Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2016

Seperti Khadijah

“Ketika kita mengharapkan yang datang adalah pribadi seperti Muhammad Saw, kitalah dahulu yang menjadi Khadijah”
Saudariku, kita umpamakan  saat menangkap ikan pada bejana kecil.  Sudah jelas kan kita tahu bagaimana besar ikan itu, warnanya apa dan seperti gerak geriknya, mudah untuk menangkapnya, sehingga kita tidak perlu menyediakan banyak alat atau tenaga yang kuat. Cukuplah sediakan kedua tangan kita, ikan itu pasti akan tertangkap.
Tapi bagaimana jika kita hendak menangkap ikan di lautan lepas yang belum kita ketahui bagaiamana kondisinya, besarnya seperti apa, dan bagaiamana bentuknya. Bisa jadi ikan itu kecil sehingga kita tidak butuh kekuatan lebih untuk menangkapnya. Bisa jadi ia bukan ikan tapi ubur-ubur, sehingga kita harus menyiapkan baju renang anti sengatan untuk menangkapannya, atau jaring khusus. Bisa jadi ia cumi-cumi sehingga kita harus memilki trik khusus untuk menangkapnya agar tak terkena racun.
Demikianlah, hal nya dalam menangkap ikan. Ada yang sudah jelas ada yang belum jelas. Jodoh itu bukan hal yang sudah jelas seperti ikan dalam bejana kecil. Jodo itu hal yang ajaib, seperti menangkap ika di lauatan lepas.
Perlu ada persiapan khusus yang harus kita penuhi. Mulai dari periapan lahir maupun batin. Tak cukup dengan hanya mengatakan saya siap menyambut jodoh, tapi apa persiapan kita sudah sampai pada titik maksimal?
Jangan salahkan ketika kita hanya siap di lisan dalam menyambut jodoh, maka jodoh yang datang pun adalah jodoh pas-pasan yang bisa jadi sayangnya pas-pasan, ya pas habis nikah aja. Bisa jadi solehnya juga pas-pasan, pas shalatnya yang wajib saja
Beberapa waktu lalu, saya sempat cerita dengan seorang muslimah,
Ya Mba, Insya Allah saya gak mau dapat jodoh orang sini. Apalagi belangnya mereka sudah pada ketahuan, katanya aktivis dakwah. Tapi masih sering smsan sama yang bukan mahram. Katanya aktivis dakwah. Tapi masih sering tebar pesona gak jelas di hadapan para wanita. Disuruh tundukin pandangan, malah kita perempuan yang disuruh pakai burdah. Ih, pokoknya saya mau cari yang seperti Nabi Muhammad. Ya minimal 10% akhalaknya Muhammad.
Oh jadi kamu inginnya dapat suami yang seperti muhamad?
Iya dong. Muhamad itu, sosok lelaki yang sempurna. Beliau itu sungguh memuliakan wanita. Saat wanita mengeluh karena sakit atau menderita akibat suaminya mati di medan jihad, maka Muhammad akan menyelamatkan wanita itu.
Ingat kan kisah nabi Muhammad yang pulang larut malam kemudian mengetahui bahwa rumahnya telah terkunci rapat, karena takut jika ia mengetuk pintu, Aisyah akan terbangun dan merasa bersalah. Makai Nabi pun tidur di depan pintu. Ketika pagi datang, betapa kagetnya si Humairah melihat kekasihnya tidur di depan pintu. Maka saat itu, Aisyah langsung meminta maaf pada suaminya. Muhammad yang melihat Aisyah minta maaf, langsung menyambut tangan istri beliau dan saling berebut meminta maaf dan mengaku salah. Romantiskan muhamad?
Iya, Muhammad memang sang uswah yang wajib untuk kita teladani akhlaknya. Yakin, kamu benar-benar menginginkan sosok seperti Muhamad menjadi imammu?
Insya Allah, aku yakin.
Nah, kamunya sudah seperti bunda Khadijah belum?
***
Tersadar apa tidak, kita memang selalu mengharapkan yang muluk-muluk untuk hidup kita. Lebih-lebih perkara jodoh, seperti hal nya persiapan menangkap ikan yang butuh banyak alat dan kesiapan. Begitu pula dengan jodoh.
Ketika kita mengharapkan yang datang adalah pribadi seperti Muhammad Saw, tentunya kitalah dahulu yang menjadi Bunda Khadijah. Minimal mendekati
Jodoh itu cerminan diri, seperti apa kita begitu pula jodoh kita.
Menginginkan sosok seperti Muhammad itu sah-sah saja. Bahkan dianjurkan, setidaknya sebagai motivasi kita memperbaiki diri, Khadijahkan diri kita Maka insya Allah Muhammad pun akan datang.

