Magang Pertama Bersama Miss
Ganteng
Malam ini, tubuhku terasa lelah.
Malam ini, tubuhku terasa lelah.
Bagaimana tidak,
sore tadi usai pengambilan data magang di daerah yang tak jauh dari kampus,
sekitar 10 menit naik bentor. Sebut saja UKM Flamboyan milik ibu Sonya di depan
Kampus Poltekes Gorontalo.
Sebagai mahasiswa
yang lolos program PMW (Program Mahasiswa Wirausaha), kami diwajibkan untuk
melakukan magang. Kebetulan atau entah memang rencana Allah, saya bersama kedua
anggota kelompok mendapat bagian magang di UKM Flamboyan di depan Poltekes. Jadilah
kami bertiga, menyusun siasat siapa yang bisa berangkat untuk magang. Setelah berbalas
sms, tersebutlah saya dan kawan satu lagi, Hendra. Kebetulan teman seperjuangan
lagi kurang sehat. Siapa lagi kalau bukan si gadis pengangum JKT 48. Eh bukan
masalah itu lagi, ini topik yang berbeda.
Setelah meminta
izin dosen, kami berangkat ke lokasi magang. Bentor tetap menjadi pilihan
pertama yang mengantar kami menuju lokasi. Tak butuh waktu lama, bentor yang
kami tumpangi sudah mendarat di lokasi tujuan.
Rupanya,
kami bukan satu-satunya kelompok yang hendak melakukan wawancara. Di sana sudah
duduk dara-dara manis yang sibuk mencoret-coret lembar laporan penelitian. Ketika
kami datang, senyum-senyum ramah menyambut. Kursi yang sedari tadi diam
teronggok langsung berpindah tempat di hadapan narasumber.
“Silakan! ngana kan yang mau ba tulis, jadi di depan”
Tutur gadis
yang lebih dahulu bertamu. Sedikit tidak enak melangkahinya terlebih lagi
mengambil tempat duduknya. Ah, tapi bukankah ia sudah mempersilakan aku menempati
posisinya. Mungkin gadis itu sudah hatam dan hafal di luar kepala makna surat
Al-mujadilah ayat 11, bahwa Allah memerintahkan kita untuk berlapang-lapang
dalam majelis.
Barang siapa yang melapangkan urusan
saudaranya, maka Allah akan melapangkan pula urusannya.”
“Terimakasih
ya” jawabku singkat, tak lupa sedikit dibumbui senyum agar tak terkesan sombong
Wawancara dengan
narasumber terbilang cukup singkat. Alhamdulillah Allah memudahkan. Tapi, staf
cantik yang kami wawancarai sedikit kebingungan saat masuk pada penilaian harta
perusahaan. Ia sibuk memanggil-manggil rekannya yang masih berkutit di dapur. Semua
alat hitung dikeluarkannya, mulai dari pulpen, buku coretan sampai kalkultor.
“Jadi, aset
perusahaan sekitar 60 juta” tiba-tiba ia bersuara memecah kesunyian
Kami yang memang tengah menanti hasil
hitung-mnghitungnya, buru-buru menyalin di kertas laporan.
“baru modal
awal untuk pendirian usaha ini berapa bu?”
Celetus salah
satu rekan kami. Nah, itu dia pertanyaan inti yang kami tunggu-tunggu. Kok gak
sempat terpikir ya
“Oh, 350.000
ribu, Nak”
“Haaa.....”
Benarlah duagaanku,
kami semua tersentak kaget. Di benakku, usaha ini setidaknya harus bermodal 5
juta. Tapi di luar dugaan, mereka hanya perlu uang kurang dari 400 ribu untuk
mendirikan usaha yang bisa dibilang sudah sangat maju di Gorontalo ini.
Ternyata satu
ilmu baru yang kami dapat.
“Menjadi
pengusaha, bukan tentang seberapa besar modal atau uang di kantongmu. Tapi,
seberapa besar nyali yang kau punya untuk memulai usaha”.
Sungguh luar
biasa. Bukan hanya itu, informasi yang kami dapatkan pemilik usaha ini. atau
lebih akrab di panggil ibu Sonya menamatkan pendidikan S1 di penghujung usia
dewasa, itu artinya beliau sudah amat tua untuk ukuran sarjana, tapi tekad dan
semangat beliau tetap tak kalah dengan mahasiswa usia belasan tahun. The best
buat ibu.
