Rabu, 30 September 2015

Kamu Harus Lakuin Ini, Supaya Ngampus Lebih Keren

Magang Pertama Bersama Miss Ganteng 
Malam ini, tubuhku terasa lelah.
Bagaimana tidak, sore tadi usai pengambilan data magang di daerah yang tak jauh dari kampus, sekitar 10 menit naik bentor. Sebut saja UKM Flamboyan milik ibu Sonya di depan Kampus Poltekes Gorontalo.
Sebagai mahasiswa yang lolos program PMW (Program Mahasiswa Wirausaha), kami diwajibkan untuk melakukan magang. Kebetulan atau entah memang rencana Allah, saya bersama kedua anggota kelompok mendapat bagian magang di UKM Flamboyan di depan Poltekes. Jadilah kami bertiga, menyusun siasat siapa yang bisa berangkat untuk magang. Setelah berbalas sms, tersebutlah saya dan kawan satu lagi, Hendra. Kebetulan teman seperjuangan lagi kurang sehat. Siapa lagi kalau bukan si gadis pengangum JKT 48. Eh bukan masalah itu lagi, ini topik yang berbeda.
Setelah meminta izin dosen, kami berangkat ke lokasi magang. Bentor tetap menjadi pilihan pertama yang mengantar kami menuju lokasi. Tak butuh waktu lama, bentor yang kami tumpangi sudah mendarat di lokasi tujuan.
Rupanya, kami bukan satu-satunya kelompok yang hendak melakukan wawancara. Di sana sudah duduk dara-dara manis yang sibuk mencoret-coret lembar laporan penelitian. Ketika kami datang, senyum-senyum ramah menyambut. Kursi yang sedari tadi diam teronggok langsung berpindah tempat di hadapan narasumber.
“Silakan! ngana kan yang mau ba tulis, jadi di depan”
Tutur gadis yang lebih dahulu bertamu. Sedikit tidak enak melangkahinya terlebih lagi mengambil tempat duduknya. Ah, tapi bukankah ia sudah mempersilakan aku menempati posisinya. Mungkin gadis itu sudah hatam dan hafal di luar kepala makna surat Al-mujadilah ayat 11, bahwa Allah memerintahkan kita untuk berlapang-lapang dalam majelis.
Barang siapa yang melapangkan urusan saudaranya, maka Allah akan melapangkan pula urusannya.”
“Terimakasih ya” jawabku singkat, tak lupa sedikit dibumbui senyum agar tak terkesan sombong
Wawancara dengan narasumber terbilang cukup singkat. Alhamdulillah Allah memudahkan. Tapi, staf cantik yang kami wawancarai sedikit kebingungan saat masuk pada penilaian harta perusahaan. Ia sibuk memanggil-manggil rekannya yang masih berkutit di dapur. Semua alat hitung dikeluarkannya, mulai dari pulpen, buku coretan sampai kalkultor.
“Jadi, aset perusahaan sekitar 60 juta” tiba-tiba ia bersuara memecah kesunyian
 Kami yang memang tengah menanti hasil hitung-mnghitungnya, buru-buru menyalin di kertas laporan.
“baru modal awal untuk pendirian usaha ini berapa bu?”
Celetus salah satu rekan kami. Nah, itu dia pertanyaan inti yang kami tunggu-tunggu. Kok gak sempat terpikir ya
“Oh, 350.000 ribu, Nak”
“Haaa.....”
Benarlah duagaanku, kami semua tersentak kaget. Di benakku, usaha ini setidaknya harus bermodal 5 juta. Tapi di luar dugaan, mereka hanya perlu uang kurang dari 400 ribu untuk mendirikan usaha yang bisa dibilang sudah sangat maju di Gorontalo ini.
Ternyata satu ilmu baru yang kami dapat.
 Menjadi pengusaha, bukan tentang seberapa besar modal atau uang di kantongmu. Tapi, seberapa besar nyali yang kau punya untuk memulai usaha”.
