Senin, 17 November 2014

Balada Cinta di Pedalaman Tropis

   Tidak ada komentar     
categories: 

Matanya terbelalak. Inikah situasi yang harus dia hadapi selama dua bulan kedepan. Sungguh keadaan yang sangat tak diharapkannya. Dua bulan hidup berdampingan bersama penduduk yang bukan hanya berbeda bahasa dengannya namun keperyaan dan keyakinan pun berbeda.
Fatir masih diam mematung di hadapan hamparan bukit Kota Merauke. Sejauh mata memandang hanya pepohonan lebat dan bukit-bukit tua yang belum terjamah transportasi yang hadir dipandangannya.
“Nak... ayo” suara itu seperti membangunkan Fatir dari lamunannya
“Oh iya pak”
Selama dua bulan kedepan untuk memperlancar penelitiannya di pedalaman tropis ini, Fatir akan tinggal bersama keluarga kristiani yang tak lain adalah kepala desa setempat, penduduk akrab memanggilnya pak Matius.
Untuk pertama kali, pak Matius akan mengajak Fatir untuk berkeliling desa agar lebih akrab dengan para penduduk yang mayoritas adalah beragama kristen.
“Hari ini akan ku ajak kau untuk berkeliling desa sekaligus meminta izin kepada kepala adat agar penelitianmu lebih berjalan lancar” ujar pak Matius seusai sarapan pagi
“Baiklah pak, terima kasih karena bapak sudah sangat membantu saya” jawab Fatir
Dengan bermodalkan sepeda mereka memulai perjalanan menuruni bukit  Kota Merauke menuju pedesaan. Kini perasaan Fatir sedikit mulai bersahabat dengan keadaan. Hatinya yang tadi seolah tak menerima dengan kondisinya sekarang mulai luluh akan indahnya lukisan alam yang disuguhkan kota Tropis ini.
Setelah satu jam mengililingi desa, maka tibalah mereka dirumah ketua adat pak Nias begitu penduduk kerap memanggilnya. Panggilan ketua adat hanya digunakan pada acara-acara adat saja dan acara pernikahan. Sebelum memasuki rumah ketua adat, Fatir dibuat terheran-heran oleh lukisan binatang-binatang di pintu rumah ketua adat tersebut yang nampak seperti rupa aslinya.
Satu jam sudah Fatir duduk bertamu dirumah ketua adat tersebut. Namun sayangnya komunikasi mereka kurang berjalan dengan baik karena ia harus menunggu kepala desa menerjemahkan kata-kata dari kepala adat kerena kepala adat tersebut tak menguasai bahasa indonesia.
“Selamat siang......”
Suara itu memecahkan percakapan lamban nan membosankan itu
“Oh rupanya ada tamu” lanjut gadis berseragam hitam putih itu
“Kau sudah datang nak?” ujar pak Nias. Ah perkenalkan Fatir ini putri semata wayang bapak, Safira namanya”lanjut pak Nias
Fatir menyambut uluran tangan Safira, dipandangnya gadis itu dalam-dalam. Dari caranya berpakaian ia terlihat seperti seorang biarawati. Wajahnya ayu tak nampak jika ia adalah keturunan ras negroid sepertinya ia mengikuti garis keturunan ibunya yang berdarah Portugis.
“Ah kalau begitu kami mohon pamit dulu pak Nias. Karena Fatir harus istirahat dahulu sebelum melanjutkan aktivitasnya besok yang sangat padat.” Lanjut pak Matius
“Oh tunggu sebentar!” cegah kepala adat
“Fatir bisakah selama disini kau membantu putriku mengajar anak-anak miskin yang tak mampu bersekolah?”
“Insyaallah pak, sekalian saya bisa ambil untuk sampel penelitian saya”
Kalau begitu Fira tugasmu sekarang adalah membantu nak Fatir agar mudah beradaptasi dengan desa kita dan penduduknya, kamu juga bisa memberikan daftar agenda kelasmu padanya, agar ia dapat mempelajarinya” lanjut pak Nias pada putrinya
“Baik papa, besok aku akan membuat janji dengannya”
***
Pukul 15:00 Fatir sudah siap dengan buku pelajaran SD pinjaman adiknya. Sepeda ontel merk jangki sudah menunggunya di halaman. Sekali lagi ia merapikan penampilannya dengan berpose di depan cermin buram.
“Cukup, sedikit menarik” celetupnya dalam hati
Hari ini Fatir berjanji akan bertemu dengan Safira untuk berkenalan dengan calon murid-muridnya selama dua bulan kedepan.