Lama kami
berbinjang mengenai perusahaan ini, hingga tak sadar kami telah membunuh waktu
selama satu jam, dan kini hari kian menua. Saatnya kami harus kembali menuju
sarang, apalagi kalau bukan kampus merah marun.
Setelah ritual
salam-salaman kami pun mohon diri untuk pulang tak lupa ditambah ucapan terima
kasih dan do’a kami agar perusahaan pengolahan pangan ini semakin jaya.
Ketika hendak
melangkah meninggalkan lobi, kami baru tersadar. Bahwa Hendra adalah
satu-satunya rekan kami yang terganteng. Eh, jangan Ge er ya, maksudnya karena hanya dia yang berlain jenis, alias
laki-laki.
Menghilangkan
penat, kami jadikan dia bahan candaan.
“Hendra
pakai jilbab jo, bo sandiri di sini yang tidak pakai jilbab” celetus salah seorang
teman kami.
“Oiya, So mo
pakai jilbab jo ana”
Eh, dia
malah menjawab candaan teman kami. Seketika, tawa renyah kembali bermuntahan
dari mulut kami. Akhirnya karena waktu tak memungkinkan kami untuk tetap di
sana, pulang pun menjadi keputusan.
Sebelum menuju
bentor, aku merogoh kantung baju, jaket, hingga tas. Ah, hanya ada uang 3 ribu,
ada 20 ribu tapi itu uang Rahmat yang dititip untuk fotocopy ASP. Sepertinya,
tradisi jalan kaki akan terulang lagi.
Jadilah,
kami pulang menaiki kendaraan anti macet dan gratis, apalagi kalau bukan sepatu
alias kaki sendiri. Tidak butuh lama untuk sampai di kampus, karena memang
sudah terbiasa berjalan. Aku selalu ingat petah guruku
“Nak, kalau sudah jadi mahasiswa jangan cengeng apalagi manja!,
sedikit-sedikit naik bentor, dikit-dikit makan di kantin. Ingat, siapa yang
cari uang. Mereka, Nak. Orang tuamu yang rela kepanasan, rela kehujanan hanya
agar anaknya tak makan nasi dan garam di tanah rantauan atau tak menelan ludah
saat melihat temannya makan di restauran”.
Itu benar, tekadku hidup di sini bukan untuk menyusahkan
mereka yang di rumah. Apalagi menjadi beban yang memberatkan punggug ayah. Karena
aku yang memaksa kuliah, maka aku harus bertanggungjawab atas tindakanku. Masih
jelas terngiang saat aku meminta restu untuk kuliah dahulu, aku harus memakai
jurus terandalku untuk meruntuhkan kerasnya hati ayah dan ibu yang tak
mengijinkan. Bukan apa-apa, aku paham benar. Kondisi keuangan kami bisa
dibilang di bawah rata-rata bahkan minus jika harus dibagi-bagi dengan keenam
adikku. Saat itu, memoriku merekam ucapan ayah.
“Kami tidak mampu membiayai kalau mau lanjut tahun ini. Tapi,
kalau mau memaksakan kuliah ya bapak dan ibu cuma bisa memberi restu dan do’a. Untuk
uang berangkat kami bisa pinjam dulu, tapi kalau hidup di sana silakah cari
dulu sendiri”
Aku bagai
menemukan sebuah cahaya di tengah kegelapan selama ribuah tahun. Kata-kata itu
yang akhirnya menjadi kekuatan dan motivasiku untuk terus melangkah maju di
kota ini. Melangkah dengan kaki sendiri, tapi dengan tetap bersandar pada sang
pemilik takdir. Karena aku yakin takdirku jelas bermelodi indah pada waktunya.
Setelah
episode itu, kini aku berhasil melewati semuanya. Dan, termasuk yang satu ini.
mejadi salah satu penerima dana Hibah PMW UNG, walaupun dengan persyaratan yang
bejibun. Tapi semoga inilah langkah kami menuju gerbang kesuksesan.