Sungguh luar biasa. Bukan hanya itu, informasi yang kami dapatkan pemilik usaha ini. atau lebih akrab di panggil ibu Sonya menamatkan pendidikan S1 di penghujung usia dewasa, itu artinya beliau sudah amat tua untuk ukuran sarjana, tapi tekad dan semangat beliau tetap tak kalah dengan mahasiswa usia belasan tahun. The best buat ibu.
Lama kami berbinjang mengenai perusahaan ini, hingga tak sadar kami telah membunuh waktu selama satu jam, dan kini hari kian menua. Saatnya kami harus kembali menuju sarang, apalagi kalau bukan kampus merah marun.
Setelah ritual salam-salaman kami pun mohon diri untuk pulang tak lupa ditambah ucapan terima kasih dan do’a kami agar perusahaan pengolahan pangan ini semakin jaya.
Ketika hendak melangkah meninggalkan lobi, kami baru tersadar. Bahwa Hendra adalah satu-satunya rekan kami yang terganteng. Eh, jangan Ge er ya, maksudnya karena hanya dia yang berlain jenis, alias laki-laki.
Menghilangkan penat, kami jadikan dia bahan candaan.
“Hendra pakai jilbab jo, bo sandiri di sini yang tidak pakai jilbab” celetus salah seorang teman kami.
“Oiya, So mo pakai jilbab jo ana
Eh, dia malah menjawab candaan teman kami. Seketika, tawa renyah kembali bermuntahan dari mulut kami. Akhirnya karena waktu tak memungkinkan kami untuk tetap di sana, pulang pun menjadi keputusan.
Sebelum menuju bentor, aku merogoh kantung baju, jaket, hingga tas. Ah, hanya ada uang 3 ribu, ada 20 ribu tapi itu uang Rahmat yang dititip untuk fotocopy ASP. Sepertinya, tradisi jalan kaki akan terulang lagi.
Jadilah, kami pulang menaiki kendaraan anti macet dan gratis, apalagi kalau bukan sepatu alias kaki sendiri. Tidak butuh lama untuk sampai di kampus, karena memang sudah terbiasa berjalan. Aku selalu ingat petah guruku
“Nak, kalau sudah jadi mahasiswa jangan cengeng apalagi manja!, sedikit-sedikit naik bentor, dikit-dikit makan di kantin. Ingat, siapa yang cari uang. Mereka, Nak. Orang tuamu yang rela kepanasan, rela kehujanan hanya agar anaknya tak makan nasi dan garam di tanah rantauan atau tak menelan ludah saat melihat temannya makan di restauran”.
Itu benar,  tekadku hidup di sini bukan untuk menyusahkan mereka yang di rumah. Apalagi menjadi beban yang memberatkan punggug ayah. Karena aku yang memaksa kuliah, maka aku harus bertanggungjawab atas tindakanku. Masih jelas terngiang saat aku meminta restu untuk kuliah dahulu, aku harus memakai jurus terandalku untuk meruntuhkan kerasnya hati ayah dan ibu yang tak mengijinkan. Bukan apa-apa, aku paham benar. Kondisi keuangan kami bisa dibilang di bawah rata-rata bahkan minus jika harus dibagi-bagi dengan keenam adikku. Saat itu, memoriku merekam ucapan ayah.
“Kami tidak mampu membiayai kalau mau lanjut tahun ini. Tapi, kalau mau memaksakan kuliah ya bapak dan ibu cuma bisa memberi restu dan do’a. Untuk uang berangkat kami bisa pinjam dulu, tapi kalau hidup di sana silakah cari dulu sendiri”
Aku bagai menemukan sebuah cahaya di tengah kegelapan selama ribuah tahun. Kata-kata itu yang akhirnya menjadi kekuatan dan motivasiku untuk terus melangkah maju di kota ini. Melangkah dengan kaki sendiri, tapi dengan tetap bersandar pada sang pemilik takdir. Karena aku yakin takdirku jelas bermelodi indah pada waktunya.
Setelah episode itu, kini aku berhasil melewati semuanya. Dan, termasuk yang satu ini. mejadi salah satu penerima dana Hibah PMW UNG, walaupun dengan persyaratan yang bejibun. Tapi semoga inilah langkah kami menuju gerbang kesuksesan.

