Matanya
terbelalak. Inikah situasi yang harus dia hadapi selama dua bulan kedepan.
Sungguh keadaan yang sangat tak diharapkannya. Dua bulan hidup berdampingan
bersama penduduk yang bukan hanya berbeda bahasa dengannya namun keperyaan dan
keyakinan pun berbeda.
Fatir
masih diam mematung di hadapan hamparan bukit Kota Merauke. Sejauh mata
memandang hanya pepohonan lebat dan bukit-bukit tua yang belum terjamah
transportasi yang hadir dipandangannya.
“Nak...
ayo” suara itu seperti membangunkan Fatir dari lamunannya
“Oh
iya pak”
Selama
dua bulan kedepan untuk memperlancar penelitiannya di pedalaman tropis ini, Fatir
akan tinggal bersama keluarga kristiani yang tak lain adalah kepala desa
setempat, penduduk akrab memanggilnya pak Matius.
Untuk
pertama kali, pak Matius akan mengajak Fatir untuk berkeliling desa agar lebih
akrab dengan para penduduk yang mayoritas adalah beragama kristen.
“Hari
ini akan ku ajak kau untuk berkeliling desa sekaligus meminta izin kepada
kepala adat agar penelitianmu lebih berjalan lancar” ujar pak Matius seusai
sarapan pagi
“Baiklah
pak, terima kasih karena bapak sudah sangat membantu saya” jawab Fatir
Dengan
bermodalkan sepeda mereka memulai perjalanan menuruni bukit Kota Merauke menuju pedesaan. Kini perasaan Fatir
sedikit mulai bersahabat dengan keadaan. Hatinya yang tadi seolah tak menerima
dengan kondisinya sekarang mulai luluh akan indahnya lukisan alam yang
disuguhkan kota Tropis ini.
Setelah
satu jam mengililingi desa, maka tibalah mereka dirumah ketua adat pak Nias
begitu penduduk kerap memanggilnya. Panggilan ketua adat hanya digunakan pada
acara-acara adat saja dan acara pernikahan. Sebelum memasuki rumah ketua adat, Fatir
dibuat terheran-heran oleh lukisan binatang-binatang di pintu rumah ketua adat
tersebut yang nampak seperti rupa aslinya.
Satu
jam sudah Fatir duduk bertamu dirumah ketua adat tersebut. Namun sayangnya
komunikasi mereka kurang berjalan dengan baik karena ia harus menunggu kepala
desa menerjemahkan kata-kata dari kepala adat kerena kepala adat tersebut tak
menguasai bahasa indonesia.
“Selamat
siang......”
Suara
itu memecahkan percakapan lamban nan membosankan itu
“Oh
rupanya ada tamu” lanjut gadis berseragam hitam putih itu
“Kau
sudah datang nak?” ujar pak Nias. Ah perkenalkan Fatir ini putri semata wayang
bapak, Safira namanya”lanjut pak Nias
Fatir
menyambut uluran tangan Safira, dipandangnya gadis itu dalam-dalam. Dari
caranya berpakaian ia terlihat seperti seorang biarawati. Wajahnya ayu tak
nampak jika ia adalah keturunan ras negroid sepertinya ia mengikuti garis
keturunan ibunya yang berdarah Portugis.
“Ah
kalau begitu kami mohon pamit dulu pak Nias. Karena Fatir harus istirahat
dahulu sebelum melanjutkan aktivitasnya besok yang sangat padat.” Lanjut pak
Matius
“Oh
tunggu sebentar!” cegah kepala adat
“Fatir
bisakah selama disini kau membantu putriku mengajar anak-anak miskin yang tak
mampu bersekolah?”
“Insyaallah
pak, sekalian saya bisa ambil untuk sampel penelitian saya”
Kalau
begitu Fira tugasmu sekarang adalah membantu nak Fatir agar mudah beradaptasi
dengan desa kita dan penduduknya, kamu juga bisa memberikan daftar agenda
kelasmu padanya, agar ia dapat mempelajarinya” lanjut pak Nias pada putrinya
“Baik
papa, besok aku akan membuat janji dengannya”
***
Pukul
15:00 Fatir sudah siap dengan buku pelajaran SD pinjaman adiknya. Sepeda ontel
merk jangki sudah menunggunya di halaman. Sekali lagi ia merapikan
penampilannya dengan berpose di depan cermin buram.
“Cukup,
sedikit menarik” celetupnya dalam hati
Hari
ini Fatir berjanji akan bertemu dengan Safira untuk berkenalan dengan calon
murid-muridnya selama dua bulan kedepan.
