan mengenai PDS HB Jassin yang teraccam tutup merupakan segelintir kecil masalah dokumentasi sastra Indonesia. Masalah itu membuktikan jika kepustakaan di Indonesia masih dikesampingkan. Apa jadinya jika pusat-pusat dokumentasi sastra tidak ada, apakah bangsa ini masih mengenal sejarah sastra? Seiring tidak dikenalnya sejarah sastra, maka perkembangan litarasi di Indonesia akan lambat bahkan mungkin saja akan punah, begitu pun dengan perkembangan generasi. Generasi berikutnya bisa jadi tak mengenal karya sastra ataupun dunia literasi. Mereka akan lebih mengenal dunia visual sebagaimana yang telah terjadi sekarang ini. Televisi, radio, game dan berbagai media visual lainnya seolah memiliki tempat tersendiri di hati para remaja dan anak-anak. Mereka lebih menghapal judul film dibandingkan judul buku.
Jadi, di sinilah dibutuhkan setidaknya dua peran elemen masyarakat, yaitu pemerintah dan masyarakat itu sendiri untuk turut menjaga dan mengembangkan dunia literasi melalui kegiatan menulis buku harian sejak dini serta optimalisasi fungsi perpustakaan. Hal ini dimaksudkan agar generasi kedepan bisa mencicipi sastra sastra sebelum mereka, bahkan bisa menjadi penggiat-penggiat literasi yang akan menyelamatkan bangsa dari kepunahan karya sastra. Disamping itu, kegiatan literasi sejak dini dapat menjadi benteng pertahanan masa depan dalam menangkal budaya globalisasi yang menyuguhkan kehidupan instan yang berpangkal dari seringnya menonton dibanding membaca. Selanjutnya, generasi yang terbaik adalah generasi yang mengetahui sejarah bangsanya serta belajar dari sejarah itu. Sejarah bangsa bisa tertulis atau tidak, itu berada di ujung pena penggiat literasi.  

0 komentar:

Posting Komentar