Kring-kring.. sekali gayung sepeda tua pinjaman pak Matius itu melaju kencang menuruni lereng bukit menuju pedesaan tempat dimana ia dan Safira mengikat janji untuk bertemu. Tak butuh waktu lama untuk sampai ditempat janjian mereka, hanya 15 menit dari rumah pak Matius.
“Eh Fatir...( sapa Safira dengan nada ramah), gimana nyasar gak?”
“Oh enggak dong, kemarinkan aku sudah menghapal seluk beluk desa ini dengan jalan-jalan bersama pak Matius”
“Ok, ayo segera masuk! anak-anak sudah menunggumu. Aku mengatakan pada mereka bahwa kita kedatangan guru ganteng dari Bandung, mereka sudah tak sabar melihatmu”
“Ah kamu bisa saja fir, bisa aja!”(Tak sengaja Fatir menyeggol lengan Safira)
“Eh maaf, maaf”
“Gak papa ko’.. (jawab gadis berlesung pipi itu dengan ramah). Ayo!”
Merekapun masuk kedalam sambil beriringan. Tubuh Fatir sedikit gemetar ketika masuk keruangan tempat ia akan mengajar. Ruangan itu tak terlalu luas hanya berukuran 8 kali 9 meter. Di dalam ruangan ia sudah disambut oleh senyuman merah dari gigi para-ibu-ibu yang setia mengunyah sirih. Awalnya gemetar namun lama-lama menjadi asyik juga. Karena Fatir membawa suasana menjadi ceria, bahkan ibu-ibu yang tak mengerti bahasa indonesia pun ikut tertawa renyah mendengar celoteh Fatir yang mereka anggap lucu.
***
Kembali hari ini ia mengayuh sepeda menuruni lereng bukit Kota Merauke, namun kali ini bukan untuk mengajar. Hari ini Fatir memiliki janji untuk bertemu dengan Safira seusai fira pulang dari gereja. Mereka berjanji untuk bertemu di danau. Safira mengatakan ada hal penting yang harus ia bicarakan dengannya.
Ditepi danau telah berdiri gadis dengan kemeja hijau dan tutup kepala putih, ya meskipun Safira adalah seorang kristiani, namun ia tak pernah sekalipun memperlihatkan rambutnya pada lelaki manapun kecuali ayahnya.
“Hey.. sudah lama ya?” sapa Fatir mengagetkan kebisuan pagi
“Ahh kamu, enggak baru sekitar 15 menit, aku sengaja datang lebih awal untuk menikmati keindahan danau di pagi hari.”
“Ada apa?” (Tanya Fatir seolah dengan tatapan menyelidik)
“Hemm...”
“Kok hemmmm....”
Kali ini ada rona aneh yang nampak dari wajah Safira, gadis yang selama ini dikenalnya periang dan selalu memunculkan wajah cerianya padanya, tiba-tiba saja menjadi mendung kelabu.
“Ada apa fir?” (Kembali Fatir bertanya namun kali ini dengan nada lebih lembut)
Tiba-tiba saja Safira terisak. “Papa.... papa akan menikahkan aku dengan pemuda desa seberang”
Deggg.. tiba-tiba saja ada rasa tak menerima hinggap di hati Fatir, ia bingung mengapa dirinya seolah ingin marah mendengar Safira akan menjadi milik orang lain. Namun ia bingung sejak kapan rasa itu hadir? Ah akankah kebersamaan mereka yang baru seumur jagung itu yang membuatnya tumbuh bersama aliran waktu? Fatir menjadi semakin bingung, tapi ia mencoba tetap mampu mengendalikan persaannya, biar bagaimanapun ia tak berhak atas Safira, ia sadar dirinya adalah seorang muslim sedangkan Safira adalah gadis kristiani yang taat dengan perintah agamanya. Hal itu sangat mustahil baginya bersatu dengan Safira.
“Lantas?” (Tanya Fatir seolah ingin mengetahui isi hati Safira)
“Aku tak mencintainya sedikitpun, aku tak ingin hidup bersama dengan orang yang tidak kucintai, Fatir tidak bisakah kau membantuku?”
“Hahh,,, (wajahnya terhenyak) Membantumu? Bagaimana caranya?
Safira tertunduk bisu ketika Fatir memandangnya, seolah ingin bertanya tentang keinginannya dan maksud dibalik perjumpaannya pagi ini dengannya.
Lama mereka hanya diam memandang kearah danau tanpa ada komunikasi dari mereka. Tak ada yang berani melanjutkan perbincangan lagi.