Kring-kring..
sekali gayung sepeda tua pinjaman pak Matius itu melaju kencang menuruni lereng
bukit menuju pedesaan tempat dimana ia dan Safira mengikat janji untuk bertemu.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ditempat janjian mereka, hanya 15 menit dari
rumah pak Matius.
“Eh Fatir...(
sapa Safira dengan nada ramah), gimana nyasar gak?”
“Oh
enggak dong, kemarinkan aku sudah menghapal seluk beluk desa ini dengan
jalan-jalan bersama pak Matius”
“Ok,
ayo segera masuk! anak-anak sudah menunggumu. Aku mengatakan pada mereka bahwa
kita kedatangan guru ganteng dari Bandung, mereka sudah tak sabar melihatmu”
“Ah
kamu bisa saja fir, bisa aja!”(Tak sengaja Fatir menyeggol lengan Safira)
“Eh
maaf, maaf”
“Gak
papa ko’.. (jawab gadis berlesung pipi itu dengan ramah). Ayo!”
Merekapun
masuk kedalam sambil beriringan. Tubuh Fatir sedikit gemetar ketika masuk
keruangan tempat ia akan mengajar. Ruangan itu tak terlalu luas hanya berukuran
8 kali 9 meter. Di dalam ruangan ia sudah disambut oleh senyuman merah dari
gigi para-ibu-ibu yang setia mengunyah sirih. Awalnya gemetar namun lama-lama
menjadi asyik juga. Karena Fatir membawa suasana menjadi ceria, bahkan ibu-ibu
yang tak mengerti bahasa indonesia pun ikut tertawa renyah mendengar celoteh Fatir
yang mereka anggap lucu.
***
Kembali
hari ini ia mengayuh sepeda menuruni lereng bukit Kota Merauke, namun kali ini
bukan untuk mengajar. Hari ini Fatir memiliki janji untuk bertemu dengan Safira
seusai fira pulang dari gereja. Mereka berjanji untuk bertemu di danau. Safira
mengatakan ada hal penting yang harus ia bicarakan dengannya.
Ditepi
danau telah berdiri gadis dengan kemeja hijau dan tutup kepala putih, ya
meskipun Safira adalah seorang kristiani, namun ia tak pernah sekalipun
memperlihatkan rambutnya pada lelaki manapun kecuali ayahnya.
“Hey..
sudah lama ya?” sapa Fatir mengagetkan kebisuan pagi
“Ahh
kamu, enggak baru sekitar 15 menit, aku sengaja datang lebih awal untuk
menikmati keindahan danau di pagi hari.”
“Ada
apa?” (Tanya Fatir seolah dengan tatapan menyelidik)
“Hemm...”
“Kok
hemmmm....”
Kali
ini ada rona aneh yang nampak dari wajah Safira, gadis yang selama ini
dikenalnya periang dan selalu memunculkan wajah cerianya padanya, tiba-tiba
saja menjadi mendung kelabu.
“Ada
apa fir?” (Kembali Fatir bertanya namun kali ini dengan nada lebih lembut)
Tiba-tiba
saja Safira terisak. “Papa.... papa akan menikahkan aku dengan pemuda desa
seberang”
Deggg..
tiba-tiba saja ada rasa tak menerima hinggap di hati Fatir, ia bingung mengapa
dirinya seolah ingin marah mendengar Safira akan menjadi milik orang lain.
Namun ia bingung sejak kapan rasa itu hadir? Ah akankah kebersamaan mereka yang
baru seumur jagung itu yang membuatnya tumbuh bersama aliran waktu? Fatir
menjadi semakin bingung, tapi ia mencoba tetap mampu mengendalikan persaannya,
biar bagaimanapun ia tak berhak atas Safira, ia sadar dirinya adalah seorang
muslim sedangkan Safira adalah gadis kristiani yang taat dengan perintah
agamanya. Hal itu sangat mustahil baginya bersatu dengan Safira.
“Lantas?”
(Tanya Fatir seolah ingin mengetahui isi hati Safira)
“Aku
tak mencintainya sedikitpun, aku tak ingin hidup bersama dengan orang yang
tidak kucintai, Fatir tidak bisakah kau membantuku?”
“Hahh,,,
(wajahnya terhenyak) Membantumu? Bagaimana caranya?
Safira
tertunduk bisu ketika Fatir memandangnya, seolah ingin bertanya tentang
keinginannya dan maksud dibalik perjumpaannya pagi ini dengannya.
Lama
mereka hanya diam memandang kearah danau tanpa ada komunikasi dari mereka. Tak
ada yang berani melanjutkan perbincangan lagi.
