Aku pasti berdosa!
Kali ini, ya kali ya pasti!
Aku yakin aku berdosa!
Masih menyesal dengan semua ini, sesak rasanya.
Napas masih turun naik. Tersengal. sesekali mengelus dada. Jauh
di sana. Dibagian terkecil itu masih berbisik. Bisiknya lirih. Hampir hilang dan
tak terdengar lagi. Kata-katanya tabu. Entahlah. Mungkin menghilang terbawa
rasa sakit yang kian menderu. Hingga nada merdunya terganti melodi false tak
beraturan.
Pemuda berhidung tinggi itu, masih terus
menepuk-nepuk dada. Seperti ada bongkahan batu besar mengganjal hatinya.
Sekali. Dua kali. Matanya masih terus terpejam. Tapi bukan tertidur. Pemuda
itu tidak tidur. Ia menangis.
“Mengapa
dia ya Allah?”
Pita suaranya bergetar. Jeritannya terpecah.
Menghunus setiap siku masjid kecil dimana ia masih bersimpu dan terpejam.
“Ya
Allah, mengapa?”
Teriakan itu sekali lagi terdengar. Hingga
mengusik sepasang mata lain di masjid itu.
“Faiz,
kau kenapa?”
Rama yang sedari tadi terbuai dengan pulau
kapuknya terhentak. Ia kaget. Bukan karena
kepanasan atau kebakaran. Tapi karena teriakan pemuda itu. Teriakan langka yang
bahkan tak pernah didengarnya. Walau empat tahun telah bersama dalam bilik sempit
kos.
“kau
kenapa, Iz? Ceritalah!” Rama gigih mendesak sahabatnya.
Keadaan
ini telah risaukan hatinya. Tak biasa, bahkan tak pernah. Mengapa pemuda tegar
ini bisa menangis. Ku kira ia tak tahu bagaimana cara mengeluarkan air matanya. Ini aneh. Sungguh aneh.
Tapi, tunggu.
“Apa
ini Iz?”
Sebuah kertas buram berwarna putih. Tulisannya
tak jelas. Aksaranya pun tak beraturan. Lebih lagi kertas kecil ini bukan hanya
telah kusut terkoyak. Bahkan ia hampir robek. Seisi sudutnya hanya ditaburi
oleh bekas air. Tepatnya air mata.
Perlahan
tangannya, mencomot kertas itu. Berharap kertas dapat menjawab teka
teki hatinya. Mengapa pemuda setegar Faizal Arifin ini bisa begitu cengeng.
Bahkan melebihi adik gadisnya.
Dibacanya pelan aksara itu. Tulisanya semakin tak jelas. Tapi ia mencoba
memungut akasara demi aksara hingga terangkai. Dan inilah yang akhirnya ia
baca.
Teruntuk putra ibu
Faizal
Arifin
Nak, menjadi
ibu itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum
hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta.
Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun
kutemui.
Nak, menjadi
ibu itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa
nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ibu dengan anak-anaknya.
Meskipun
demikian, ketahuilah Nak, menjadi ibu itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa
sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, ibu seperti menemui keberadaanku, makna
keberadaanmu, dan makna tugas keibuanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu
adalah salah satu masa terindah dan paling ibu banggakan di depan siapapun.
Bahkan di hadapan Tuhan, ketika ibu duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga
saat usia senja ini.
Nak, sedih,
pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya ibu dan siapa engkau.
Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh
-penuh air mata di hadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu
Nak, satu-satunya usaha ibu adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang
sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan
segala sesuatu karenaNya, bukan karena ibu dan ayahmu. Tugasku bukan membuatmu
dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha
terberatku Nak, karena artinya ibu harus lebih dulu memberi contoh kepadamu
dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan.
Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Saat engkau
mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh
berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti
berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu,
ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak,
kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati
jarakku amat jauh dari Nya, ibu akan ikhlas. Karena seperti itulah ibu di
dunia. Tapi, kalau boleh ibu berharap, ibu ingin saat itu ibu melihatmu dekat
dengan Tuhan. Ibu akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa
kita kembalikan kepada pemiliknya.