Selasa, 29 September 2015

Bahagia Itu Sederhana ! Cukup Tersenyum Bersama Sahabatmu

Kebetulan pagi masih muda,
“Dingin, tunggu sebentar dulu, sadiki lagi baru mandi” ucapku sambil membenahi tumpukan buku di atas meja.
Semalam suntuk aku memang tidak berkarib bantal dan kasur, apalagi selimut. Tubuhku terpaksa berebah di kayu kotor bermanikkan debu. Bukan apa, sebenarnya aku tak terlalu gemar menggelandangkan diri. Tapi rasanya malam tadi aku benar-benar dalam kepayahan.
Meski malam sudah merangkak pagi, aku masih setia bermesra teguh dengah ASUS putih kesayangku. Seperti sudah menjadi rutinitas, tidur di larut malam dan bangun saat beduk masjid berteriak memanggil. Walhasil mata sebam bagai kantung panda. Padahal usia studiku di tanah tandus ini baru menjilat tahun ke tiga, tapi tubuh seperti sudah terkuras oleh padatnya rutinitas harian.
Dongengku berlanjut pagi ini, saat senyum cantik gadis pengangum JKT 48 itu, tiba-tiba muncul di depan pondok singgahku.


“Telat 15 menit” ketusnya singkat
Jelas raut wajahnya menunjuk pada sudut kekecewaan, sudah pasti. Aku berjanji menyusulnya di kos sebelum jam 7 pagi. Toh, nyatanya aku telat lagi, hingga kebiasaan yang sama terulang lagi. Dia yang pasti menjemputku.
Merasa membuatnya kecewa, aku bergegas. Seolah frekuensi aktivitas siap menyiapkan semakin merapat . ah jilbab tak usah terlalu rapi, kaus kaki yang berserakan segera kupungut.
“siap!, semua atribut sudah lengket pada tempatnya!”
Saatnya beraksi,
“kuliah jam berapa?” celetusku membuka percakapan
“Jam sebelas” singkat
ku kira hanya itu. tapi belum lagi aku melaju pada celotehanku, ia menyeka
“Kalau bisa kita berangkat lebih pagi, walaupun kuliahnya siang. Kita gak tahu nanti di Bank mau bagaimana kan? ”lanjutnya
Seperti biasa, wanita berdarah Jawa-Sanger itu memang selalu menunjukkan wajah tegas dan cuek. Tapi sebenarnya ia pelawak ulung yang tersesat di kota bentor ini.
Kami pernah menghatamkan waktu bersama dengan tawa gelegak yang tak pernah putus dari mulut. Seperti tak sadar dengan hadis rasul
Saatnya berangkat, kami berjalan menyusur lorong asrama yang sudah usang. Disini banyak kisah yang sudah terukir. Ada kisah tentang mereka yang kuliah karena terpaksa dan akhirnya lulus pun memaksakan diri. Ada kisah tentang mereka yang sungguh-sungguh, tapi sayang alam selalu menguji, kekurangan biaya kuliah lah, hingga harus menghutang kemana-mana. Dan, malangnya, semua kisah itu pernah menjadi lembar-lembar coretan di catatan episode kehidupanku.
Belum lagi, hendak naik bentor. Aku kembali tersentak
“Gelon ka wirda dapa tinggal” celetusku
Aku berlri membalikkan badan, meninggalkannya seorang diri di gerbang sempit tak beratap. Kelakuanku.
Aku seperti merasa ada hawa panas menusuk rongga dada, udara seperti enggan bertamu di hidungku. Berkali kali aku tarik nafas, sedikit. Pelan-pelan, akhirnya ia takluk juga terhadapku. Ini efek karena tak biasa berlari.
Saat kembali menemuinya, ia masih setia menanti. Hingga abang bentor, menyilahkan kami untuk duduk manis di kursi empuk berbahan busa itu. keramahan si abang tersirat dibenaknya. Jika aku bisa membaca pikirannya mungkin ia tengah berucap “duduk manislah kau, nikmati sejuknya udara. Biarlah aku yang menjadi pengemudimu”.
Benda bernama bentor ini tak terlalu luas, aku bahkan duduk bersanding gadis pengagum JKT48 dengan gelon kosong yang duduk manis di depan kaki kami. Sungguh sempit, jika bersanding dengan banyaknya alat perang yang kami bawa. Bukan sembarang alat perang, ini adalah alat kami berperang melawan kebodohan, apalagi kalau bukan kumpulan buku, pulpen, penggaris, laptop dan berjilid-jilid makalah.
Belum cukup di situ. Ketika berada di ruangan berasma Bank itu, kami harus rela duduk cantik bersama para pengantri lain yang sudah lebih dulu bertamu dibanding kami. Jadilah, saling pandang, tengok kiri kanan, ambil tisu dan aktivitas lain yang tidak terlalu penting. Inginnya sih sekadar membuang penat karena lama menanti nama tersebut. Eh bukan nama, maksudnya nomer antrian.
Setengah jam berlalu, belum pula teller beramah mempersilahkan kami menuju kursi hitam di hadapannya, ia malah sibuk memanggil kawan lainnya yang juga berseragam sama dengannya. Ingin marah, ah tapi aku tersadar, apa eksistensi sabar tidak pernah diajarkan, hingga menunggu waktu berganti begitu berat! Padahal penantian di padang mahsar kelak akan jauh lebih lama dan panjang di banding sekarang.
Udara di tempat ini begitu melalaikan, ia sejuk dan tak berbau, bahkan harum. Sedikit aku memandang ke arah gadis pengagum JKT48 itu, ia masih tetap sama sepertiku, memandang ke arah teller berharap segera disebut nomer urut kami.
“So setengah sembilan!”
Tiba-tiba ia berucap, seperti mengingatkanku pada waktu. Ini siyarat bahwa sudah 4o menit kami duduk di kursi yang sama.
Aku merogoh saku mencoba menemukan benda kecil yang menjadi bank segala informasi, entah kuliah ataupun rapat. Tapi tunggu, dimana benda itu?
Pikiranku mulai kacau
“ala uti, ana pe hp dapa tinggal di bentor”
        Beberapa saat, otakku berpaling fokus, aku sudah tidak lagi berpikir tentang rekening baru yang akan kami buka untuk usaha ini. tak memikirkan lagi, jika pulang ke kampus mau naik apa. Bahkan kuliah jam 9 seperti tak terpikir.
Saat itu, aku berdoa semoga allah masih berkenan mempertemukan aku dengan bank informasiku. Ini bukan soal materi, ini soal cinta. Aku sudah mencintainya sejak setahun belakang ini, kami berkawan dan berkarib bagai amplop dan perangko, tapi kini ia meninggalkanku.
“Insya Allah masih rezeki!” ucapku mencoba menenangkan hati
Dan, gadis pengangum JKT 48 itu melanyangkan senyum padaku, seperti sebuah isyarat bahwa anggapanku pasti benar.
Kami berajalan pulang, menelusuri trotoar yang kian memelah dan usang sebab terlalu sering berkarib mentari dan kotorang sepatu dari para pelintas jalan yang menggunakan jasanya.
“Aisyah, mau langsung ke kampus?”