“Tidakkah kau merasakan perubahan sikapku Fatir? (tiba-tiba suara parau Safira muncul memecahkan kesunyian) Semenjak aku mengenalmu, aku bukan hanya mengenal seorang mahasiswa dari Bandung yang sedang mengadakan penelitian didesaku, namun lebih dari itu. Melihatmu melakukan ritual ibadahmu, melihat cara ibadahmu, melihat tingkah lakumu. Membuatku penasaran dengan ajaran agamamu. Sedikit banyaknya setelah mengenalmu aku mulai mencari tahu tentang islam itu lewat keseharianmu. Aku seolah mendapat kedamaian ketika mendengarmu membaca kitab sucimu, aku bahkan tak pernah meneteskan air mata ketika membaca kitab suciku, namun mendegarkan lantunan bacaan kitab sucimu benar-benar mengguncang jiwaku aku bukan hanya menangis namun aku mampu merenungi dosa-dosaku. Lambat laun aku mulai tertarik dengan agamamu.
“Ya Allah, apakah sekarang Safira tengah mencoba menjelaskan kepadaku jika dia ingin menjadi seorang muslimah?” (bisikku dalam hati)
“Sepertinya kau sudah mengetahui apa yang aku inginkan?” Lanjut Safira
Fatir hanya terdiam seribu bahasa hati nuraninya seolah bergejolak mendengar pengakuan dari Safira, ada rona bahagia nampak dari wajahnya, namun ia berusaha menutupi itu semua lewat kebisuannya.
“Fatir kumohon..... ajari aku islam lebih jauh, aku ingin menjadi seorang muslim sepertimu. Hidup dalam dekapan kedamaian dan ketenangan.”
Tiba-tiba saja Safira memegang tangan Fatir, namun buru-buru dilepasnya ia khawatir jika Fatir akan tersinggung dengan maksudnya.
“Baiklah fir. Jika keputusanmu sudah bulat maka sebelum aku mengajarimu islam, setidaknya kamu harus menjadi seorang muslimah terlebih dahulu, maka kamu harus mengucap dua kalimat syahadat.”
Fatir membimbing Safira mengucap dua kalimat syahadat setelah Safira mengambil air wudhu di danau.
“Ikuti aku ya! Ashadu Alla ilahaillallah wa ashadu anna muhammadarrasulallah”
“Asha du Alla ilaha illallah wa asha du anna muhammadar rasu lallah”
Demikian syahadat Safira dia ucapkan dengan penuh khidmat dan linangan air mata. Fatir yang menjadi saksi tunggal keislamannya terharu melihat keberanian gadis itu mencari ketenangan dan kedamaian hidup.
Kini fira telah menjadi muslimah. Fatir seolah bagai menemui rembulan ditengah gelapnya dewa malam, ia menyaksikan langsung wanita yang dikaguminya mengucap syahadat didepan matanya.
***
Hari ini, ibu Safira melihat gelakak aneh dari anaknya. Mulai dari perubahan cara berpakaiannya yang semakin tertutup hingga tingkah aneh yang tak biasa. Kemarin Safira menolak untuk memakan daging pemberian neneknya yang tak lain adalah daging hewan berkaki pendek yang diharamkan kaum muslim. Hari ini ia menolak untuk diajak beribadah ke gereja dengan alasan ia kurang enak badan. Padahal selama ini meskipun ia demam ia tetap memaksakan diri agar bisa beribadah ke gereja. Puncaknya adalah ketika ibu Safira pulang dari gereja. Ia mendapati anaknya tengah melakukan ritual aneh dikamarnya. Ia bersujud mengenakan kain putih tertutup rapat.
“Astaga... apa yang tengah ia lakukan? Bukankah?“ujar ibu Safira didalam hatinya
“Fira...” (teriak bu ester memecah keheningan siang dan kekhusyuan ibadah Safira)
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Mama.....” (sontak Safira langsung berdiri). Ia tak menyangka ibunya akan memergokinya tengah melakukan shalat. Ia lupa mengunci pintu kamarnya.
“Tolong jelaskan ritual apa yang barusan kau lakukan itu?” Ibu Safira terlihat berapi-api. Wajah lembutnya berubah menjadi merah padam. Didadanya masih tergembang rapat Injil. Ia belum sempat meletakkannya.
“Mama.. tolong dengarkan penjelasan Safira dulu. Safira..”
Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, sebuah tamparan melayang dipipinya hingga mengenai wajah lembutnya dan meninggalkan bekas merah sembab.