Nak, jikalau
engkau membaca tulisan ini. ibu sudah pergi jauh menghadap pemilik yang
sesungguhnya. Bila masa pertemukan kita kembali di alam yang berbeda. Bagi ibu
cukuplah bertemu denganmu di satu ramadhan. Seperti saat-saat dahulu bersua
denganmu. Ketahuilah anakku di malam itu. Ibu selalu bermimpi wajah tampanmu
tersenyum pada ibu. Memeluk ibu. Dan mengatakan “Ibu, satu ramadhan ini Faiz
pulang”. Tapi rasanya itu tak mungkin. Keberadaanmu tak dekat, ibu paham itu Nak.
Sekarang, gema
tauhid berkumandang menghiasi langit ramadhan. Ibu masih sama seperti
tahun-tahun sebelumnya. Berharap bisa melihatmu di malam ini. karena malam ini,
awal kita dan sang pemilik takdir bersua dalam bingkai cinta, bersua dengan
bulan yang termulia.
Nak, jikalau
kau bisa, jikalau Tuhan masih memberi umurmu diperpanjang. Datanglah di makam
ibu, ibu masih menunggumu di satu ramadhan tahun depan.
.....................................
“Innalillahi
wainna ilaihi rajiun” suara itu terdengar getir, pahit mungkin tak berasa. Inilah
yang terjadi pada sahabatnya, sahabat yang dikenalnya tegar, menetesakan air
mata. Karena ini. sungguh karena ini.
Tak menunggu aba-aba atau peluit.
Segera ia menghamburkan tubuhnya pada Faiz yang masih tersungkur sambil terus
terisak. Ia tak kuasa.
“Ini
ramadhan, Iz. Ini bulan yang suci. Dan Allah memanggil ibumu tepat di hari yang
suci dan bulan yang suci pula. Ini tanda Allah ingin menyucikan ibumu. Kau tak
boleh ratapi sahabat. Ingatlah betapa mulainya orang yang dipanggil di bulan
ini”
Faiz
tak menoleh. Matanya masih terlihat sembab. Ia
tak menghiraukan perkataan Rama. Sesekali matanya melirik pemuda itu. Namun
setelah ia melihat kertas putih itu. Isakan tangisnya berlanjut kembali.
“Seharusnya,
iktikafku malam ini tak harus seperti ini, apa artinya tahajudku, puasaku,
tilawahku bahkan dzikir-dzikir pagi dan petangku yang tak pernah putus. Jika
ternyata dosaku pada wanita yang telah melahirkanku begitu besar. Aku takut,
nerakaNya akan melahapku” kali ini nada suara Faiz merintih
“Bukan
karenamu, bukan. Ini bukan karenamu. Ibumu tak meninggalkanmu. Tapi ia
dipanggil oleh pemilikNya. Apa hak kita? Bukankah Allah lebih berhak atas ibumu
dibanding kau dan ayahmu?”
Percakapan dua
sahabat itu, lamban. Terdengar bermakna. Namun ada seribu duka yang membalut
dialog itu. Bukan luka biasa. Luka perih yang mencakar hati. Meski mencoba
berpaling. Tapi jagkar luka itu terlalu dalam tertanam.
“Iz,
sepertinya, kau harus segera berwudhu. Tunaikan Tahajud, semoga Allah
menenangkan hatimu. Do’akanlah ibumu. Sahabatmu ini percaya Allah sedang jatuh
cinta kepada keluargamu, sehingga ia menguji kalian di bulan mulia ini”
Faiz menurut
kata sahabatnya itu. seperti anak domba yang mengekor induknya Kata-kata Rama memang tak salah. Tak seharusnya ia meratap karena qhado’Nya.
Bulan ini, bukan untuk meratapi takdir. Tapi menghidupkannya dengan dzikir. Ia
yakin dengan dzikirnya. Sang ibu akan tersenyum. Hati kecilnya berjanji, jika
ramadhan tahun depan Allah masih perkenankan ia untuk bertemu. Maka ia takkan
lupa untuk mengunjungi makam wanita itu.
Ditatapnya
langit Serambi Madinah yang tak lagi membuncit karena mendung. Ia tersenyum.
Sedang langitpun turut menghiburnya. Lantas mengapa ia khilaf menyalahkan
takdir. Bukankah bulan ini lebih indah dari seribu bulan. Mengapa harus ia
sia-siakan hanya untuk meratap. Ia mantapkan bahwa ibadah
setiap Ramdahan akan ia niatkan untuk kebaikan sang ibu di sisinya.
Inilah, saat
bakti yang sesungguhnya, harus aku tunjukan! Bisiknya pelan menyemangati hati yang runtuh
itu.