“Tidakkah
kau merasakan perubahan sikapku Fatir? (tiba-tiba suara parau Safira muncul
memecahkan kesunyian) Semenjak aku mengenalmu, aku bukan hanya mengenal seorang
mahasiswa dari Bandung yang sedang mengadakan penelitian didesaku, namun lebih
dari itu. Melihatmu melakukan ritual ibadahmu, melihat cara ibadahmu, melihat
tingkah lakumu. Membuatku penasaran dengan ajaran agamamu. Sedikit banyaknya
setelah mengenalmu aku mulai mencari tahu tentang islam itu lewat keseharianmu.
Aku seolah mendapat kedamaian ketika mendengarmu membaca kitab sucimu, aku
bahkan tak pernah meneteskan air mata ketika membaca kitab suciku, namun
mendegarkan lantunan bacaan kitab sucimu benar-benar mengguncang jiwaku aku
bukan hanya menangis namun aku mampu merenungi dosa-dosaku. Lambat laun aku
mulai tertarik dengan agamamu.
“Ya
Allah, apakah sekarang Safira tengah mencoba menjelaskan kepadaku jika dia
ingin menjadi seorang muslimah?” (bisikku dalam hati)
“Sepertinya
kau sudah mengetahui apa yang aku inginkan?” Lanjut Safira
Fatir
hanya terdiam seribu bahasa hati nuraninya seolah bergejolak mendengar pengakuan
dari Safira, ada rona bahagia nampak dari wajahnya, namun ia berusaha menutupi
itu semua lewat kebisuannya.
“Fatir
kumohon..... ajari aku islam lebih jauh, aku ingin menjadi seorang muslim
sepertimu. Hidup dalam dekapan kedamaian dan ketenangan.”
Tiba-tiba
saja Safira memegang tangan Fatir, namun buru-buru dilepasnya ia khawatir jika
Fatir akan tersinggung dengan maksudnya.
“Baiklah
fir. Jika keputusanmu sudah bulat maka sebelum aku mengajarimu islam,
setidaknya kamu harus menjadi seorang muslimah terlebih dahulu, maka kamu harus
mengucap dua kalimat syahadat.”
Fatir
membimbing Safira mengucap dua kalimat syahadat setelah Safira mengambil air
wudhu di danau.
“Ikuti
aku ya! Ashadu Alla ilahaillallah wa ashadu anna muhammadarrasulallah”
“Asha
du Alla ilaha illallah wa asha du anna muhammadar rasu lallah”
Demikian
syahadat Safira dia ucapkan dengan penuh khidmat dan linangan air mata. Fatir
yang menjadi saksi tunggal keislamannya terharu melihat keberanian gadis itu
mencari ketenangan dan kedamaian hidup.
Kini
fira telah menjadi muslimah. Fatir seolah bagai menemui rembulan ditengah
gelapnya dewa malam, ia menyaksikan langsung wanita yang dikaguminya mengucap
syahadat didepan matanya.
***
Hari
ini, ibu Safira melihat gelakak aneh dari anaknya. Mulai dari perubahan cara
berpakaiannya yang semakin tertutup hingga tingkah aneh yang tak biasa. Kemarin
Safira menolak untuk memakan daging pemberian neneknya yang tak lain adalah
daging hewan berkaki pendek yang diharamkan kaum muslim. Hari ini ia menolak
untuk diajak beribadah ke gereja dengan alasan ia kurang enak badan. Padahal
selama ini meskipun ia demam ia tetap memaksakan diri agar bisa beribadah ke
gereja. Puncaknya adalah ketika ibu Safira pulang dari gereja. Ia mendapati
anaknya tengah melakukan ritual aneh dikamarnya. Ia bersujud mengenakan kain
putih tertutup rapat.
“Astaga...
apa yang tengah ia lakukan? Bukankah?“ujar ibu Safira didalam hatinya
“Fira...”
(teriak bu ester memecah keheningan siang dan kekhusyuan ibadah Safira)
“Apa
yang sedang kau lakukan?”
“Mama.....”
(sontak Safira langsung berdiri). Ia tak menyangka ibunya akan memergokinya
tengah melakukan shalat. Ia lupa mengunci pintu kamarnya.
“Tolong
jelaskan ritual apa yang barusan kau lakukan itu?” Ibu Safira terlihat
berapi-api. Wajah lembutnya berubah menjadi merah padam. Didadanya masih
tergembang rapat Injil. Ia belum sempat meletakkannya.
“Mama..
tolong dengarkan penjelasan Safira dulu. Safira..”
Belum
sempat ia melanjutkan kata-katanya, sebuah tamparan melayang dipipinya hingga
mengenai wajah lembutnya dan meninggalkan bekas merah sembab.
“Beraninya
kau menodai kesucian agama kudus? Kau sudah tidak mempercayai Tuhan Yesus?