“Beraninya kau menodai kesucian agama kudus? Kau sudah tidak mempercayai Tuhan Yesus? Segeralah minta ampun sebelum Tuhan Yesus marah kepadamu dan menurunkan bencana terhadap keluarga kita “ tukas ibu Safira yang masih berapi-api. Emosinya masih meletup-letup bak larva di kawah gunung.
“Mama.. tolong Safira ingin hidup damai..”
“Inikah kedamaian yang kau maksud heh?” (Sambil menarik mukena yang belum sempat terlepas dari tubuh Safira). Fira sadarlah kamu lahir dan mama besarkan dengan kasih sayang Yesus, ia mengasihimu sampai kamu tumbuh menjadi gadis seperti sekarang ini.
“Tapi ma.........”
Tiba-tiba papa Safira datang dari arah belakang dan langsung melecuti tubuh Safira dengan pecut rotan.
“Kurang ajar... dasar anak tak tahu diuntung, kau sudah mencoreng nama baik keluargamu bahkan nama baik sukumu, apa yang akan dikatakan penduduk desa jika mengetahuimu berbuat seperti ini? Lanjut ayah Safira kembali dengan nada yang lebih berapi-api.
“Papa... tolong izinkan Safira untuk menjadi muslimah”
“Demi Tuhan.....! Aku tidak akan mengizinkanmu teriak ayah Safira.. beritahu aku siapa yang telah lancang mempengaruhimu sampai kamu berbuat dosa besar seperti ini? Katakan pada ayah, dari siapa kau belajar hal bodoh seperti ini?”
“Papa... mungkinkah pemudi muslim dari Bandung itu yang telah menghasutnya?”(Sela ibu Safira)
“Jawab.. benarkah Fatir yang telah membuatmu seperti ini, jawab papa Safira, jika kau tak menjawab maka akan ku bunuh pemuda itu dengan tanganku sendiri”
“Papa.. tolong jangan! ini bukan salahnya fira yang meminta Fatir mengajarkan islam kepada fira karena islam bisa membuat hati fira menjadi damai.”
Tanpa berpikir panjang ayah Safira meninggalkan dirinya yang tak berdaya lagi. Kali ini yang ada didalam pikirannya adalah menemui pemuda Bandung yang telah membuat anaknya durhaka pada agamanya itu.
Satu jam kemudian ayah Safira sudah berada dirumah tempat Fatir tinggal yang tak lain adalah rumah bapak Matius yang juga merupakan kepala desa.
“Eh matius, dimana anak muda peliharaanmu itu?” (Teriak pak Nias dengan wajah merah berapi-api)
“Ada apa ketua adat mencarinya? Ia sedang membantuku menanam jagung dikebun sekarang. Nanti jika dia sudah pulang maka akan aku beritahu untuk mengahadap kepada ketua adat.”
“Sampaikan padanya aku menunggunya dirumah sebentar sore”
***
Sementara di tempat lain, Safira dengan tubuh yang masih memar karena pukulan ayah dan tamparan ibunya. Nampak berlari menelusuri lereng bukit. Ia harus cepat bertemu dengan Fatir. Fatir harus mengetahui semua ini. Bahwa keadaan dirinya sekarang sedang terancam. Ia harus segera meninggalkan desa ini jika ingin selamat dari amukan ayahnya. Safira paham benar bahwa dibalik kelembutan ayahnya ia adalah sosok orang yang paling tak ingin dibantah kemauannya. Tak berselang lama Safira sudah berada dikebun pak Matius tempat Fatir menanam jagung.
Fatir.......... Safira mencoba mencari sosok pemuda Bandung itu.
Dari balik pohon pinus tampak seorang pemuda menggunakan kaos putih dan caping yang tak lain adalah Fatir. Segera Safira mendekati sosok itu. Belum sempat ia mendekati Fatir. Safira sudah pingsan.
“Eh.. Safira.. Astagfirullah apa yang terjadi padamu. Fira bangunlah..” Fatir mencoba membangunkan gadis yang kini terbaring lemah dipangkuannya. Jatungnya berdetak kencang. Hatinya benar-benar remuk melihat sosok Safira yang dipenuhi dengan luka pukulan disekujur tubuhnya.
“Ada apakah gerangan yang menimpamu fira? Bangunlah aku tak sanggup kehilanganmu...” (Fatir menggoyang-goyang tubuh Safira). Tak berselang lama Safira tersadar dari pingsannya.
“Fira,  bangunlah!”
Melihat sosok Fatir, fira hanya mampu menangis. Ia menagis sejadi-jadinya. Melihat itu Fatir menjadi semakin bingung. Ia tak faham dengan maksud fira mendatanginya dengan membawa luka disekujur tubuhnya.
