“Semua tas letakkan di atas
meja!”
Suara Pak Guru tiba-tiba membuat ribut seisi kelas. Tampak tegang
Pak Guru memahami
keseharian gadis bermata sipit itu. Gadis yang selalu periang dan gemar
membantu sahabatnya. Wajahnya selalu ceria meski temannya kerap mengejek. Tapi
tunggu. Agaknya gelagak gadis itu sedikit aneh. Tak sedikitpun ia membiarkan
seseorang menyentuh tas lusuhnya. Bahkan meski semua tas sekawannya telah
dieksekusi Dewan Guru. Ia tak melepas genggaman tangannya
Suara Pak Guru tiba-tiba membuat ribut seisi kelas. Tampak tegang
“Cepat!” Pak guru gigih membentak para siswa
yang masih terlihat memegangi tas mereka.
“Hari ini, Andra kehilangan uang. Jadi bapak
harus menggeledah isi tas kalian. Jangan sampai bapak temukan uang itu ada di
salah satu tas yang berjejer di atas meja ini!” Tukasnya sedikit menggeram.
Setelah semua tas
anak-anak digeladah. Pandangan Dewan Guru tertuju pada satu siswa. Dialah Rina
anak si Tukang Bakso yang selalu
nunggak membayar SPP. Kabarnya bulan ini dia kembali menunggak.
“Rin, Kenapa tidak
berikan tas itu kepada kami?” Bujuk Pak Guru dengan nada lembut.
Pak Guru memahami
keseharian gadis bermata sipit itu. Gadis yang selalu periang dan gemar
membantu sahabatnya. Wajahnya selalu ceria meski temannya kerap mengejek. Tapi
tunggu. Agaknya gelagak gadis itu sedikit aneh. Tak sedikitpun ia membiarkan
seseorang menyentuh tas lusuhnya. Bahkan meski semua tas sekawannya telah
dieksekusi Dewan Guru. Ia tak melepas genggaman tangannya
“Rin, ayolah…!
Bapak hanya ingin memeriksa tasmu Nak!”
Kali ini nada bicara Pak Ogat sedikit meninggi. Semua Dewan Guru semakin gusar.
“Jangan-jangan
anak ini?” Dewan Guru mulai berguman.
Tapi jika bukan
karena ada hal yang mencurigakan. Mengapa tak ia biarkan saja Dewan Guru
memeriksa tas miliknya. Tentu ada hal yang aneh. Ini tidak wajar. Tak biasanya
ia membangkang. Suasana kelas menjadi semakin ribut. Para siswa mulai berbisik.
Pandangan mereka kali ini hanya tertuju pada sosok gadis yang hanya diam
merunduk. Tampak tubuhnya amat gemetar.
“Sudah jelas.
Dialah pelakunya. Mungkin saja karena ia belum membayar SPP bulan ini.” Salah seorang guru mulai angkat bicara.
“Ah...! Sudahlah Rin. Kamu
jangan membuat kami penasaran!” Kali ini
Pak Ogat menarik paksa tas gadis itu.
“Tolong jangan
dibuka tas saya Pak!” Rina terbata-bata. Ucapan Gadis itu tak begitu terdengar.
Kristal bening mulai jatuh dari kelopak matanya.
“Tidak apa! Bapak hanya mau membuka tasmu. Toh
kalau bukan kamu pelakunya. Kami juga tak ‘kan menghukummu.” Tangan Rina masih
memegang ujung kemeja Pak Ogat, sesaat sebelum Pak Ogat menarik paksa tas dalam
genggamannya.
“Pak saya malu!”
Tukasnya sedikit memelas.
“Loh malu kenapa?”
Pak Ogat semakin bingung.
“Kalau begitu
biarkan bapak membuka tas ini…!” Lanjut pria setengah baya itu.
Semua siswa di kelas
XII tanpak cemas. Mereka tentu
berpikir bahwa akan ada berita heboh di sekolah mereka. Ya Rina mencuri. Ketika
tas dibuka. Sebuah benda putih menggintip dari sela-sela tas yang mulai rusak
termakan usia. Seisi tas Rina dikeluarkan. Tinggal satu benda yang belum
terbuka. Kantong plastik putih yang tak begitu istimewa.
“Apa ini?”
Sejurus kemudian
semua siswa mengerumuni Rina dan Pak Ogat. Rupanya mereka benar-benar dibuat
penasaran dengan sikap Rina yang tak membiarkan siapapun menyentuh tasnya. Tapi bukan hanya hari ini.
Hampir setiap hari gadis itu tak membiarkan teman-temannya menyentuh, terlebih
lagi membuka tas miliknnya. Dan hari ini, mereka menemukan jawabannya. Pak Ogat
menggeleng.
“Hanya ini? Kenapa
kamu malu Rin?”
“Ia Pak, saya malu kalau teman-teman tahu
sering mengambil sisa makanan di kantin buat makan siang Pak!” Pak Ogat memeluk
itu.
“Maafkan kami
sudah berprasangka buruk padamu!”
0 komentar:
Posting Komentar