Segeralah minta ampun sebelum Tuhan Yesus marah kepadamu dan menurunkan bencana
terhadap keluarga kita “ tukas ibu Safira yang masih berapi-api. Emosinya masih
meletup-letup bak larva di kawah gunung.
“Mama..
tolong Safira ingin hidup damai..”
“Inikah
kedamaian yang kau maksud heh?” (Sambil menarik mukena yang belum sempat terlepas
dari tubuh Safira). Fira sadarlah kamu lahir dan mama besarkan dengan kasih
sayang Yesus, ia mengasihimu sampai kamu tumbuh menjadi gadis seperti sekarang
ini.
“Tapi
ma.........”
Tiba-tiba
papa Safira datang dari arah belakang dan langsung melecuti tubuh Safira dengan
pecut rotan.
“Kurang
ajar... dasar anak tak tahu diuntung, kau sudah mencoreng nama baik keluargamu
bahkan nama baik sukumu, apa yang akan dikatakan penduduk desa jika
mengetahuimu berbuat seperti ini? Lanjut ayah Safira kembali dengan nada yang
lebih berapi-api.
“Papa...
tolong izinkan Safira untuk menjadi muslimah”
“Demi
Tuhan.....! Aku tidak akan mengizinkanmu teriak ayah Safira.. beritahu aku
siapa yang telah lancang mempengaruhimu sampai kamu berbuat dosa besar seperti
ini? Katakan pada ayah, dari siapa kau belajar hal bodoh seperti ini?”
“Papa...
mungkinkah pemudi muslim dari Bandung itu yang telah menghasutnya?”(Sela ibu Safira)
“Jawab..
benarkah Fatir yang telah membuatmu seperti ini, jawab papa Safira, jika kau
tak menjawab maka akan ku bunuh pemuda itu dengan tanganku sendiri”
“Papa..
tolong jangan! ini bukan salahnya fira yang meminta Fatir mengajarkan islam
kepada fira karena islam bisa membuat hati fira menjadi damai.”
Tanpa
berpikir panjang ayah Safira meninggalkan dirinya yang tak berdaya lagi. Kali
ini yang ada didalam pikirannya adalah menemui pemuda Bandung yang telah
membuat anaknya durhaka pada agamanya itu.
Satu
jam kemudian ayah Safira sudah berada dirumah tempat Fatir tinggal yang tak
lain adalah rumah bapak Matius yang juga merupakan kepala desa.
“Eh
matius, dimana anak muda peliharaanmu itu?” (Teriak pak Nias dengan wajah merah
berapi-api)
“Ada
apa ketua adat mencarinya? Ia sedang membantuku menanam jagung dikebun
sekarang. Nanti jika dia sudah pulang maka akan aku beritahu untuk mengahadap kepada
ketua adat.”
“Sampaikan
padanya aku menunggunya dirumah sebentar sore”
***
Sementara
di tempat lain, Safira dengan tubuh yang masih memar karena pukulan ayah dan
tamparan ibunya. Nampak berlari menelusuri lereng bukit. Ia harus cepat bertemu
dengan Fatir. Fatir harus mengetahui semua ini. Bahwa keadaan dirinya sekarang
sedang terancam. Ia harus segera meninggalkan desa ini jika ingin selamat dari
amukan ayahnya. Safira paham benar bahwa dibalik kelembutan ayahnya ia adalah
sosok orang yang paling tak ingin dibantah kemauannya. Tak berselang lama Safira
sudah berada dikebun pak Matius tempat Fatir menanam jagung.
Fatir..........
Safira mencoba mencari sosok pemuda Bandung itu.
Dari
balik pohon pinus tampak seorang pemuda menggunakan kaos putih dan caping yang
tak lain adalah Fatir. Segera Safira mendekati sosok itu. Belum sempat ia
mendekati Fatir. Safira sudah pingsan.
“Eh.. Safira..
Astagfirullah apa yang terjadi padamu. Fira bangunlah..” Fatir mencoba
membangunkan gadis yang kini terbaring lemah dipangkuannya. Jatungnya berdetak
kencang. Hatinya benar-benar remuk melihat sosok Safira yang dipenuhi dengan
luka pukulan disekujur tubuhnya.
“Ada
apakah gerangan yang menimpamu fira? Bangunlah aku tak sanggup kehilanganmu...”
(Fatir menggoyang-goyang tubuh Safira). Tak berselang lama Safira tersadar dari
pingsannya.
“Fira, bangunlah!”
Melihat
sosok Fatir, fira hanya mampu menangis. Ia menagis sejadi-jadinya. Melihat itu Fatir
menjadi semakin bingung. Ia tak faham dengan maksud fira mendatanginya dengan
membawa luka disekujur tubuhnya.