“Fatir.. kamu harus segera meninggalkan desa ini! (perintah Safira sembari merintih menahan sakit di tubuhnya)
“Aku memang akan segera meninggalkan desa ini, penelitianku hanya tinggal seminggu lagi.” Fatir tak menyangka jika gadis yang dikaguminya menginginkan kepergiannya
“Tidak! (sentak fira) Kamu harus meninggalkan desa ini sekarang juga!”
Fatir menjadi bingung, mengapa tiba-tiba gadis ini menginginkan ia segera pergi. Apakah ia tak ingin kalau Fatir melihat pernikahannya bersama pemuda kristiani dari desa seberang itu. Tapi apakah ia akan tetap menikah dengan pemuda itu sementara dirinya sekarang adalah seorang muslimah? Ujar Fatir dalam hatinya
“Fira.... apakah kau mencoba mengusirku dari sini? Apakah karena pernikahan itu?” Tanya Fatir
“Bukan Fatir, aku tak ingin kau tersakiti.”
“Tersakiti?” tanya Fatir sedikit menyelidik
“Ayahku sudah mengetahui jika sekarang aku bukan lagi penganut kristiani melainkan seorang muslim dan dia menyalahkanmu atas keadaan ini. Ia ingin membunuhmu Fatir. Tolonglah mengerti aku tak ingin melihatmu mati sia-sia di desa ini.”
Mendengar pernyataan Safira. Hati Fatir menjadi sedikit gusar. Namun ia sudah menebak lambat laun ini pasti akan terjadi karena bagaimanapun pintarnya menyembunyikan bangkai pasti baunya akan tercium juga. Namun Fatir tak goyah ia tetap ingin bertahan di desa ini setidaknya untuk waktu tujuh hari kedepan menyelesaikan penelitiaannya. Disamping itu, ia belum sanggup jika harus berpisah dengan Safira. Mungkin Safira tak mengetahuinya jika selama ini Fatir memendam perasaan terhadapnya.
“Fira.. tanya Fatir dengan nada lembut. Apakah kau benar-benar menginginkan kepergianku?”
Melihat tatapan Fatir yang begitu dalam, Safira tak kuasa menahannya, seketika ia menundukkan pandangannya. Wajahnya yang memang merah karena bekas tamparan ibu kini bertambah merah karena tak kuasa menahan gejolak hatinya.
“Ia, aku tak ingin kau menjadi sasaran kemarahan ayahku. Itu saja disamping itu, kau sudah banyak membantuku aku tak ingin dirimu tersakiti karena ulahku. Aku berterima kasih untuk semuanya. Maka sekarang pergilah. Aku harus segera pulang” tukasnya Safira
“Fira.. (teriak Fatir) ketahuilah aku melakukan semua ini bukan semata untuk diriku dan penelitianku. Tapi...”
“Tapi apa hah? (Teriak fira dengan sinis). Sudahlah aku tak ingin mendengar alasan darimu lagi yang kutahu besok kamu harus segera meninggalkan desa ini.”
Fira berlari meninggalkan Fatir yang masih terdiam mematung. Bahkan fira tak mau mendengarkan ungkapan hatinya. Ia memilih lari dan menjauh darinya. Bahkan ia belum sempat bertanya apakah ia akan menerima lamaran pemuda kristen itu. Fatir benar-benar hancur. Harapannya untuk mendapat balasan cinta dari gadis berdarah papua Portugis itu kini pupuslah sudah.
Disisi lain, fira menangis menuruni lereng bukit dan lembah, bahkan air matanya mengalir deras lebih deras dari aliran sungai yang disebranginya untuk sampai dirumahnya. Ia mengetahui bahwa sebenarnya pemuda itu mencintainya, begitu pula yang ia rasakan bahkan mungkin cintanya jauh lebih besar. Namun ia sadar ada sekat abstrak yang menghalangi mereka untuk bersatu.
***
Seusai shalat ashar. Safira dikagetkan oleh bentakan suara ayahnya yang terdengar begitu marah. Ada apakah gerangan? Mengapa ayah begitu marah. Dari balik jendela ia mencoba mengintip apa yang sedang terjadi di halaman rumahnya. Fira amat terkejut ketika melihat sosok Fatir tengah berdiri tegak didepan ayahnya.
