Sabtu, 13 Juni 2015

Maafkan Untuk Satu Ramadhan Terakhirmu

   Tidak ada komentar     
categories: 
Aku pasti berdosa!
Kali ini, ya kali ya pasti!
Aku yakin aku berdosa!
Masih menyesal dengan semua ini, sesak rasanya. Napas masih turun naik. Tersengal. sesekali mengelus dada. Jauh di sana. Dibagian terkecil itu masih berbisik. Bisiknya lirih. Hampir hilang dan tak terdengar lagi. Kata-katanya tabu. Entahlah. Mungkin menghilang terbawa rasa sakit yang kian menderu. Hingga nada merdunya terganti melodi false tak beraturan.
Pemuda berhidung tinggi itu, masih terus menepuk-nepuk dada. Seperti ada bongkahan batu besar mengganjal hatinya. Sekali. Dua kali. Matanya masih terus terpejam. Tapi bukan tertidur. Pemuda itu tidak tidur. Ia menangis.
“Mengapa dia ya Allah?”
Pita suaranya bergetar. Jeritannya terpecah. Menghunus setiap siku masjid kecil dimana ia masih bersimpu dan terpejam.
“Ya Allah, mengapa?”
Teriakan itu sekali lagi terdengar. Hingga mengusik sepasang mata lain di masjid itu.
            “Faiz, kau kenapa?”
Rama yang sedari tadi terbuai dengan pulau kapuknya terhentak. Ia kaget. Bukan karena kepanasan atau kebakaran. Tapi karena teriakan pemuda itu. Teriakan langka yang bahkan tak pernah didengarnya. Walau empat tahun telah bersama dalam bilik sempit kos.
            “kau kenapa, Iz? Ceritalah!” Rama gigih mendesak sahabatnya.
Keadaan ini telah risaukan hatinya. Tak biasa, bahkan tak pernah. Mengapa pemuda tegar ini bisa menangis. Ku kira ia tak tahu bagaimana cara mengeluarkan air matanya. Ini aneh. Sungguh aneh.
Tapi, tunggu.
            “Apa ini Iz?”
Sebuah kertas buram berwarna putih. Tulisannya tak jelas. Aksaranya pun tak beraturan. Lebih lagi kertas kecil ini bukan hanya telah kusut terkoyak. Bahkan ia hampir robek. Seisi sudutnya hanya ditaburi oleh bekas air. Tepatnya air mata.
            Perlahan tangannya, mencomot kertas itu. Berharap kertas dapat menjawab teka teki hatinya. Mengapa pemuda setegar Faizal Arifin ini bisa begitu cengeng. Bahkan melebihi adik gadisnya.
            Dibacanya pelan aksara itu. Tulisanya semakin tak jelas. Tapi ia mencoba memungut akasara demi aksara hingga terangkai. Dan inilah yang akhirnya ia baca.