Selasa, 30 Agustus 2016

Ini Makna Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Bagi Guru

Bertahun-tahun yang lalu, saya masih meraba-raba untuk memahami apa makna sesungguhnya dari seorang guru yang diberi tanda kehormatan sebagai PAHLAWAN tanpa tanda jasa.
Hingga saat dimana saya, tiga tahun lalu berstatus sebagai Mahasiswi yang kelak akan menjadi seorang guru. Dimana status itu sebenarnya tak saya inginkan.
"Duh, dimana 'gengsi' nya sebagai seorang guru? cita-cita saya kan jadi dokter atau jadi pegawai di Departemen Keuangan. Gajinya kan banyak." begitu pikir saya diawal-awal menjalani hari sebagai calon guru masa depan.
"Apa yang mau diharapkan dari profesi seorang guru? gaji pas-pasan, tugasnya juga gak mudah." Tapi semua pikiran-pikiran seperti itu sirna seiring perlahan saya menikmati proses untuk menjadi guru.
Hati gak bisa bohong dan jalan-Nya tak pernah salah. Saya ditakdirkan untuk menjadi seorang Guru, ya seorang Guru!
Proses demi proses saya jalani menuju terwujudnya menjadi seorang guru. Tiga tahun kuliah, teori sudah ditangan tinggal praktek yang dinanti, menikmati hari-hari menjadi seorang ibu guru.
Akhirnya, setelah mencari-cari makna yang sesungguhnya dibalik kata PAHLAWAN itu, dua bulan yang lalu saya menemukannya, saya dapat memaknainya. Karena dimulai dua bulan yang lalu, saya berdiri dihadapan 40 pasang mata. Menyapa generasi muda, bertanya apa mimpi mereka. Ya, saya menjadi guru sesungguhnya. Kini benar-benar menjadi nyata.
Tau seperti apa rasanya berdiri dihadapan penerus generasi bangsa ini? Menjadi pusat perhatian dari seluruh pasang mata. Jika saat itu saat yang tepat untuk meneteskan airmata, saya ingin menangis, menangis haru dihadapan mereka. saya BAHAGIA, itulah ungkapan hati saya.
Perasaan ini mungkin takkan saya rasakan kalau saya menjadi seorang dokter. Kini saya tau, saya lebih dari seorang dokter. Ketika dokter bertugas menyembuhkan orang sakit, tapi saya bertugas menyembuhkan moral yang sakit. Ya, seperti apa generasi bangsa ini ada ditangan seorang guru bukan dokter. Maka dengan bangga saya mengatakan saya adalah GURU.
Suatu ketika salah satu murid saya bertanya, "Buk, kenapa guru disebut PAHLAWAN TANPA TANDA JASA? kan kami bayar uang sekolah, guru juga digaji." saya tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.
"Sekarang ibu mau tanya sama kamu, sudah cukup uang sekolah dan gaji yang diterima seorang guru untuk membalas jasa-jasanya? Guru yang mengenalkan kamu huruf A-Z, guru yang dengan sabar membimbing kamu mengenalkan hal-hal yang kamu gak tau hingga membuat kamu sukses dan kelak kamu mempunyai gaji yang lebih dari guru kamu. Apakah kamu masih membayar lagi kepada nya atas kesuksesan kamu itu? bahkan nanti kamu lupa namanya." saya tatap sang murid yang terdiam.
"Berapa mahal sih kamu bayar seorang guru untuk sekedar menegur kamu kalau kamu malas belajar, menasehati kamu kalau kamu mulai salah, padahal guru kamu itu bukan siapa-siapa kamu, gak ada hubungan darah, tapi dia rela membuang energinya untuk memberi nasehat panjang lebar untuk kamu." murid itu semakin terdiam.
Mulia sekali bukan? Guru itu Profesi yang luar biasa, yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dari tangan sang guru lah terlahir matahari yang akan memberi cahaya pada Negeri ini.
Masih pantaskah  kita bertanya kenapa atas kehormatan PAHLAWAN TANPA TANDA JASA itu?
Sekarang saya semakin sadar, bukan gaji yang tinggi yang saya cari, tapi semangat yang tinggi untuk menciptakan generasi yang hebat. Bukan generasi yang hanya pintar tapi juga bermoral.
Menjadi seorang guru itu ternyata harus dari hati, karena nilai sebuah ketulusan benar-benar diuji. Dua bulan yang lalu pun saya menyadari tugas guru yang sesungguhnya adalah mendidik tapi tidak menggunakan kekerasan pada fisik. Saya murka dengan guru yang seenaknya melayangkan tamparan kepada murid-muridnya saat mereka melakukan suatu kenakalan, bagi saya cukup dengan menampar hati mereka dengan nasehat, itu akan memberi bekas yang lama, namun tamparan wajah hanya akan memberi rasa benci dan dendam dihati mereka. Jangan pernah didik mereka dengan kekerasan didiklah dengan kasih sayang.
Kenakalan murid itu hanya sebuah perasaan yang tak bisa mereka ungkapkan, bahwa mereka ingin diberi ekstra perhatian. Sulitkah menebar cinta pada mereka?
Semoga  cita-cita ini terwujud, bisa melahirkan banyak matahari untuk Indonesia hingga Indonesia bercahaya dari sinar Matahari yang sempurna.
Akhirnya saya benar-benar menemukan maknanya. Makna dibalik kata PAHLAWAN itu, yang kini tanda kehormatan PAHLAWAN bisa saya sandang jika menjadi Guru yang sesungguhnya. Guru yang bukan datang kesekolah hanya karena mengharap gaji semata, tapi Guru yang datang karena panggilan jiwa. Jiwa yang rindu kebaikan moral bangsanya. Ya, itulah guru sesungguhnya.

