Senin, 29 Agustus 2016

Putri Mandalika : The Legend Princess of Lombok

   Tidak ada komentar     
categories: 

Kecantikan tak mesti anugerah, terkadang ia menjadi malapetaka bagi pemiliknya
Itulah yang diyakini oleh Putri Mandalika. Anak dari sepasang raja dan ratu yang arif lagi bijaksana. Adalah mereka Raja Tonjang Beru dan Ratu Dewi Seranting yang juga memerintah Kerajaan Tonjang Beru pada masanya. 


Kerajaan Tonjang Beru begitu damai. Rakyat hidup bahagia dan sejahtera, tak kurang sesuatu apapun. Semua hidup dalam kedamaian dan kasih mengasihi. Hingga bau peperangan dan permusuhan tak pernah tercium.  Kebahagiaan rakyat Tonjang Beru semakin lengkap kala putri yang anggun lagi baik hati lahir dari raja dan ratu pujaan mereka. Putri itu bernama Mandalika.
Seiring berjalannya waktu, raut-raut kecantikan sang putri kecil mulai nampak. Kecantikan itu semakin sempurna ketika sang putri beranjak dewasa. Selain rupanya yang cantik, Putri Mandalika ternyata mewarisi kewibawaan kedua orang tuanya. Jadilah Putri Mandalika dicintai oleh seluruh rakyat Kerajaan Tonjang Beru, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Semua mengagumi kearifan dan kecantikan sang putri. Begitu juga dengan para pangeran dari berbagai kerajaan. Mereka sungguh penasaran akan kecantikkan dan kearifan sang putri. Akhirnya silih berganti pangeran datang di istana Tonjang Beru. Mereka datang untuk satu tujuan, melamar Putri Mandalika.
Bukannya bahagia mendapat lamaran dari banyak pangeran, dicintai seluruh rakyat negeri, sang putri justru amat sedih. Ternyata kecantikan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya menjadi petaka besar. Kecantikan membuatnya diincar para pangeran di seluruh daratan Pulau Lombok. Mulai dari Kerajaan Johor, Lipur, Kuripan, Pane, Beru dan Kerajaan Daha. Semua jatuh hati kepadanya. Mereka berebut untuk memperistri si putri jelita. Namun tak mungkin seorang putri menerima lamaran dari banyak pangeran. Selain pertimbangan cinta, ia juga tak ingin memilih salah satu di antara para pangeran. Jika ia memilih satu, maka pangeran yang lain akan iri dan sakit hati.  
            Keputusan pun ditetapkan, putri tak akan menerima lamaran dari pangeran manapun, keputusan itu membuat para pangeran di seluruh negeri gigit jari. Upaya memperistri putri yang cantik jelita pupuslah sudah.
Rupaya tak semua pangeran mampu berlapang dada. Mengetahui bahwa putri tak ingin menerima lamaran semua pangeran,  dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dari Kerajaan Johor dan Pengeran Maliawang dari Kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya Kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolak. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman serupa. Pagi-pagi buta mereka sudah mendatangi Kerajaan Tonjang Beru. Kedua utusan pangeran itu datang dengan iring-iringan pasukan.
            Seperti biasa, kedatangan mereka disambut baik oleh Kerajaan Tonjang Beru. Dewi Seranting yang tak lain adalah ibu dari Mandalika mempersiapkan jamuan untuk para tamu terhormatnya. Ia tak ingin mengecawakan tamu yang telah datang jauh-jauh hanya untuk menemui putrinnya.
            Setelah diterima oleh Kerajaan Tonjang Beru. Kedua utusan tersebut kemudian menyampaikan hajat masing-masing. Diawali dengan utusan dari pangeran Datu Teruna yaitu Arya Bawal.
“Raja Tonjang Beru yang terhormat. Kami datang kemari atas utusan dari pangeran kami, Datu Teruna. Beliau menginginkan putrimu menjadi istrinya. Bagaimana pendapat tuan raja mengenai hajat pangeran kami?”