#Terimakasih untuk hari ini kawan, semoga senantiasa bersama.
#Catatan Putri Sulung


Sabtu, 13 Juni 2015

Maafkan Untuk Satu Ramadhan Terakhirmu

   Tidak ada komentar     
categories: 
Aku pasti berdosa!
Kali ini, ya kali ya pasti!
Aku yakin aku berdosa!
Masih menyesal dengan semua ini, sesak rasanya. Napas masih turun naik. Tersengal. sesekali mengelus dada. Jauh di sana. Dibagian terkecil itu masih berbisik. Bisiknya lirih. Hampir hilang dan tak terdengar lagi. Kata-katanya tabu. Entahlah. Mungkin menghilang terbawa rasa sakit yang kian menderu. Hingga nada merdunya terganti melodi false tak beraturan.
Pemuda berhidung tinggi itu, masih terus menepuk-nepuk dada. Seperti ada bongkahan batu besar mengganjal hatinya. Sekali. Dua kali. Matanya masih terus terpejam. Tapi bukan tertidur. Pemuda itu tidak tidur. Ia menangis.
“Mengapa dia ya Allah?”
Pita suaranya bergetar. Jeritannya terpecah. Menghunus setiap siku masjid kecil dimana ia masih bersimpu dan terpejam.
“Ya Allah, mengapa?”
Teriakan itu sekali lagi terdengar. Hingga mengusik sepasang mata lain di masjid itu.
            “Faiz, kau kenapa?”
Rama yang sedari tadi terbuai dengan pulau kapuknya terhentak. Ia kaget. Bukan karena kepanasan atau kebakaran. Tapi karena teriakan pemuda itu. Teriakan langka yang bahkan tak pernah didengarnya. Walau empat tahun telah bersama dalam bilik sempit kos.
            “kau kenapa, Iz? Ceritalah!” Rama gigih mendesak sahabatnya.
Keadaan ini telah risaukan hatinya. Tak biasa, bahkan tak pernah. Mengapa pemuda tegar ini bisa menangis. Ku kira ia tak tahu bagaimana cara mengeluarkan air matanya. Ini aneh. Sungguh aneh.
Tapi, tunggu.
            “Apa ini Iz?”
Sebuah kertas buram berwarna putih. Tulisannya tak jelas. Aksaranya pun tak beraturan. Lebih lagi kertas kecil ini bukan hanya telah kusut terkoyak. Bahkan ia hampir robek. Seisi sudutnya hanya ditaburi oleh bekas air. Tepatnya air mata.
            Perlahan tangannya, mencomot kertas itu. Berharap kertas dapat menjawab teka teki hatinya. Mengapa pemuda setegar Faizal Arifin ini bisa begitu cengeng. Bahkan melebihi adik gadisnya.
            Dibacanya pelan aksara itu. Tulisanya semakin tak jelas. Tapi ia mencoba memungut akasara demi aksara hingga terangkai. Dan inilah yang akhirnya ia baca.