Kamis, 18 Desember 2014

Terima Kasih Untuk Cintamu, Ibu


Assalamu’alaikum Ibu!
Kujumpai jua dirimu, meski hanya lewat secarik kertas buram ini. Selalu ada yang ingin tersampaikan dari lisan putrimu. Tapi, mengetahui teramat jauh kau dari pandangku semua itu urung, terbias bersama jarak yang terlanjur memisahkan ragamu dan diriku.
Ibu, teramat rindu hati ini berjumpa dengan wajah cerahmu yang tak pernah melayu, meski panas kian ganas menerpa, aku rindu saat jemari kasarmu mengisi ruang kosong di sela-sela jemari ini.
Duhai ibu, kusadari tugasmu teramat berat. Bukanlah hal yang mudah untuk mendidik aku dan keenam adikku. kelembutan yang selalu mengalir dari tutur katamu ketika mengajari kami cara menyebut namamu untuk pertama kalinya. Sehingga kini ku sadari, mengapa Allah meletakan Surga dibawah telapak kakimu, menyebut namamu tiga kali dalam Hadis kekasih-Nya, Muhammad SAW.
Sungguh perih tatkala menyaksikan wanita yang telah menghadirkanku untuk bermetamorfosa didunia ini, kini kau tak hanya sekedar mendidikku dan adik-adik. Namun, sekali lagi aku menolak. Aku menolak melihat peran hidupmu yang kini mengganda, ketika tulang rusuk harus berganti peran menjadi tulang punggung. Tapi kusadar, itulah bukti baktimu jua pada imammu yang tak lain adalah ayahku. Kau rela bekerja meski disaat adik bungsuku telah siap kau lahirkan kedunia. Ya, ayah memang tak mampu bekerja seorang diri, sakit yang menderita tulangnya, menjadi alasan dari kesemuanya.
Hehh, desah nafasku semakin melambat, berat. Aku tak menyangka begitu mulia peranmu Ibu, andai detik ini aku dapat berjumpa denganmu, tentu tangan kurusku tak kan berhenti menyeka gerimis dari kedua mata air wajahku.
Tak ada tempat termulia yang sanggup menempatkan kemuliaan baktimu sebagai ibu, kecuali jannah-Nya yang tengah menantimu. Betapa ingatan ini melayang pada kilasan waktu beberapa tahun silam. Dimana jemarimu dan jemariku saling melengkapi dalam dekapan jiwamu, tak kau biarkan walau secuil kerikil tajam dan lumpur hitam mendekati kaki kecilku.  bahkan ketika aku terjatuh, seketika naluri keibuanmu bekerja. Dengan lembut kau belai rambut tipisku, kau selalu yakinkan aku bahwa perjalanan menemukan jati diri bukanlah perkara mudah, MENGELUH sama halnya dengan menyerah! Itulah mantra ajaibmu yang tak pernah lekang dari ingatanku.
Ketika kertas buram ini menjumpaimu. Ku mohon, jangan biarkan kristal bening itu berguguran dari kelopak matamu. Karena tangan kurus ini tak mampu menjangkau wajah teduhmu, tak mampu untuk menghapusnya.