“Fatir..
kamu harus segera meninggalkan desa ini! (perintah Safira sembari merintih
menahan sakit di tubuhnya)
“Aku
memang akan segera meninggalkan desa ini, penelitianku hanya tinggal seminggu
lagi.” Fatir tak menyangka jika gadis yang dikaguminya menginginkan
kepergiannya
“Tidak!
(sentak fira) Kamu harus meninggalkan desa ini sekarang juga!”
Fatir
menjadi bingung, mengapa tiba-tiba gadis ini menginginkan ia segera pergi.
Apakah ia tak ingin kalau Fatir melihat pernikahannya bersama pemuda kristiani
dari desa seberang itu. Tapi apakah ia akan tetap menikah dengan pemuda itu
sementara dirinya sekarang adalah seorang muslimah? Ujar Fatir dalam hatinya
“Fira....
apakah kau mencoba mengusirku dari sini? Apakah karena pernikahan itu?” Tanya Fatir
“Bukan
Fatir, aku tak ingin kau tersakiti.”
“Tersakiti?”
tanya Fatir sedikit menyelidik
“Ayahku
sudah mengetahui jika sekarang aku bukan lagi penganut kristiani melainkan
seorang muslim dan dia menyalahkanmu atas keadaan ini. Ia ingin membunuhmu Fatir.
Tolonglah mengerti aku tak ingin melihatmu mati sia-sia di desa ini.”
Mendengar
pernyataan Safira. Hati Fatir menjadi sedikit gusar. Namun ia sudah menebak
lambat laun ini pasti akan terjadi karena bagaimanapun pintarnya menyembunyikan
bangkai pasti baunya akan tercium juga. Namun Fatir tak goyah ia tetap ingin
bertahan di desa ini setidaknya untuk waktu tujuh hari kedepan menyelesaikan
penelitiaannya. Disamping itu, ia belum sanggup jika harus berpisah dengan Safira.
Mungkin Safira tak mengetahuinya jika selama ini Fatir memendam perasaan
terhadapnya.
“Fira..
tanya Fatir dengan nada lembut. Apakah kau benar-benar menginginkan
kepergianku?”
Melihat
tatapan Fatir yang begitu dalam, Safira tak kuasa menahannya, seketika ia
menundukkan pandangannya. Wajahnya yang memang merah karena bekas tamparan ibu
kini bertambah merah karena tak kuasa menahan gejolak hatinya.
“Ia,
aku tak ingin kau menjadi sasaran kemarahan ayahku. Itu saja disamping itu, kau
sudah banyak membantuku aku tak ingin dirimu tersakiti karena ulahku. Aku
berterima kasih untuk semuanya. Maka sekarang pergilah. Aku harus segera
pulang” tukasnya Safira
“Fira..
(teriak Fatir) ketahuilah aku melakukan semua ini bukan semata untuk diriku dan
penelitianku. Tapi...”
“Tapi
apa hah? (Teriak fira dengan sinis). Sudahlah aku tak ingin mendengar alasan
darimu lagi yang kutahu besok kamu harus segera meninggalkan desa ini.”
Fira
berlari meninggalkan Fatir yang masih terdiam mematung. Bahkan fira tak mau
mendengarkan ungkapan hatinya. Ia memilih lari dan menjauh darinya. Bahkan ia
belum sempat bertanya apakah ia akan menerima lamaran pemuda kristen itu. Fatir
benar-benar hancur. Harapannya untuk mendapat balasan cinta dari gadis berdarah
papua Portugis itu kini pupuslah sudah.
Disisi
lain, fira menangis menuruni lereng bukit dan lembah, bahkan air matanya
mengalir deras lebih deras dari aliran sungai yang disebranginya untuk sampai
dirumahnya. Ia mengetahui bahwa sebenarnya pemuda itu mencintainya, begitu pula
yang ia rasakan bahkan mungkin cintanya jauh lebih besar. Namun ia sadar ada
sekat abstrak yang menghalangi mereka untuk bersatu.
***
Seusai
shalat ashar. Safira dikagetkan oleh bentakan suara ayahnya yang terdengar
begitu marah. Ada apakah gerangan? Mengapa ayah begitu marah. Dari balik
jendela ia mencoba mengintip apa yang sedang terjadi di halaman rumahnya. Fira
amat terkejut ketika melihat sosok Fatir tengah berdiri tegak didepan ayahnya.