“Aku hanyalah seorang ayah. Keputusan mengenai siapa yang akan menjadi suami Mandalika, semuanya kuserahkan pada putriku. Karena kebahagiaannya adalah kebahagiaan Kejaraan Tonjang Beru. jawab raja penuh wibawa
            Kali ini, Putri Mandalika angkat bicara.
Karena kuasa memilih telah diberikan kepadaku. Dengan berat hati dan beribu ampun aku menolak lamaran ini!” jelas Putri Mandalika singkat
            Mendengar tutur kata sang putri, Arya Bawal menjadi naik pitam.
“Jika putri tidak bersedia menerima lamaran dari pangeran Datu Teruna, maka tunggu kehancuran dan malapetaka besar yang akan menimpa kerjaan dan seluruh rakyat Tonjang Beru.
Arya Tebuik ikut andil bicara, ia gigih mengancam raja.
            Dewi Seranting yang sedari tadi turut menyimak jalannya  perbincangan itu tersentak kaget. Bagaimana pengeran Datu Teruna bisa sekejam itu. Ia bahkan mengancam menghancurkan Kerajaaan Tonjang Beru.
Ternyata tak hanya utusan dari Pangeran Datu Teruna yang berkata demikian. Arya Bumbang selaku utusan dari Pangeran Maliawang pun melakukan ancaman.
Raja, begitupun dengan maksud kedatangan kami di sini. Kami ingin melamar Putri Mandalika untuk dijadikan istri Pangeran Maliawang. Namun jika putri juga menolak lamaran Pangeran Maliawang sebagaimana putri menolak lamaran Pangeran Datu Teruna, maka kami juga mengancam dengan hal yang sama. Menghancurkan dan meluluhlantakkan kerjaan serta rakyat Tonjang Beru selama-lamanya.”
Tidak! Putri Mandalika hanya akan diperistri oleh Pengeran Datu Teruna!” Tukas Arya Tebuik memanaskan suasana.
“Hai, Kalau Kalian tetap nekat menjadi lawan dari pangeran kami, maka langkahi dulu mayat ini” Arya Bumbang mengacungkan pedang
Merasa diremehkan Arya Tebuik ikut mengeluarkan senjata andalannya. Kelewang[1] yang sudah berdiam lama di pinggangnya itu ia acungkan, bahkan lebih tinggi dari acungan Arya Bumbang.
“Yaaakkk...!”
“Sriiingg...!”
Suara pedang keduanya beradu hingga terdengar di seluruh sudut istana. Raja Tonjang Beru panik.
“Hentikan...! Kuperintahkan kalian untuk berhenti!” tukas Raja.
Seisi ruangan mematung. Begitu juga dengan dua utusan yang sudah termakan emosi.
“Apakah kalian kemari untuk melamar putriku ataukah menunjukkan keperkasaan kalian?” raja melanjutkan ucapannya
“Maafkan kami tuan raja! Kami terbawa emosi” balas kedua utusan tersebut.
“Pergilah kalian dari kerajaan ini! Aku tak ingin melihat keributan dan perkelahian. Biarkan putriku memikirkan hajat kalian.” tutup raja
Belum lagi kedua utusan itu beranjak melangkahi pintu istana, putri tiba-tiba berdiri. Mereka mengira putri sudah mengambil keputusan. Siapa yang akan diterimanya.
“Tunggu! Beri aku waktu tujuh hari untuk mempertimbangkan semua ini. Setelah itu akan kuberi tahu keputusan mana yang akan kuambil.”
            “Baiklah tuan Putri, jika itu permintaanmu, kami akan menunggu hingga tujuh hari setelah pertemuan ini. Namun jika tidak, maka sesuai ancaman. Kerajaan ini akan kami hancurkan beserta seluruh rakyatnya.”
            Ancaman itu mengiris hati raja. Betapa ia tak menyangka, hanya karena kecantikkan putrinya, nasib rakyat menjadi taruhan. Tapi, Raja tak mungkin akan menyalahkan putri semata wayangnya, karena Putri Mandalika memang tak sepatutnya disalahkan atas perkara ini.