“Dasar pemuda bodoh, aku sudah menyuruhnya bersembunyi dari ayahku, malah ia mendatanginya” gerutu Safira
“Ohh rupanya kau benar-benar memenuhi undanganku anak muda, rupanya kau cukup berani?” Ujar pak Nias ketika melihat sosok Fatir yang datang memenuhi panggilannya
“Adalah salah satu dari tujuh kewajiban seorang muslim yaitu memenuhi undangan apabila diundang” jawab Fatir singkat
“Hehh.. beraninya kau berkhotbah disini, kau fikir aku akan bertindak tolol seperti putriku yang mudahnya kau hasut untuk memasuki ajaran sesatmu?”
“Saya tak menghasut putri bapak, tapi Allahlah yang telah memanggil hatinya”
“Beraninya kau bicara seperti itu? Mau cari mati kau disini?”
“Mati dan hidupnya seseorang hanya Allah yang menentukannya bukan anda bapak ketua adat yang terhormat”
Kata-kata Fatir benar-benar memancing amarah pak Nias rasanya ia ingin segera menebas leher pemuda sombong dihadapannya ini.
“Lancangnya kau berbicara begitu terhadapku.”
“Aku memang sudah lancang pak, lancang menemui anda secara tidak hormat, lancang membawa putri bapak pada agama saya. Dan...”
“Dan apa?” Bentak pak Nias dengan nada emosi
“Dan lancang mencintai putri bapak.”
Mendengar pengakuan Fatir pak Nias menjadi semakin geram. Diambilnya pisau yang kemudian diarahkannya ketubuh Fatir. Untungnya Fatir mampu menghindar sehingga pisau itu meleset dan mengenai lengannya bukan perutnya.
“Beraninya kau mencintai putriku. Sampai kapanpun aku tak akan memberikan putriku pada pemuda kotor sepertimu. Dasar pemuda gila!”
“Saya memang gila pak. Gila karena mencintai putri bapak bahkan sangat mencintainya.”
Safira yang sedari tadi merekap pembicaraan mereka lewat kedua telinganya. Tak kuasa menahan tangisnya ia tak percaya Fatir akan senekad itu mengatakan perasaannya didepan ayahnya. Fira tak tahan lagi melihat amukan ayahnya. Segera ia berlari keluar membawa kain perban untuk menutupi sayatan dilengan Fatir.
“Papa hentikan.....! teriak Safira. Cukup, apa salahnya terhadap papa hah? Toh selama ini ia yang membantu banyak kegiatan didesa ini.”
“Baiklah anak muda, jika kau benar-benar mencintai putriku maka tinggalkan agamamu maka akan aku restui kalian menikah.”
“Papa... “bentak Safira
Belum sempat Safira melanjutkan kata-katanya Fatir sudah mendahuluinya
“Pak, saya memang mencintai putri bapak, namun saya tak akan dibutai oleh nafsu cinta sehingga menistakan agama saya. Cinta putri bapak adalah cinta dunia yang saya peroleh namun cinta dari Tuhan saya adalah cinta akhirat yang akan membawa kedamaian dalam kehidupan abadi.”
Mendengar perkataan itu, ayah Safira kian menjadi emosi ia memakai otoriternya sebagai ketua adat untuk menghukum Fatir dengan hukuman pasung selama satu bulan tanpa diberi makan hanya boleh memberinya makan seminggu sekali dan air minum
“Maka atas kelancanganmu akan aku jatuhi hukuman pasung kepadamu, bawa dia kegudang pemasungan!” perintah pak Nias kepada warga desa
“Tidak ayah..... “cegah Safira namun usaha yang dilakukannya sia-sia. Fatir tetap diseret kegudang pemasungan.
Warga desa sebenarnya tak sampai hati menyeret Fatir kegudang pemasungan, namun mereka tak bisa melawan titah sang ketua adat. Hingga dengan berat hati mereka tetap menyeret tubuh Fatir dan memasungnya.
***
Sebelum ayam berkokok yang menandakan fajar mulai terbit. Safira dengan menenteng sekantung roti datang mengendap-endap menuju gudang pemasungan. agar aksinya berjalan mulus, Safira tak mengenakan alas kaki alias sandal. Tak ingin berlama-lama di jalan, Safira dengan seluruh kekuatannya berlari kencang menuju tempat dimana orang yang dicintainya tengah menjalani hukuman.
Fatir..... teriak Safira
Safira tak sampai hati melihat tubuh kurus kekasihnya yang sudah tak berdaya lagi. Fatir tertunduk lesu dengan mata berkantung dan bibir pucat. Rupanya selama seminggu ia benar-benar tak diberi makan hanya air minum dan buah apel satu biji pemberian pak Matius yang mengganjal perutnya.
