Malam kian larut, kantukpun semakin ganas menyerang kelopak
mataku. Semakin membuktikan betapa kuatnya ambisi dan asa yang terpatri dalam
relung hati yang kini mengalir deras dalam pipa darahku. menyusup di sela-sela tulang dan menembus hatiku.
Aku Sang aktivis dengan milyaran impian yang menari-nari
tepat 5 Cm di hadapan otak
datarku.
Jiwa juang pantang menyerah, itulah tongkak spiritku menapaki
setiap bilah kehidupan di muka bumi ini. Jika hanya bertanya tentang pahitnya
kehidupan? Ah, agaknya tak cukup waktu ini untuk memuntahkannya dalam penuturan
lisan kecil ini
Jiwa berbicara kekecewaan? Sudahlah, pahit tak ubahnya
hanyalah sebuah rasa, nikmati! Layaknya obat, pahit bagai maja namun manis
ujungnya.
Mata semakin meredup, diseperdua malam ini. Jemari-jemari
kasarku masih lincah menindis tombol-tombol notebook putih ini. Jika boleh
kuungkapkan, sesungguhnya, SAKIT! ... Tapi, jikaku nyatanya detik ini masih bergemuruh.
Entahlah,
Semakin aku menatap gambar dengan menara menjulang kelangit
ini, semakin kuat asa itu menancap di hatiku. Bahkan! Tak
cukup waktu seabad untuk mampu mencabutnya kembali.
Sudah ku bilang! Aku ini wanita dengan sejuta impian,
dengan garang dan ambisi yang membara
ku lontarkan “SUATU SAAT NANTI AKU AKAN BERADA DI SETIAP
SUDUT DUNIA”
MIMPI bukanlah mutlak milik orang-orang tidur, tapi MIMPI
yang hakiki adalah milik si pengukir asa
“Jika Kita memiliki keinginan,
dan bersungguh-sungguh meraihnya. MAKA seluruh partikel dimuka bumi ini akan
berkontribusi membantu Kita!”
Catatan Hati Sang
Aktivis, 10 Nov 2014
00:02 am, senin
Fatima Az Zahra