***
Kedua pangeran yang mendapat laporan dari masing-masing utusan ternyata tak sabar menunggu hingga hari ketujuh. Dengan licik mereka mengirim senggeger[2] agar sang putri jatuh hati kepada mereka. Tanpa diketahui, pangeran Datu Teruna mengirim Senggeger Utusaning Allah untuk memikat Putri Mandalika. Begitu juga pangeran Maliawang yang meniup senggeger Jaring Sutra. Kedua senggeger ini terkenal sangat ampuh dan sakti. Namun di luar dugaan mereka, kekuatan kedua senggeger itu tak mampu menembus Putri Mandalika. Hingga kedua wajah mereka muncul berbarengan di hadap sang putri.
            Mengetahui aksi mereka gagal. Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang menjadi semakin geram. Mereka sudah tak sabar memperistri putri yang cantik jelita lagi sakti tersebut.
            Meski senggeger itu tak mempan menembus sang putri, ia tetap bingung. Keputusan apa yang akan diambilnya.
“Jika aku memilih di antara keduanya, atau tak memilih keduanya. Nasib kerajaan ini tetap sama, ia akan hancur, begitu juga rakyatku,” putri membatin sambil terus memikirkan nasib kerajaan dan rakyatnya.
Karena banyak berpikir, putri menjadi tak nafsu makan. Bagaimana jika ancaman dari kedua pangeran tersebut benar-benar terjadi. Dengan kebimbangan dan kebingungan yang terus melanda hati sang putri. Ia menjadi semakin kurus dan jatuh sakit. Akhirnya, kesedihan dan kepiluan menimpa seluruh rakyat Tonjang Beru. Di tengah kepiluannya, Raja Tonjang Beru menemui putri yang kini terbaring lemah di atas dipan tidurnya.
“Anakku, bagaimana keadaanmu?” sapa raja sambil membelai rambut panjang putrinya.
            “Ayah, negeri ini terlalu indah untuk pertumpahan setetas darah, terlalu damai jika harus terdengar sayatan pedang. Aku tak mungkin sanggup melihat negeri ini hancur karena peperangan memperebutkanku!bisiknya pelan
Mendengar tutur kata putrinya, raja Tonjang Beru tak kuasa menahan air mata yang sudah meleleh menuruni lereng wajah yang mulai senja termakan usia.
Tidak anakku, ini bukan salahmu! Sungguh ayah dan ibumu akan selalu membantumu” tutur raja sambil berurai air mata
“Maafkan putri, Ayahanda. Tak ada niatan dalam hati menjadikan negeri ini saling musuh dan meninggalkan dendam. Ini semua salah putri karena tak menerima lamaran kedua pangeran itu. Maka, izinkanlah putri untuk menyelesaikan sendiri masalah ini”
“Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah pertumpahan darah itu anakku?” tanya raja sekali lagi
            “Aku akan melakukan semedi!” jawab putri mantap
            “Tidak, kau sedang sakit, Anakku!” bantah raja
            “Ayah izinkanlah putrimu pergi. esok hari aku akan berangkat melakukan semedi. Keputusan yang terbaik hanya berasal dari Tuhan. Maka aku akan meminta kepadaNya untuk menunjukkan keputusan itu dalam semediku”
Putri bersikeras untuk melakukan semedi. Tak bisa menolak permintaan putrinya, raja pun mengiyakan keputusan putri Mandalika untuk melakukan semedi.
            Jadilah sang putri berangkat menuju tempat semedi dalam keadaan sakit. Putri tak peduli dengan kondisinya, di benaknya hanya ada satu hal: keselamatan rakyatnya.
Raja dan ratu melepas kepergian putri penuh iba. Mereka sungguh bangga putri mereka memiliki hati seputih mutiara. Tak sia-sia Dewi Seranting mengandung Putri Mandalika sembilan bulan dalam rahimnya.