Teruntuk putra ibu
Faizal Arifin
Nak, menjadi ibu itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Nak, menjadi ibu itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ibu dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ibu itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, ibu seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas keibuanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling ibu banggakan di depan siapapun. Bahkan di hadapan Tuhan, ketika ibu duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya ibu dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata di hadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usaha ibu adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karenaNya, bukan karena ibu dan ayahmu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya ibu harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, ibu akan ikhlas. Karena seperti itulah ibu di dunia. Tapi, kalau boleh ibu berharap, ibu ingin saat itu ibu melihatmu dekat dengan Tuhan. Ibu akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.
Nak, jikalau engkau membaca tulisan ini. ibu sudah pergi jauh menghadap pemilik yang sesungguhnya. Bila masa pertemukan kita kembali di alam yang berbeda. Bagi ibu cukuplah bertemu denganmu di satu ramadhan. Seperti saat-saat dahulu bersua denganmu. Ketahuilah anakku di malam itu. Ibu selalu bermimpi wajah tampanmu tersenyum pada ibu. Memeluk ibu. Dan mengatakan “Ibu, satu ramadhan ini Faiz pulang”. Tapi rasanya itu tak mungkin. Keberadaanmu tak dekat, ibu paham itu Nak.
Sekarang, gema tauhid berkumandang menghiasi langit ramadhan. Ibu masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Berharap bisa melihatmu di malam ini. karena malam ini, awal kita dan sang pemilik takdir bersua dalam bingkai cinta, bersua dengan bulan yang termulia.
Nak, jikalau kau bisa, jikalau Tuhan masih memberi umurmu diperpanjang. Datanglah di makam ibu, ibu masih menunggumu di satu ramadhan tahun depan.
.....................................
            “Innalillahi wainna ilaihi rajiun” suara itu terdengar getir, pahit mungkin tak berasa. Inilah yang terjadi pada sahabatnya, sahabat yang dikenalnya tegar, menetesakan air mata. Karena ini. sungguh karena ini.
Tak menunggu aba-aba atau peluit. Segera ia menghamburkan tubuhnya pada Faiz yang masih tersungkur sambil terus terisak. Ia tak kuasa.
            “Ini ramadhan, Iz. Ini bulan yang suci. Dan Allah memanggil ibumu tepat di hari yang suci dan bulan yang suci pula. Ini tanda Allah ingin menyucikan ibumu. Kau tak boleh ratapi sahabat. Ingatlah betapa mulainya orang yang dipanggil di bulan ini”
            Faiz tak menoleh. Matanya masih terlihat sembab. Ia tak menghiraukan perkataan Rama. Sesekali matanya melirik pemuda itu. Namun setelah ia melihat kertas putih itu. Isakan tangisnya berlanjut kembali.
“Seharusnya, iktikafku malam ini tak harus seperti ini, apa artinya tahajudku, puasaku, tilawahku bahkan dzikir-dzikir pagi dan petangku yang tak pernah putus. Jika ternyata dosaku pada wanita yang telah melahirkanku begitu besar. Aku takut, nerakaNya akan melahapku” kali ini nada suara Faiz merintih
“Bukan karenamu, bukan. Ini bukan karenamu. Ibumu tak meninggalkanmu. Tapi ia dipanggil oleh pemilikNya. Apa hak kita? Bukankah Allah lebih berhak atas ibumu dibanding kau dan ayahmu?”
Percakapan dua sahabat itu, lamban. Terdengar bermakna. Namun ada seribu duka yang membalut dialog itu. Bukan luka biasa. Luka perih yang mencakar hati. Meski mencoba berpaling. Tapi jagkar luka itu terlalu dalam tertanam.
“Iz, sepertinya, kau harus segera berwudhu. Tunaikan Tahajud, semoga Allah menenangkan hatimu. Do’akanlah ibumu. Sahabatmu ini percaya Allah sedang jatuh cinta kepada keluargamu, sehingga ia menguji kalian di bulan mulia ini”
Faiz menurut kata sahabatnya itu. seperti anak domba yang mengekor induknya Kata-kata Rama memang tak salah. Tak seharusnya ia meratap karena qhado’Nya. Bulan ini, bukan untuk meratapi takdir. Tapi menghidupkannya dengan dzikir. Ia yakin dengan dzikirnya. Sang ibu akan tersenyum. Hati kecilnya berjanji, jika ramadhan tahun depan Allah masih perkenankan ia untuk bertemu. Maka ia takkan lupa untuk mengunjungi makam wanita itu.
Ditatapnya langit Serambi Madinah yang tak lagi membuncit karena mendung. Ia tersenyum. Sedang langitpun turut menghiburnya. Lantas mengapa ia khilaf menyalahkan takdir. Bukankah bulan ini lebih indah dari seribu bulan. Mengapa harus ia sia-siakan hanya untuk meratap. Ia mantapkan bahwa ibadah setiap Ramdahan akan ia niatkan untuk kebaikan sang ibu di sisinya.
Inilah, saat bakti yang sesungguhnya, harus aku tunjukan!  Bisiknya pelan menyemangati hati yang runtuh itu.