“Fatir, bagunlah!” Safira mencoba meraih tubuh lemas Fatir, ia tak kuasa memandangnya berkali-kali ia terisak
Isakan tangis Safira begitu familiar ditelinga Fatir hingga belum sempat ia membuka matanya ia telah mengenali siapa pemilik suara itu.
“Safira, kamu baik-baik saja?” tanya Fatir dengan lemparan senyuman yang terkesan dipaksakannya
“Kamu bodoh Fatir, (ujar Safira dengan diiringi isakan tangis). Mengapa kau siksa tubuhmu seperti ini karena membelaku
Aku tak pernah mengatakan kulakukan ini karenamu, aku melakukan ini karena Tuhanku menyuruhnya. Aku tak akan pernah sudi diperintahkkan untuk mengalihkan keyakinanku namun aku juga tak ingin kehilangan cintamu. Maka relakanlah aku menjalani ini, biarlah tubuhku hancur karena mempertahankan akidah dan cintaku asalkan hatiku tetap murni pada islam dan pemilik cintamu.
Mendengarkan pengakuan Fatir untuk kesekian kalinya membuatnya semakin merasa bersalah, ia semakin takut kehilangan pemuda sesempurna Fatir.
“Tunggu aku fira ini hanya sebulan, setelah aku selasai menjalani hukuman ini maka aku akan kembali mendatangi ayahmu dan meyakinkannya agar merestui kita, karena jika kita berjodoh maka kita pasti akan bersatu, jika tidak didunia maka mungkin kita akan bersatu diakhirat kelak.” Ujar Fatir sambil menahan sakit sayatan dan lapar di perutnya
“Aku akan menunggumu, pasti menunggu” hujan dipipi merah Safira semakin deras
Namun buru-buru Fatir menyeka air mata ”sudahlah jangan menangis! cepatlah pulang sebelum matahari terbit, jika tidak maka ayahmu akan mendapatimu dan bisa-bisa ia juga akan memasungmu”
***
Tiga minggu sudah Fatir menjalani hukuman pasungnya, artinya tinggal seminggu lagi maka Fatir akan segera dibebaskan. Namun musibah menimpa Safira, Safira jatuh sakit karena memikirkan keadaan Fatir. Ia takut Fatir tak mampu bertahan karena sudah dua minggu ia tak menjenguknya. Siapakah yang akan mengantarkan makanan kepadanya.
Semakin hari tubuh Safira pun semakin kurus ia hanya mampu menangis tanpa mau mengisi perutnya dengan sesuap nasi. Ia hanya akan keluar untuk mengambil air wudhu dan masuk kembali kekamar. Ayahnya mengencam jika ia berani keluar menemui Fatir lagi maka ayahnya tidak akan segan-segan untuk menambah hukuman Fatir menjadi dua bulan.
Semenjak jatuh sakit Safira sering bermimpi aneh tentang Fatir, kemarin ia bermimpi Fatir terjatuh dari jembatan dan menghilang ditelan arus ketika mereka berjalan bersama dan malam ini ia bermimpi Fatir meninggalkannya menuju tempat yang amat jauh dan mengatakan ia tak akan kembali lagi.
Siang malam Safira memikirkan arti mimpinya itu, hingga tubuhnya kian bertambah kurus matanya berkantung karena menangis setiap saat.
Melihat kondisi anak semata wayangnya yang semakin hari kian memburuk, rupanya telah mengundang simpati orang tuanya. Mereka merasa kasian terhadap keadaan anak mereka. Air mata Safira ternyata meluluhkan hati keras sang ayah. Hingga pada suatu ketika sebelum hukuman Fatir selesai ayah Safira memanggil dirinya secara pribadi diruang tamu.
“Safira, benarkah dirimu telah sangat yakin dengan agama barumu? Apakah kau tak ingin menjadi seorang kristiani seperti dahulu?” tanya ayahnya namun kali ini dengan nada agak berbeda, ini lebih halus dari sebelumnya
“Tidak ayah, Aku merasakan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa setelah aku menganut agama ini, ketenangan dan kedamaian yang tidak aku dapati sebelumnya”
“Lalu bagaimana dengan pemuda Bandung itu? Apakah kau benar-benar tak ingin melupakannya dan menikah dengan lelaki pilihan ayah?”
“Yang itu juga tidak ayah, aku sangat mencintai Fatir, Fatir datang disaat hatiku kemarau. Aku membutuhkan air, dan Fatir menyiraminya dengan cintanya dan kedamaian yang ia kenalkan terhadapku, papa. Dengan bacaan qur’annya yang menyentuh serta nasihatnya yang tak pernah menggurui. Aku benar-benar menemukan kesempurnaan dan ketenangan itu padanya.”