Teruntuk putra ibu
Faizal Arifin
Nak, menjadi ibu itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Nak, menjadi ibu itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ibu dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ibu itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, ibu seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas keibuanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling ibu banggakan di depan siapapun. Bahkan di hadapan Tuhan, ketika ibu duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya ibu dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata di hadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usaha ibu adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karenaNya, bukan karena ibu dan ayahmu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya ibu harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, ibu akan ikhlas. Karena seperti itulah ibu di dunia. Tapi, kalau boleh ibu berharap, ibu ingin saat itu ibu melihatmu dekat dengan Tuhan. Ibu akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.
Nak, jikalau engkau membaca tulisan ini. ibu sudah pergi jauh menghadap pemilik yang sesungguhnya. Bila masa pertemukan kita kembali di alam yang berbeda. Bagi ibu cukuplah bertemu denganmu di satu ramadhan. Seperti saat-saat dahulu bersua denganmu. Ketahuilah anakku di malam itu. Ibu selalu bermimpi wajah tampanmu tersenyum pada ibu. Memeluk ibu. Dan mengatakan “Ibu, satu ramadhan ini Faiz pulang”. Tapi rasanya itu tak mungkin. Keberadaanmu tak dekat, ibu paham itu Nak.
Sekarang, gema tauhid berkumandang menghiasi langit ramadhan. Ibu masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Berharap bisa melihatmu di malam ini. karena malam ini, awal kita dan sang pemilik takdir bersua dalam bingkai cinta, bersua dengan bulan yang termulia.
Nak, jikalau kau bisa, jikalau Tuhan masih memberi umurmu diperpanjang. Datanglah di makam ibu, ibu masih menunggumu di satu ramadhan tahun depan.
.....................................
            “Innalillahi wainna ilaihi rajiun” suara itu terdengar getir, pahit mungkin tak berasa. Inilah yang terjadi pada sahabatnya, sahabat yang dikenalnya tegar, menetesakan air mata. Karena ini. sungguh karena ini.
Tak menunggu aba-aba atau peluit. Segera ia menghamburkan tubuhnya pada Faiz yang masih tersungkur sambil terus terisak. Ia tak kuasa.
            “Ini ramadhan, Iz. Ini bulan yang suci. Dan Allah memanggil ibumu tepat di hari yang suci dan bulan yang suci pula. Ini tanda Allah ingin menyucikan ibumu. Kau tak boleh ratapi sahabat. Ingatlah betapa mulainya orang yang dipanggil di bulan ini”
            Faiz tak menoleh. Matanya masih terlihat sembab. Ia tak menghiraukan perkataan Rama. Sesekali matanya melirik pemuda itu. Namun setelah ia melihat kertas putih itu. Isakan tangisnya berlanjut kembali.
“Seharusnya, iktikafku malam ini tak harus seperti ini, apa artinya tahajudku, puasaku, tilawahku bahkan dzikir-dzikir pagi dan petangku yang tak pernah putus. Jika ternyata dosaku pada wanita yang telah melahirkanku begitu besar. Aku takut, nerakaNya akan melahapku” kali ini nada suara Faiz merintih
“Bukan karenamu, bukan. Ini bukan karenamu. Ibumu tak meninggalkanmu. Tapi ia dipanggil oleh pemilikNya. Apa hak kita? Bukankah Allah lebih berhak atas ibumu dibanding kau dan ayahmu?”
Percakapan dua sahabat itu, lamban. Terdengar bermakna. Namun ada seribu duka yang membalut dialog itu. Bukan luka biasa. Luka perih yang mencakar hati. Meski mencoba berpaling. Tapi jagkar luka itu terlalu dalam tertanam.
“Iz, sepertinya, kau harus segera berwudhu. Tunaikan Tahajud, semoga Allah menenangkan hatimu. Do’akanlah ibumu. Sahabatmu ini percaya Allah sedang jatuh cinta kepada keluargamu, sehingga ia menguji kalian di bulan mulia ini”
Faiz menurut kata sahabatnya itu. seperti anak domba yang mengekor induknya Kata-kata Rama memang tak salah. Tak seharusnya ia meratap karena qhado’Nya. Bulan ini, bukan untuk meratapi takdir. Tapi menghidupkannya dengan dzikir. Ia yakin dengan dzikirnya. Sang ibu akan tersenyum. Hati kecilnya berjanji, jika ramadhan tahun depan Allah masih perkenankan ia untuk bertemu. Maka ia takkan lupa untuk mengunjungi makam wanita itu.
Ditatapnya langit Serambi Madinah yang tak lagi membuncit karena mendung. Ia tersenyum. Sedang langitpun turut menghiburnya. Lantas mengapa ia khilaf menyalahkan takdir. Bukankah bulan ini lebih indah dari seribu bulan. Mengapa harus ia sia-siakan hanya untuk meratap. Ia mantapkan bahwa ibadah setiap Ramdahan akan ia niatkan untuk kebaikan sang ibu di sisinya.
Inilah, saat bakti yang sesungguhnya, harus aku tunjukan!  Bisiknya pelan menyemangati hati yang runtuh itu.