“Dasar
pemuda bodoh, aku sudah menyuruhnya bersembunyi dari ayahku, malah ia
mendatanginya” gerutu Safira
“Ohh
rupanya kau benar-benar memenuhi undanganku anak muda, rupanya kau cukup
berani?” Ujar pak Nias ketika melihat sosok Fatir yang datang memenuhi
panggilannya
“Adalah
salah satu dari tujuh kewajiban seorang muslim yaitu memenuhi undangan apabila
diundang” jawab Fatir singkat
“Hehh..
beraninya kau berkhotbah disini, kau fikir aku akan bertindak tolol seperti
putriku yang mudahnya kau hasut untuk memasuki ajaran sesatmu?”
“Saya
tak menghasut putri bapak, tapi Allahlah yang telah memanggil hatinya”
“Beraninya
kau bicara seperti itu? Mau cari mati kau disini?”
“Mati
dan hidupnya seseorang hanya Allah yang menentukannya bukan anda bapak ketua
adat yang terhormat”
Kata-kata
Fatir benar-benar memancing amarah pak Nias rasanya ia ingin segera menebas
leher pemuda sombong dihadapannya ini.
“Lancangnya
kau berbicara begitu terhadapku.”
“Aku
memang sudah lancang pak, lancang menemui anda secara tidak hormat, lancang
membawa putri bapak pada agama saya. Dan...”
“Dan
apa?” Bentak pak Nias dengan nada emosi
“Dan
lancang mencintai putri bapak.”
Mendengar
pengakuan Fatir pak Nias menjadi semakin geram. Diambilnya pisau yang kemudian
diarahkannya ketubuh Fatir. Untungnya Fatir mampu menghindar sehingga pisau itu
meleset dan mengenai lengannya bukan perutnya.
“Beraninya
kau mencintai putriku. Sampai kapanpun aku tak akan memberikan putriku pada
pemuda kotor sepertimu. Dasar pemuda gila!”
“Saya
memang gila pak. Gila karena mencintai putri bapak bahkan sangat mencintainya.”
Safira
yang sedari tadi merekap pembicaraan mereka lewat kedua telinganya. Tak kuasa
menahan tangisnya ia tak percaya Fatir akan senekad itu mengatakan perasaannya
didepan ayahnya. Fira tak tahan lagi melihat amukan ayahnya. Segera ia berlari
keluar membawa kain perban untuk menutupi sayatan dilengan Fatir.
“Papa
hentikan.....! teriak Safira. Cukup, apa salahnya terhadap papa hah? Toh selama
ini ia yang membantu banyak kegiatan didesa ini.”
“Baiklah
anak muda, jika kau benar-benar mencintai putriku maka tinggalkan agamamu maka
akan aku restui kalian menikah.”
“Papa...
“bentak Safira
Belum
sempat Safira melanjutkan kata-katanya Fatir sudah mendahuluinya
“Pak,
saya memang mencintai putri bapak, namun saya tak akan dibutai oleh nafsu cinta
sehingga menistakan agama saya. Cinta putri bapak adalah cinta dunia yang saya
peroleh namun cinta dari Tuhan saya adalah cinta akhirat yang akan membawa kedamaian
dalam kehidupan abadi.”
Mendengar
perkataan itu, ayah Safira kian menjadi emosi ia memakai otoriternya sebagai
ketua adat untuk menghukum Fatir dengan hukuman pasung selama satu bulan tanpa
diberi makan hanya boleh memberinya makan seminggu sekali dan air minum
“Maka
atas kelancanganmu akan aku jatuhi hukuman pasung kepadamu, bawa dia kegudang
pemasungan!” perintah pak Nias kepada warga desa
“Tidak
ayah..... “cegah Safira namun usaha yang dilakukannya sia-sia. Fatir tetap
diseret kegudang pemasungan.
Warga
desa sebenarnya tak sampai hati menyeret Fatir kegudang pemasungan, namun
mereka tak bisa melawan titah sang ketua adat. Hingga dengan berat hati mereka
tetap menyeret tubuh Fatir dan memasungnya.
***
Sebelum
ayam berkokok yang menandakan fajar mulai terbit. Safira dengan menenteng
sekantung roti datang mengendap-endap menuju gudang pemasungan. agar aksinya
berjalan mulus, Safira tak mengenakan alas kaki alias sandal. Tak ingin
berlama-lama di jalan, Safira dengan seluruh kekuatannya berlari kencang menuju
tempat dimana orang yang dicintainya tengah menjalani hukuman.
Fatir.....
teriak Safira
Safira
tak sampai hati melihat tubuh kurus kekasihnya yang sudah tak berdaya lagi. Fatir
tertunduk lesu dengan mata berkantung dan bibir pucat. Rupanya selama seminggu
ia benar-benar tak diberi makan hanya air minum dan buah apel satu biji
pemberian pak Matius yang mengganjal perutnya.