Sebelum putri meninggalkan istana, ia berpesan bahwa selama dirinya melakukan semedi, tak satupun pelayan istana diperbolehkan datang menemuinya, meskipun untuk memberinya makan. Ia benar-benar tak ingin diganggu. Putri Mandalika bertekad mendapatkan jawaban terbaik atas masalah pelik yang menimpa dirinya dan Kerajaan Tonjang Beru saat ini. Ia tak ingin salah dalam mengambil keputusan. Dengan ditemani para parjurit dan beberapa  dayang-dayang, putri berangkat menuju tempat semedi di sebelah utara kerajaan.
            Dua hari berlalu setelah Putri Mandalika memutuskan melakukan semedi. Suasana Kerajaan Tonjang Beru diliputi kecemasan dan kekhawatiran teramat dalam. Ini sudah lima hari berlalu semenjak kerajaan Johor dan Lipur mengancam akan menghancurkan Kerajaan Tonjang Beru jika sang Putri Mandalika menolak lamaran mereka. Itu artinya hanya tersisa dua hari lagi untuk memikirkan cara terbaik agar pertumpahan darah tidak terjadi di Negeri Tonjang Beru.
            Raja semakin gusar, untuk mengantisipasi terjadinya peperangan, ia mengutus seluruh prajurit dan panglima kerajaan agar berjaga-jaga di seluruh sudut kerajaan. Tak ketinggalan pula, pemukiman rakyat juga dijaga ketat oleh para prajurit istana. Keamanan harus ditingkatkan. Begitu juga rakyat, mereka diperintahkan agar tidak keluar di hari ketujuh saat putri akan mengumumkan keputusannya.
“Perintahkan seluruh rakyat agar menutup pintu-pintu rumah meraka. Jangan ada satupun yang berkeliaran di luar rumah ketika hari dimana Putri Mandalika akan mengumumkan keputusan semedinya! perintah raja kepada seluruh prajuritnya
            Sudah dua hari melakukan semedi, Putri Mandalika belum juga menemukan jawaban atas permasalahannya. Ia berusaha tetap tenang. Bahkan, tak sedikit pun tubuhnya bergeser dari tempat semedinya sejak awal.
Tepat esok hari, saat fajar hendak muncul di ufuk timur. Tiba-tiba sang putri menerima sebuah bisikkan. Bisikkan itu tak begitu jelas, tapi ia yakin itu adalah wangsit yang diturunkan Tuhan untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya. Putri mengakhiri semedinya tepat sehari sebelum keputusannya akan diumumkan.
            Merasa sudah menemukan jawaban atas masalahnya, putri akhirnya kembali ke istana.
            Kembalinya Putri Mandalika ke istana disambut tangis haru oleh raja dan ratu. Mereka amat khawatir jika putri mengambil keputusan yang salah. Namun, putri tak ingin terburu-buru, ia tak boleh memberi tahu keputusannya.
“Ayahanda, putri sudah menentukkan keputusan apa yang akan ku ambil mengenai perkara pelik ini!” jelasnya singkat
            “Apa itu putriku, beri tahu ayah sekarang, Ayah hendak...,
Belum lagi raja menyelesaikan perkataannya, Putri Mandalika menyela perkataan pria itu.
“Ampun, beribu ampun Ayahanda. Saat ini, Putri belum bisa memberi tahu keputusan apa yang akan putri ambil.”
Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting kemudian terhenyak, mengapa putrinya tak ingin memberi tahu keputusannya. Padahal, kedua orang tuanya begitu mencemaskan keadaan kerajaan. Ini bukan waktunya bermain-main. Mengapa harus dirahasiakan?
“Tapi, mengapa putri tak memberi tahu ayah dan ibumu? Kita semua berada dalam kekhawatiran yang sama. Kekhawatiran akan nasib kerajaan dan rakyat Tonjang Beru” lanjut raja penuh harap
Putri Mandalika masih kokoh dengan pendiriannya. Ia tak ingin terburu-buru memberi tahu kedua orang tuanya tentang keputusan yang akan diambilnya. Sejenak ia mengalihkan pandangan pada sudut-sudut kerajaan. Terlihat begitu banyak prajurit yang berjaga-jaga di sana. Mereka sudah siap dengan pedang dan panah masing-masing. Begitu lengkap. Sungguh keadaan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di bumi kelahirannya.