“Jika kau merasakan seperti itu, maka sekarang pergilah temui dia dan katakan padanya aku menerimanya sebagai menantuku.”
“Benarkah ayah?”
Seolah Safira belum percaya dengan apa yang barusan ia dengar, ayahnya merestui dirinya dengan Fatir bahkan ayahnya mengatakan bahwa ia menerima Fatir sebagai menantunya. Safira benar-benar kegirangan hingga ia tak sempat berganti baju, cukup meraih kain kerudungnya dikamar kemudian ia langsung berlari menuju gudang dimana kekasihnya dipasung. Ayahnya yang melihat tingkahnya hanya mampu tersenyum melihat anakknya memancarkan senyuman yan begitu tulus, senyuman yang sempat hilang dari bibir anaknya.
***
Hatinya benar-benar gembira, ia bagaikan menemukan sesuatu yang telah lama dicarinya, ia tak henti-henti mengatakan “aku mencintaimu karena Allah Fatir” sepanjang perjalanannya. Kini kakinya sudah melangkah kearah gudang pemasungan. Namun ia bingung mengapa ada begitu banyak orang digudang ini, bukankah digudang ini hanya ada dua orang yang menjalani hukuman yaitu Fatir dan satunya lagi lelaki setengah baya yang gila karena ditinggal mati istrinya.
“Eh pak, ada apa ya kok ramai sekali ditempat pemasungan?”tanyanya kepada salah seorang penduduk
“Ini fira, itu loh peneliti yang dipasung bulan lalu oleh ayahmu katanya sudah tidak bernafas lagi alias sudah meninggal”
“Apa bu?”
Safira tak percaya pada apa yang barusan didengarnya, orang itu pasti salah lihat mana mungkin Fatir meninggal, ia berjanji untuk kembali kepada dirinya, bahkan Fatir sempat mengatakan agar dirinya menunggu.
Sesampai didalam gudang, pemandangan yang paling ditakutinya kini ia saksikan. Ia melihat pak Matius menangis tersedu-sedu memeluk tubuh Fatir yang sudah kaku. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya.
Seketika tubuh Safira tersungkur ketanah, ia terjatuh tak sadarkan diri. Dalam pingsannya ia bermimpi bertemu dengan Fatir, dalam mimpinya Fatir menyampaikan sebuah pesan
Safira, aku tak bisa berlama-lama lagi disini, maafkan aku harus meninggalkanmu, seperti yang pernah aku katakan padamu. Jika kita tak berjodoh di dunia maka semoga kita dipertemukan di akhirat kelak. Ketahuilah Fira, dirimulah labuan cinta pertamaku. Tetaplah teguh dengan keyakinanmu karena itulah yang akan mengantarkan perjumpaan kita di surga kelak.”
Kemudian sosok Fatir hilang di balik awan. Safira mencoba memanggil-manggilnya namun sepertinya Fatir tak menghiraukannya. Safira terus memanggil bahkan dengan tangisannya Fatir tetap tak sudi untuk kembali.
“Fira.. fira bangun nak!” Suara ibunya membangunkannya
Tiba-tiba ia sudah berada di kamarnya. Bukankah seingatnya ia sedang berada di gudang pemasungan
“Dimana Fatir? Dimana dia?” Teriak Safira
“Maaf papa mu nak! tiba-tiba pak Nias tersungkur di kaki safira. Semua ini karena keegoisan papa. Hari ini tubuh Fatir akan diterbangkan ke pulau Jawa.
Tidak! Safira berlari kearah kerumunan orang dihalamannya, dimana tubuh kaku itu berbaring, tubuh yang dulu penuh senyum. Kini hanya bisa diam membisu. Wajah cerah ceria penuh wibawa itu kini telah berubah pucat.
Safira menggoyang-goyang tubuh Fatir yang kini telah terbujur kaku. Ia tak kuasa menahan tangisnya
“Fatir kau jahat, dimana janjimu? Aku bahkan sudah menunggumu. Kau berjanji untuk menemuiku setelah hukumanmu selesai. Inikah yang kau maksud pertemuan? mengapa setelah restu itu kita dapatkan, kau pergi meninggalkannya, kau bahkan tak ingin mendengarnya sama sekali, kau pergi sebelum aku sempat memberi tahumu, tak bisakah kau menantikan kedatanganku sebentar lagi? Aku belum sempat membagi kebahagiaaan itu bersamamu”
Fatir, tunggu aku di surga-Nya
TAMAT