“Fatir,
bagunlah!” Safira mencoba meraih tubuh lemas Fatir, ia tak kuasa memandangnya
berkali-kali ia terisak
Isakan
tangis Safira begitu familiar ditelinga Fatir hingga belum sempat ia membuka
matanya ia telah mengenali siapa pemilik suara itu.
“Safira,
kamu baik-baik saja?” tanya Fatir dengan lemparan senyuman yang terkesan
dipaksakannya
“Kamu
bodoh Fatir, (ujar Safira dengan diiringi isakan tangis). Mengapa kau siksa
tubuhmu seperti ini karena membelaku
Aku
tak pernah mengatakan kulakukan ini karenamu, aku melakukan ini karena Tuhanku
menyuruhnya. Aku tak akan pernah sudi diperintahkkan untuk mengalihkan
keyakinanku namun aku juga tak ingin kehilangan cintamu. Maka relakanlah aku
menjalani ini, biarlah tubuhku hancur karena mempertahankan akidah dan cintaku
asalkan hatiku tetap murni pada islam dan pemilik cintamu.
Mendengarkan
pengakuan Fatir untuk kesekian kalinya membuatnya semakin merasa bersalah, ia
semakin takut kehilangan pemuda sesempurna Fatir.
“Tunggu
aku fira ini hanya sebulan, setelah aku selasai menjalani hukuman ini maka aku
akan kembali mendatangi ayahmu dan meyakinkannya agar merestui kita, karena
jika kita berjodoh maka kita pasti akan bersatu, jika tidak didunia maka
mungkin kita akan bersatu diakhirat kelak.” Ujar Fatir sambil menahan sakit
sayatan dan lapar di perutnya
“Aku
akan menunggumu, pasti menunggu” hujan dipipi merah Safira semakin deras
Namun
buru-buru Fatir menyeka air mata ”sudahlah jangan menangis! cepatlah pulang
sebelum matahari terbit, jika tidak maka ayahmu akan mendapatimu dan bisa-bisa
ia juga akan memasungmu”
***
Tiga
minggu sudah Fatir menjalani hukuman pasungnya, artinya tinggal seminggu lagi
maka Fatir akan segera dibebaskan. Namun musibah menimpa Safira, Safira jatuh
sakit karena memikirkan keadaan Fatir. Ia takut Fatir tak mampu bertahan karena
sudah dua minggu ia tak menjenguknya. Siapakah yang akan mengantarkan makanan
kepadanya.
Semakin
hari tubuh Safira pun semakin kurus ia hanya mampu menangis tanpa mau mengisi
perutnya dengan sesuap nasi. Ia hanya akan keluar untuk mengambil air wudhu dan
masuk kembali kekamar. Ayahnya mengencam jika ia berani keluar menemui Fatir
lagi maka ayahnya tidak akan segan-segan untuk menambah hukuman Fatir menjadi
dua bulan.
Semenjak
jatuh sakit Safira sering bermimpi aneh tentang Fatir, kemarin ia bermimpi Fatir
terjatuh dari jembatan dan menghilang ditelan arus ketika mereka berjalan
bersama dan malam ini ia bermimpi Fatir meninggalkannya menuju tempat yang amat
jauh dan mengatakan ia tak akan kembali lagi.
Siang
malam Safira memikirkan arti mimpinya itu, hingga tubuhnya kian bertambah kurus
matanya berkantung karena menangis setiap saat.
Melihat
kondisi anak semata wayangnya yang semakin hari kian memburuk, rupanya telah
mengundang simpati orang tuanya. Mereka merasa kasian terhadap keadaan anak
mereka. Air mata Safira ternyata meluluhkan hati keras sang ayah. Hingga pada
suatu ketika sebelum hukuman Fatir selesai ayah Safira memanggil dirinya secara
pribadi diruang tamu.
“Safira,
benarkah dirimu telah sangat yakin dengan agama barumu? Apakah kau tak ingin
menjadi seorang kristiani seperti dahulu?” tanya ayahnya namun kali ini dengan
nada agak berbeda, ini lebih halus dari sebelumnya
“Tidak
ayah, Aku merasakan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa setelah aku
menganut agama ini, ketenangan dan kedamaian yang tidak aku dapati sebelumnya”
“Lalu
bagaimana dengan pemuda Bandung itu? Apakah kau benar-benar tak ingin
melupakannya dan menikah dengan lelaki pilihan ayah?”
“Yang
itu juga tidak ayah, aku sangat mencintai Fatir, Fatir datang disaat hatiku
kemarau. Aku membutuhkan air, dan Fatir menyiraminya dengan cintanya dan
kedamaian yang ia kenalkan terhadapku, papa. Dengan bacaan qur’annya yang
menyentuh serta nasihatnya yang tak pernah menggurui. Aku benar-benar menemukan
kesempurnaan dan ketenangan itu padanya.”