Putri tak menghendaki sedikitpun peperangan di negeri ini, apalagi permusuhan dan kedengkian yang kelak berujung pada pertumpahan darah. Mandalika berjalan sedikit mendekati kedua orang tuanya, dikecupnya kening Dewi Seranting yang tak lagi mulus seperti dahulu. Ia juga memegang kaki ayahandanya sebagai tanda  betapa ia menghormati pria itu. Putri kemudian berdiri tepat di hadapan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting. Raja sudah mengira putrinya akan menyampaikan keputusannya saat itu juga. Namun dugaan mereka salah. Putri justru meminta satu permohonan kepada baginda raja.
“Ayahanda, putri memiliki satu permohonan!”
Apa itu sebutkan, Putriku!” kejar sang raja
“Ayahanda, hari yang kujanjikan untuk memberi tahu keputusanku kepada pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang akan tiba besok. Itu artinya tinggal hari ini kegundahan akan menyelimuti Tonjang Beru…
Putri kemudian terdiam. Raja masih tak mengerti atas perkataan yang barusan dilontarkan putrinya. Namun tak ingin menyela anaknya. Ia membiarkan sang putri terdiam sejenak. Raja tahu betul, ini bukan keputusan yang mudah. Memilih di antara dua pangeran menjadi suami dengan ancaman kehancuran Kerajaan Tonjang Beru jika salah satu pangeran mengalami sakit hati karena penolakan, bukanlah hal yang sepele.
Dewi Seranting kemudian memeluk putrinya, sambil terisak. Kini air mata wanita paruh baya itu sudah menganak sungai.
“Katakanlah, katakanlah putriku. Apa yang hendak kau minta dari kami?”
Putri masih terdiam, ia belum melanjutkan perkataannya. Sepertinya sangat berat. Putri seperti mendapat bisikan yang menggangu hatinya. Sempat ia berniat memilih salah satu dari kedua pangeran tersebut. Tapi ia kembali sadar, tentu pangeran yang tak dipilihnya akan murka dan benar-benar menghancurkan seluruh Negeri Tonjang Beru.
            Ia kembali pada pilihannya, bukankah ia sudah menerima wangsit dari semedinya selama tiga hari. Ia tak boleh membiarkan setan membisikkan tipu muslihatnya lagi. Maka sebelum ia berubah pikiran, segera ia utarakan permohonannya kepada baginda raja.
“Putri ingin ayahanda mengundang seluruh pangeran di negeri ini beserta seluruh rakyatnya tepat di hari ketika aku mengumumkan keputusanku. Sampaikan kepada mereka bahwa aku mengundang mereka hadir besok pagi sebelum terbit fajar di ufuk timur”
“Tapi, untuk apa anakku? Kau ingin mengundang seluruh rakyat negeri ini? Bukankah itu akan memperburuk suasana? Bagaimana jika terjadi peperangan? Maka sudah pasti seluruh rakyat akan menjadi korban!
            “Tidak Ayahanda, putri
berjanji. Peperangan dan pertumpahan darah yang ayahanda khawatirkan selama ini, tak akan terjadi!
Putri Mandalika meyakinkan ayahnya, tak akan terjadi peperangan. Apalagi pertumpahan darah. Tapi sepertinya, raja tak begitu yakin, ia tetap gusar. Tapi raja telah berjanji memenuhi permintaan putri semata wayangnya itu.
“Lalu, dimana engkau akan mengundang mereka?” tanya raja sekali lagi meyakinkan tuan putri bahwa keputusan yang diambilnya tak salah.
            “Perintahkanlah kepada mereka untuk menungguku sebelum fajar di Pantai Seger. Aku akan datang menemui mereka di sana!”
Raja lantas mengiyakan permintaan putrinya. Segera setelah ia meninggalkan ruangan. Raja langsung menemui patihnya agar mengirimkan surat undangan kepada seluruh pangeran yang pernah datang melamar putrinya.
