Literasi bukan
merupakan sesuatu yang asing bagi kita, terlebih lagi bagi mereka yang
menyandang profesi keguruan, khususnya guru bahasa, entah itu bahasa Indonesia,
bahasa Daerah maupun bahasa Asing. Bagi kaum akademik, literasi bisa dikatakan
sebagai makanan keseharian mereka, meski hanya berupa sebuah tugas rumah yang
diberikan dosen kepada mahasiswanya atau guru kepada siswanya. Lalu sejauh mana
literasi yang kita pahami? Apakah hanya terbatas pada kegiatan baca-tulis yang
kita kenal selama ini?
Literasi memang
identik dengan dunia membaca dan menulis. Bahkan sebagian orang kerap menyebutkan
kegiatan literasi dengan kegiatan membuat cerpen, menulis puisi, membaca dan
kegiatan berbau kebahasaan lainnya. Lantas, apa sebenarnya literasi dalam makna
yang sesungguhnya? Saya mengutip pendapat Koiichiro Matsuura, Director-General UNESCO, beliau
menjelaskan bahwa literasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi
mencakup bagaimana berkomunikasi dalam masyarakat, terkait dengan pengetahuan,
bahasa, dan budaya.
Berdasarkan penjelasan Koiichiro Matsuura, literasi memang
tidak hanya melulu tentang dunia membaca dan menulis. Lebih dari itu, dunia
literasi dapat menjadi sebuah wujud keberadaan bangsa. Mengapa saya katakan
demikian? Apa hubungannya literasi dengan keberadaan bangsa?
![]() |
| Forum Lingkar Pena Bersama Bundaku Baca Gorontalo |
Jelas ada hubungannya, jika ditarik dari makna literasi, di
situ terdapat makna literasi sebagai
sebuah bahasa dan alat komunikasi antar-masyarakat. Tentu kita masih ingat
penggalan Ikrar Sumpah Pemuda “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.
Bahasa sendiri merupakan wujud dari keberadaan bangsa. Karena tanpa bahasa,
tentu tidak ada komunikasi, tidak ada kaum yang memerintah maupun kaum yang
diperintah. Artinya, tidak ada negara. Jadi, literasi dalam hal ini juga merupakan
aspek pemersatu yang merupa kan cikal bakal lahirnya suatu bangsa.
Disamping itu, bangsa yang
maju tidak bisa dibangun dengan hanya mengandalkan kekayaan alam yang melimpah
ataupun pengelolaan negara yang baik. Akan tetapi, didapat juga dari peradaban
tulisan atau penguasaan literasi yang dapat menjembatani peradaban dari generasi ke genarasi barunya. Perjalanan suatu bangsa dapat diketehui oleh generasi
berikutnya melalui ulasan sejarah yang mereka temukan dalam buku-buku. Buku
sejarah dapat mudah ditemukan karena jasa penggiat literasi terdahulu.
Merekalah yang bersuka rela membukukan dan menulis setiap penggal sejarah perjalanan
bangsa ini. Coba kita banyangkan, andai kata nenek moyang kita tidak pernah
berinisiatif untuk menulis ataupun membukukan kisah perjalanan hidup mereka,
tentu sampai detik ini kita tidak akan pernah mengetahui jikalau Indonesia
pernah merdeka di tahun 1945.
Berdasarkan paparan tersebut. Literasi merupakan hal yang
urgen ada dan harus dikembangkan oleh suatu bangsa. Namun sungguh disayangkan,
negara dengan jumlah kebudayaan serta keberagamaan tutur bahasa yang bisa
dikatakan lebih dari cukup. Perkembangan akan dunia literasi terkesan lamban
bahkan hampir tidak diminati, khususnya bagi generasi muda. Mereka lebih tertarik
dengan dunia visual dibandingkan dengan dunia literasi, sehingga menonton
dianggap lebih ngetop dibandingkan membaca.
Hal demikian memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya,
karena memang Indonesia lebih dahulu dipengaruhi oleh dunia visual dibandingkan
dengan dunia litarasi. Akibatnya, masyarakat khususnya generasi muda lebih
dominan memilih menonton dibandingkan membaca buku. Meskipun tidak salah
sepenuhnya, ketidakpekaan generasi muda terhadap literasi harus mendapatkan
perhatian yang serius. Sebab jika dibiarkan, maka bisa dipastikan dalam kurun
waktu yang tidak lama, literasi di Indonesia akan berakhir seiring dengan
bergantinya generasi ke generasi berikutnya.
Negara tentu tidak ingin mewariskan generasi yang lemah.