Jumat, 02 Januari 2015

Puisi : Cerita Hati dan Dayung Masa

   Tidak ada komentar     
categories: 

Oh cinta
Kemanakah dayung akan berlabuh membawa sampan
Dua hati beradu kasih dalam khidmat takdir-Nya
Duhai cinta
 jika tak kutemukan dalam sosok kesatria
Biarlah ia menemukanku dalam bingkai sederhana parasku
          Bila ia datang terlambat
          Bahkan tak menghampiri
Biarlah aku terjun meski bermandi peluh
Aku sanggup menapaki ribuan meter barisan waktu
Asal tak kau campakkan cintaku
          Meski sama!
Aku juga begitu
Bingung, tak terarah!
Disini wajah masih nampak biasa
          Sebiasa seperti nanti kau temui aku
Aku tak sedikitpun menguncup, apalagi melayu
Masih tegar disini, meski ribuan tetes kristal hujan datang membasahi
Masih kah, kau ada wahai cinta?
          Aku menanti setiap bait hidupku di kemudian masa
Untuk menyaksikan penantian ini bukan terbias waktu
Dengadahku selalu pada barisan malam
Meminta agar pentian ini tak berbumbu nafsu
          Meski sukmaku masih kaku akan hadirmu kelak
Tapi jiwa ini butuh ruh cintamu
Untuk membantuku mengarungi labirin cinta
bersamamu
Catatan hati gadis penanti cinta sejati

Rintihan Al-Qur'an

   Tidak ada komentar     
categories: 


Rintihan Al-Qur’an
Kala kalam-kalam didendangkan
Butir-butir rahmat mengalir dari dua lisan
Nafas-nafas ilahi
Bertabur dalam kalam-Nya
Bertebaran dalam pusaka nan Agung
Kini aku bahkan tak terdengar lagi
Entah menghilang ataukah mati
            Kau katakan!
            Alqur’an undang-undangmu
            Mana?
Kau biarkan aku usang dalam lemari
Kau biarkan aku mati membusuk termakan rayap
Ketahuilah!
Aku yang tak pernah kau sentuh ini
Aku yang tak pernah kau dekap ini
Akulah yang akan menjadi penerang kalian dalam gelap dan sempitnya alam kubur
Aku akan datang bersama cahaya yang akan menghiasi rumah kecilmu
Tapi kini, kau congkak terhadapku!
            Aku tak butuh kau pajang dilemari perak
            Aku tak butuh kau hiasi dengan figura cantik
Aku butuh kau dekap diriku
Kau hiasi lisanmu dengan butir-butir nafasku
Hingga nafas-nafasmu adalah nafas-nafas surga

By Siti Fhatima