Sebagaimana permintaan Putri Mandalika, surat itu berisi undangan untuk menghadiri acara pengumuman keputusan sang putri untuk para pangeran dengan menyertakan seluruh rakyatnya turut menghadiri acara tersebut.
Pangeran Maliawang yang menerima surat tersebut kemudian tersenyum, ia begitu yakin bahwa Putri Mandalika pasti memilih dirinya. Maka ia memerintahkan seluruh rakyatnya turut serta menghadiri undangan dari Kerajaan Tonjang Beru.
***
Benar saja. Seluruh pangeran datang bersama rakyatnya. Hingga seluruh undangan yang hadir kini sudah memenuhi dataran Pantai Seger. Jika dilihat dari atas, barisan para undangan itu menyerupai sekumpulan semut. Begitu banyak, mulai dari anak kecil hingga dewasa. Para rakyat yang hadir ingin mengetahui keputusan sang putri, pada siapakah ia akan menjatuhkan pilihannya.
Tak ingin membiarkan rakyatnya menunggu lama, maka benar sebelum subuh, sang putri sudah datang di Pantai Seger. Ia datang bersama kedua orang tuanya. Tampak Putri Mandalika berdandan amat cantik, diusung kereta dari emas. Sang putri mendekati para undangan dan turun tepat di hadapan mereka. Para undangan yang penasaran akan wajah ayu Putri Mandalika berebut berada di urutan terdepan. Namun sang putri yang membaca situasi demikian, langsung berdiri di tengah-tengah undangan, ia lalu menyapa seluruh rakyat yang hadir.
“Wahai rakyat Tonjang Beru yang aku cintai, para pengeran dari berbagai kerajaan yang aku hormati bersama rakyat yang turut serta. Kuucapkan beribu terima kasih atas kesediaan kalian menghadiri undangan yang aku kirimkan. Maka hari ini, kalianlah yang akan menjadi saksi peristiwa bersejarah ini.
Tak selang beberapa saat, suasana yang tadinya ramai berubah menjadi sepi, semua terdiam menyimak tutur kata Putri Mandalika. Selesai mengatakan hal itu, putri lalu melanjutkan langkahnya hingga terhenti tepat di atas bibir pantai. Ia terdiam lalu berdiri di atas batu membelakangi lautan.
Suara lembut sang putri seperti terkalahkan oleh ombak pantai. Untung saja para rakyat tak menambah dengan keributan mereka. Di tengah rasa penasaran dari para pangeran dan rakyatnya. Putri Mandalika pun memulai pidatonya.
“Rakyat Tonjang Beru serta para pangeran yang aku hormati. Sungguh hati ini teramat sakit, tak sanggup rasanya jika harus menyaksikan peperangan dan pertumpahan darah di negeri ini. Aku terlahir dari rahim seorang Dewi Seranting bukan untuk kalian perebutkan. Maka hari ini, aku umumkan bahwa diriku untuk kalian semua!
Para pangeran yang mendengar perkataan putri itu menjadi bingung. Mereka semakin geram ketika mengira bahwa sang putri memilih semua pangeran menjadi suaminya. Tapi belum lagi para pengeran menuai protes. Putri melanjutkan kembali perkataannya.
“Dalam semediku. Aku mendapat wangsit mengorbankan diriku menjadi nyale[3] yang dapat kalian nikmati di bulan dan tanggal keluarnya nyale dari permukaan laut! tutup Putri Mandalika
Seketika, langit yang tadinya terang penuh bintang, berubah menjadi gumpalan-gumpalan awan hitam. Kilatan-kilatan petir menyambar dari ujung barat langit hingga timur. Ombak terlihat mengamuk menyapu bibir pantai. Para undangan yang melihat perubahan alam itu berlarian mencari perlindungan. Namun, suasana itu tak bertahan lama. Berselang beberapa menit suasana kembali seperti sediakala.
Kini mereka tak sibuk lagi berlarian. Semuanya terdiam, sosok putri yang berdiri di hadapan mereka tiba-tiba menghilang. Seluruh rakyat desa dan para pengeran mencari hingga keberadaan sang putri.
“Putri... Putri Mandalika......!”