Generasi yang mudah melupakan sejarah bangsanya. Menyikapi hal tersebut, setidaknya
ada dua solusi yang bisa kita lakukan dalam upaya memperkasakan kembali
literasi yang mulai luntur, khususnya di kalangan generasi muda. Salah satunya adalah
melalui kegiatan menulis buku harian. Menulis buku harian secara sepintas
terlihat sangat sepele, tapi dampak dari kebiasaan menulis buku harian
sejak dini bisa menumbuhkan kegemaran literasi bagi anak. Banyak tokoh besar
yang lahir menjadi seorang penulis yang berangkat dari kebiasaan menulis buku
harian salah satunya adalah Raditya Dika. Penulis yang kebanyakan karyanaya
mengandung komedi itu, memulai karir kepenulisannya di dunia Blogger
yang tak jauh beda dengan buku harian atau diary.
Disamping membiasakan menulis buku harian, memperkasakan
kembali literasi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi perpustakaan.
Perpustakaan dipahami sebagai sarana yang menyediakan penggalian informasi
secara lengkap dan tepat. Di sana, anda akan menemukan beragam informasi yang
disajikan melalui buku-buku maupun internet yang beragam jenisnya. mengoptimalkan
kebedaradaan perpustakaan menjadi hal yang harus diperhitungkan bagi pemerintah.
Sayangnya, persoalan mengenai optimalisasi perpustakan
agaknya belum menjadi topik utama pemerintah dalam upaya memperkasakan literasi
di kalangan generasi muda. Pemerintah terkesan hanya menyuruh atau mendorog
badan bahasa atau organisasi kebahasaan lainnya untuk berupaya meningkatkan
minat literasi masyarakat terutama generasi muda. Akan tetapi, pemerintah tidak
mendukung secara penuh hal tersebut. Jika demikian, pemerintah bisa dikatakan
bermimpi untuk mewujudkan generasi literasi yang unggul. Sedangkan perhatian
pemerintah terhadapan kepustakaan masih dianaktirikan.
Nasib perpustakaan sastra yang dianaktirikan dirasakan pula
oleh sebuah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di taman Ismail Marjuki. PDS
tersebut Terancam akan ditutup karena kurang mendapat kucuran dana dari
pemerintah. Meskipun, dokumentasi sastra tersebut merupakan milik pribadi,
setidaknya pemerintah harus turut menjaga hasil karya sastra anak bangsa dengan
turut memeliharnya melalui subsidi dana untuk pengelolaannya.
Persoalan mengenai PDS HB Jassin yang teraccam tutup
merupakan segelintir kecil masalah dokumentasi sastra Indonesia. Masalah itu
membuktikan jika kepustakaan di Indonesia masih dikesampingkan. Apa jadinya
jika pusat-pusat dokumentasi sastra tidak ada, apakah bangsa ini masih mengenal
sejarah sastra? Seiring tidak dikenalnya sejarah sastra, maka perkembangan
litarasi di Indonesia akan lambat bahkan mungkin saja akan punah, begitu pun
dengan perkembangan generasi. Generasi berikutnya bisa jadi tak mengenal karya
sastra ataupun dunia literasi. Mereka akan lebih mengenal dunia visual
sebagaimana yang telah terjadi sekarang ini. Televisi, radio, game dan
berbagai media visual lainnya seolah memiliki tempat tersendiri di hati para
remaja dan anak-anak. Mereka lebih menghapal judul film dibandingkan judul
buku.
Jadi, di sinilah dibutuhkan setidaknya dua peran elemen
masyarakat, yaitu pemerintah dan masyarakat itu sendiri untuk turut menjaga dan
mengembangkan dunia literasi melalui kegiatan menulis buku harian sejak dini
serta optimalisasi fungsi perpustakaan. Hal ini dimaksudkan agar generasi
kedepan bisa mencicipi sastra sastra sebelum mereka, bahkan bisa menjadi
penggiat-penggiat literasi yang akan menyelamatkan bangsa dari kepunahan karya
sastra. Disamping itu, kegiatan literasi sejak dini dapat menjadi benteng
pertahanan masa depan dalam menangkal budaya globalisasi yang menyuguhkan
kehidupan instan yang berpangkal dari seringnya menonton dibanding membaca.
Selanjutnya, generasi yang terbaik adalah generasi yang mengetahui sejarah
bangsanya serta belajar dari sejarah itu. Sejarah bangsa bisa tertulis atau
tidak, itu berada di ujung pena penggiat literasi.

0 komentar:
Posting Komentar