Satu yang selalu ku pinta pada Tuhanku, entahlah mungkin Ia bosan medengar ocehan do’aku disetiap perjumpaan malamku dengan-Nya. Namamu, selalu menjadi favoritku. Tidakkah kau ingin mengetahui apa yang kupinta padaNya? Aku pinta suatu ketika, tatkala aku menjadi sepertimu, aku ingin setegar dirimu, sekuat dan sesabar hatimu.
Duhai pahlawan sejatiku, kata cinta saja mungkin tak cukup untuk melukiskan betapa putri sulungmu ini begitu mengidolakanmu. Ingatkah ibu dengan mantra ajaib yang selalu mampir di telingaku setiap malam-malam kita dahulu?  ”Allah kasihilah kedua orang tuaku sebagaimana ia mengasihiku semenjak kecil”. Kau tahu ibu? Mantra itulah pengantar tidurku.
            Terimakasih ibu telah berjuang untuk menghadirkan aku kedunia ini, meski kadang hadirku menjadi bebanmu, tak pernah guratan keluh kesah itu kau tampakkan padaku. Itulah yang menjadikan putrimu ini semakin mengidolakanmu. Ibu aku mencintaimu
Dari putri sulungmu,
Fatima Az Zahra
Gorontalo, 22 November 2014




Senin, 10 November 2014

Jika Bersungguh-Sungguh! Kamulah Pemenangnya

Aku Sang aktivis dengan milyaran impian yang menari-nari tepat 5 Cm di hadapan otak datarku.
Jiwa juang pantang menyerah, itulah tongkak spiritku menapaki setiap bilah kehidupan di muka bumi ini. Jika hanya bertanya tentang pahitnya kehidupan? Ah, agaknya tak cukup waktu ini untuk memuntahkannya dalam penuturan lisan kecil ini
Jiwa berbicara kekecewaan? Sudahlah, pahit tak ubahnya hanyalah sebuah rasa, nikmati! Layaknya obat, pahit bagai maja namun manis ujungnya.
Mata semakin meredup, diseperdua malam ini. Jemari-jemari kasarku masih lincah menindis tombol-tombol notebook putih ini. Jika boleh kuungkapkan, sesungguhnya, SAKIT! ... Tapi, jikaku nyatanya detik ini masih bergemuruh.

Entahlah,
Semakin aku menatap gambar dengan menara menjulang kelangit ini, semakin kuat asa itu menancap di hatiku. Bahkan! Tak cukup waktu seabad untuk mampu mencabutnya kembali.
Sudah ku bilang! Aku ini wanita dengan sejuta impian, dengan garang dan ambisi yang membara
ku lontarkan “SUATU SAAT NANTI AKU AKAN BERADA DI SETIAP SUDUT DUNIA”
MIMPI bukanlah mutlak milik orang-orang tidur, tapi MIMPI yang hakiki adalah milik si pengukir asa
“Jika Kita memiliki keinginan, dan bersungguh-sungguh meraihnya. MAKA seluruh partikel dimuka bumi ini akan berkontribusi membantu Kita!”
Catatan Hati Sang Aktivis, 10 Nov 2014
00:02 am, senin
Fatima Az Zahra