Teriakan para pangeran dan rakyat terdengar di mana-mana. Menggema di seluruh dataran Pantai Seger. Mereka mencari sang putri hingga ke dasar laut. Ke ujung barat pantai hingga timur. Tapi sungguh, sang putri tak dapat ditemukan.
Dewi Seranting yang mengetahui putri kesayangannya tak ditemukan, tak kuasa menahan jerit tangis. Ia gemetar, tak kuasa berdiri. Tubuhnya terjatuh mengarah Raja Tonjang Beru. Dalam dekapan raja, Dewi Serating terus menangis, matanya gigih melihat setiap sudut pantai. Berharap ia melihat putrinya.
“Baginda Raja, kemana anak kita, kemana ia?”
Tangis haru sang ratu semakin memilukan suasana. Rakyat yang menyaksikan kejadiaan itu tak luput dari tangis. Mereka semua berlarian menuju bibir pantai berharap menemukan sosok sang putri, atau setidaknya jasad sang putri, jika ia mati tergulung ombak.
Mereka terus memanggil nama sang putri. Tapi nihil. Putri Mandalika memang benar-benar menghilang. Mungkin telah jauh tergulung ombak.
Beberapa saat kemudian, ketika para rakyat dan pangeran sibuk mencari sang putri. Muncul hewan kecil menyerupai cacing dari dasar laut. Jumlah hewan itu tak terbilang. Sungguh banyak. Raja dan seluruh rakyat negeri kaget, darimana asal binatang ini. Tapi seketika mereka teringat pesan sang putri bahwa dirinya sudah ditakdirkan menjadi nyale yang dapat mereka nikmati.
“Mungkinkah ini titisan putriku?” seru Raja Tonjang Beru
Dengan diliputi hati yang masih hancur, raja mengambil bintang kecil itu. ia meletakkan binatang itu dalam genggamannya.
“Sungguh, ini putriku yang telah berubah menjadi nyale demi kalian!” tegas raja
Rakyat yang menyaksikan itu, ikut mengekor raja. Mereka beramai ramai menangkap binatang kecil itu sebagai bukti cinta kepada sang putri.
Para pangeran yang menyaksikan kejadian memilukan itupun menitiskan air mata. Terutama dua pangeran yang menjadi sebab kepergian Tuan Putri: Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Mereka amat menyesal.
“Cintamu terhadap negerimu amat besar tuan putri. Demi Tuhan! Maafkan kami, hadirlah kembali di sini putri, kami tak akan memperebutkanmu lagi. Bahkan kami rela tak menikah denganmu selamanya, asal kau kembali” bisik Pangeran Datu Teruna penuh sesal
Nasi telah menjadi bubur, takdir sudah terlanjur digariskan: Putri Mandalika menjadi nyale. Meski sesal dan maaf terucap beribu kali. Putri cantik jelita lagi bijaksana tak mungkin kembali. Nyale sudah menggantikan rupanya di dunia.
Semenjak kejadian itu, tak ada lagi bau peperangan tercium. Tak ada lagi persaingan yang menghancurkan kedamaian. Seluruh kerajaan tetap damai dan tenang, rakyat Tonjang Beru tetap sejahtera. Ini berlaku karena pengorbanan mulia sang putri yang lebih memilih kesenangan rakyatnya dibanding kesenangan dirinya.  
Kenangan akan Putri Mandalika, masih tetap mengkristal hingga kehidupan saat ini. Akhirnya, sebagai bukti cinta kasih kepada Putri Mandalika, rakyat di daerah Lombok menjadikan hari berubahnya Putri Mandalika menjadi nyale atau cacing laut sebagai hari Festival Bau[4] Nyale yang dirayakan setiap tanggal 20 bulan 10 penanggalan sasak, atau antara bulan Februari dan Maret tahun Masehi.
***



[1] (Lombok) Pedang Samurai
[2] (Lombok) Mantra yang digunakan untuk memikat atau menarik perhatian orang yang kita cintai
[3] (Lombok) Cacing laut
[4] (Lombok) Menangkap

0 komentar:

Posting Komentar