“Jika
kau merasakan seperti itu, maka sekarang pergilah temui dia dan katakan padanya
aku menerimanya sebagai menantuku.”
“Benarkah
ayah?”
Seolah
Safira belum percaya dengan apa yang barusan ia dengar, ayahnya merestui
dirinya dengan Fatir bahkan ayahnya mengatakan bahwa ia menerima Fatir sebagai
menantunya. Safira benar-benar kegirangan hingga ia tak sempat berganti baju,
cukup meraih kain kerudungnya dikamar kemudian ia langsung berlari menuju
gudang dimana kekasihnya dipasung. Ayahnya yang melihat tingkahnya hanya mampu
tersenyum melihat anakknya memancarkan senyuman yan begitu tulus, senyuman yang
sempat hilang dari bibir anaknya.
***
Hatinya
benar-benar gembira, ia bagaikan menemukan sesuatu yang telah lama dicarinya,
ia tak henti-henti mengatakan “aku mencintaimu karena Allah Fatir” sepanjang
perjalanannya. Kini kakinya sudah melangkah kearah gudang pemasungan. Namun ia
bingung mengapa ada begitu banyak orang digudang ini, bukankah digudang ini
hanya ada dua orang yang menjalani hukuman yaitu Fatir dan satunya lagi lelaki
setengah baya yang gila karena ditinggal mati istrinya.
“Eh
pak, ada apa ya kok ramai sekali ditempat pemasungan?”tanyanya kepada salah seorang
penduduk
“Ini
fira, itu loh peneliti yang dipasung bulan lalu oleh ayahmu katanya sudah tidak
bernafas lagi alias sudah meninggal”
“Apa
bu?”
Safira
tak percaya pada apa yang barusan didengarnya, orang itu pasti salah lihat mana
mungkin Fatir meninggal, ia berjanji untuk kembali kepada dirinya, bahkan Fatir
sempat mengatakan agar dirinya menunggu.
Sesampai
didalam gudang, pemandangan yang paling ditakutinya kini ia saksikan. Ia
melihat pak Matius menangis tersedu-sedu memeluk tubuh Fatir yang sudah kaku.
Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya.
Seketika
tubuh Safira tersungkur ketanah, ia terjatuh tak sadarkan diri. Dalam
pingsannya ia bermimpi bertemu dengan Fatir, dalam mimpinya Fatir menyampaikan
sebuah pesan
“Safira,
aku tak bisa berlama-lama lagi disini, maafkan aku harus meninggalkanmu,
seperti yang pernah aku katakan padamu. Jika kita tak berjodoh di dunia maka
semoga kita dipertemukan di akhirat kelak. Ketahuilah Fira, dirimulah labuan
cinta pertamaku. Tetaplah teguh dengan keyakinanmu karena itulah yang akan
mengantarkan perjumpaan kita di surga kelak.”
Kemudian
sosok Fatir hilang di balik awan. Safira mencoba memanggil-manggilnya namun
sepertinya Fatir tak menghiraukannya. Safira terus memanggil bahkan dengan
tangisannya Fatir tetap tak sudi untuk kembali.
“Fira..
fira bangun nak!” Suara ibunya membangunkannya
Tiba-tiba
ia sudah berada di kamarnya. Bukankah seingatnya ia sedang berada di gudang
pemasungan
“Dimana
Fatir? Dimana dia?” Teriak Safira
“Maaf
papa mu nak! tiba-tiba pak Nias tersungkur di kaki safira. Semua ini karena
keegoisan papa. Hari ini tubuh Fatir akan diterbangkan ke pulau Jawa.
Tidak!
Safira berlari kearah kerumunan orang dihalamannya, dimana tubuh kaku itu
berbaring, tubuh yang dulu penuh senyum. Kini hanya bisa diam membisu. Wajah
cerah ceria penuh wibawa itu kini telah berubah pucat.
Safira
menggoyang-goyang tubuh Fatir yang kini telah terbujur kaku. Ia tak kuasa
menahan tangisnya
“Fatir
kau jahat, dimana janjimu? Aku bahkan sudah menunggumu. Kau berjanji untuk
menemuiku setelah hukumanmu selesai. Inikah yang kau maksud pertemuan? mengapa
setelah restu itu kita dapatkan, kau pergi meninggalkannya, kau bahkan tak
ingin mendengarnya sama sekali, kau pergi sebelum aku sempat memberi tahumu,
tak bisakah kau menantikan kedatanganku sebentar lagi? Aku belum sempat membagi
kebahagiaaan itu bersamamu”
Fatir,
tunggu aku di surga-Nya
TAMAT