Selasa, 30 Agustus 2016

Jika Ia Rina

            “Semua tas letakkan di atas meja!”
Suara Pak Guru tiba-tiba membuat ribut seisi kelas. Tampak tegang
“Cepat!” Pak guru gigih membentak para siswa yang masih terlihat memegangi tas mereka.
 “Hari ini, Andra kehilangan uang. Jadi bapak harus menggeledah isi tas kalian. Jangan sampai bapak temukan uang itu ada di salah satu tas yang berjejer di atas meja ini!” Tukasnya sedikit menggeram.
Setelah semua tas anak-anak digeladah. Pandangan Dewan Guru tertuju pada satu siswa. Dialah Rina anak si Tukang Bakso yang selalu nunggak membayar SPP. Kabarnya bulan ini dia kembali menunggak.
“Rin, Kenapa tidak berikan tas itu kepada kami?” Bujuk Pak Guru dengan nada lembut.
Pak Guru memahami keseharian gadis bermata sipit itu. Gadis yang selalu periang dan gemar membantu sahabatnya. Wajahnya selalu ceria meski temannya kerap mengejek. Tapi tunggu. Agaknya gelagak gadis itu sedikit aneh. Tak sedikitpun ia membiarkan seseorang menyentuh tas lusuhnya. Bahkan meski semua tas sekawannya telah dieksekusi Dewan Guru. Ia tak melepas genggaman tangannya
“Rin, ayolah…! Bapak hanya ingin memeriksa tasmu  Nak!” Kali ini nada bicara Pak Ogat sedikit meninggi. Semua Dewan Guru semakin gusar.
“Jangan-jangan anak ini?” Dewan Guru mulai berguman.
Tapi jika bukan karena ada hal yang mencurigakan. Mengapa tak ia biarkan saja Dewan Guru memeriksa tas miliknya. Tentu ada hal yang aneh. Ini tidak wajar. Tak biasanya ia membangkang. Suasana kelas menjadi semakin ribut. Para siswa mulai berbisik. Pandangan mereka kali ini hanya tertuju pada sosok gadis yang hanya diam merunduk. Tampak tubuhnya amat gemetar.
“Sudah jelas. Dialah pelakunya. Mungkin saja karena ia belum membayar SPP bulan ini.” Salah seorang guru mulai angkat bicara.
“Ah...!  Sudahlah  Rin.  Kamu jangan membuat kami penasaran!”  Kali ini Pak Ogat menarik paksa tas gadis itu.
“Tolong jangan dibuka tas saya Pak!” Rina terbata-bata. Ucapan Gadis itu tak begitu terdengar. Kristal bening mulai jatuh dari kelopak matanya.
“Tidak apa! Bapak hanya mau membuka tasmu. Toh kalau bukan kamu pelakunya. Kami juga tak ‘kan menghukummu.” Tangan Rina masih memegang ujung kemeja Pak Ogat, sesaat sebelum Pak Ogat menarik paksa tas dalam genggamannya.
“Pak saya malu!” Tukasnya sedikit memelas.
“Loh malu kenapa?” Pak Ogat semakin bingung.
“Kalau begitu biarkan bapak membuka tas ini…!” Lanjut pria setengah baya itu.
Semua siswa di kelas XII tanpak cemas. Mereka tentu berpikir bahwa akan ada berita heboh di sekolah mereka. Ya Rina mencuri. Ketika tas dibuka. Sebuah benda putih menggintip dari sela-sela tas yang mulai rusak termakan usia. Seisi tas Rina dikeluarkan. Tinggal satu benda yang belum terbuka. Kantong plastik putih yang tak begitu istimewa.
“Apa ini?”
Sejurus kemudian semua siswa mengerumuni Rina dan Pak Ogat. Rupanya mereka benar-benar dibuat penasaran dengan sikap Rina yang tak membiarkan siapapun menyentuh tasnya. Tapi bukan hanya hari ini. Hampir setiap hari gadis itu tak membiarkan teman-temannya menyentuh, terlebih lagi membuka tas miliknnya. Dan hari ini, mereka menemukan jawabannya. Pak Ogat menggeleng.
“Hanya ini? Kenapa kamu malu Rin?”
“Ia Pak, saya malu kalau teman-teman tahu sering mengambil sisa makanan di kantin buat makan siang Pak!” Pak Ogat memeluk itu.
“Maafkan kami sudah berprasangka buruk padamu!”

0 komentar:

Posting Komentar