Selasa, 29 September 2015

Bahagia Itu Sederhana ! Cukup Tersenyum Bersama Sahabatmu

Kebetulan pagi masih muda,
“Dingin, tunggu sebentar dulu, sadiki lagi baru mandi” ucapku sambil membenahi tumpukan buku di atas meja.
Semalam suntuk aku memang tidak berkarib bantal dan kasur, apalagi selimut. Tubuhku terpaksa berebah di kayu kotor bermanikkan debu. Bukan apa, sebenarnya aku tak terlalu gemar menggelandangkan diri. Tapi rasanya malam tadi aku benar-benar dalam kepayahan.
Meski malam sudah merangkak pagi, aku masih setia bermesra teguh dengah ASUS putih kesayangku. Seperti sudah menjadi rutinitas, tidur di larut malam dan bangun saat beduk masjid berteriak memanggil. Walhasil mata sebam bagai kantung panda. Padahal usia studiku di tanah tandus ini baru menjilat tahun ke tiga, tapi tubuh seperti sudah terkuras oleh padatnya rutinitas harian.
Dongengku berlanjut pagi ini, saat senyum cantik gadis pengangum JKT 48 itu, tiba-tiba muncul di depan pondok singgahku.


“Telat 15 menit” ketusnya singkat
Jelas raut wajahnya menunjuk pada sudut kekecewaan, sudah pasti. Aku berjanji menyusulnya di kos sebelum jam 7 pagi. Toh, nyatanya aku telat lagi, hingga kebiasaan yang sama terulang lagi. Dia yang pasti menjemputku.
Merasa membuatnya kecewa, aku bergegas. Seolah frekuensi aktivitas siap menyiapkan semakin merapat . ah jilbab tak usah terlalu rapi, kaus kaki yang berserakan segera kupungut.
“siap!, semua atribut sudah lengket pada tempatnya!”
Saatnya beraksi,
“kuliah jam berapa?” celetusku membuka percakapan
“Jam sebelas” singkat
ku kira hanya itu. tapi belum lagi aku melaju pada celotehanku, ia menyeka
“Kalau bisa kita berangkat lebih pagi, walaupun kuliahnya siang. Kita gak tahu nanti di Bank mau bagaimana kan? ”lanjutnya
Seperti biasa, wanita berdarah Jawa-Sanger itu memang selalu menunjukkan wajah tegas dan cuek. Tapi sebenarnya ia pelawak ulung yang tersesat di kota bentor ini.
Kami pernah menghatamkan waktu bersama dengan tawa gelegak yang tak pernah putus dari mulut. Seperti tak sadar dengan hadis rasul
Saatnya berangkat, kami berjalan menyusur lorong asrama yang sudah usang. Disini banyak kisah yang sudah terukir. Ada kisah tentang mereka yang kuliah karena terpaksa dan akhirnya lulus pun memaksakan diri. Ada kisah tentang mereka yang sungguh-sungguh, tapi sayang alam selalu menguji, kekurangan biaya kuliah lah, hingga harus menghutang kemana-mana. Dan, malangnya, semua kisah itu pernah menjadi lembar-lembar coretan di catatan episode kehidupanku.
Belum lagi, hendak naik bentor. Aku kembali tersentak
“Gelon ka wirda dapa tinggal” celetusku
Aku berlri membalikkan badan, meninggalkannya seorang diri di gerbang sempit tak beratap. Kelakuanku.
Aku seperti merasa ada hawa panas menusuk rongga dada, udara seperti enggan bertamu di hidungku. Berkali kali aku tarik nafas, sedikit. Pelan-pelan, akhirnya ia takluk juga terhadapku. Ini efek karena tak biasa berlari.
Saat kembali menemuinya, ia masih setia menanti. Hingga abang bentor, menyilahkan kami untuk duduk manis di kursi empuk berbahan busa itu. keramahan si abang tersirat dibenaknya. Jika aku bisa membaca pikirannya mungkin ia tengah berucap “duduk manislah kau, nikmati sejuknya udara. Biarlah aku yang menjadi pengemudimu”.
Benda bernama bentor ini tak terlalu luas, aku bahkan duduk bersanding gadis pengagum JKT48 dengan gelon kosong yang duduk manis di depan kaki kami. Sungguh sempit, jika bersanding dengan banyaknya alat perang yang kami bawa. Bukan sembarang alat perang, ini adalah alat kami berperang melawan kebodohan, apalagi kalau bukan kumpulan buku, pulpen, penggaris, laptop dan berjilid-jilid makalah.
Belum cukup di situ. Ketika berada di ruangan berasma Bank itu, kami harus rela duduk cantik bersama para pengantri lain yang sudah lebih dulu bertamu dibanding kami. Jadilah, saling pandang, tengok kiri kanan, ambil tisu dan aktivitas lain yang tidak terlalu penting. Inginnya sih sekadar membuang penat karena lama menanti nama tersebut. Eh bukan nama, maksudnya nomer antrian.
Setengah jam berlalu, belum pula teller beramah mempersilahkan kami menuju kursi hitam di hadapannya, ia malah sibuk memanggil kawan lainnya yang juga berseragam sama dengannya. Ingin marah, ah tapi aku tersadar, apa eksistensi sabar tidak pernah diajarkan, hingga menunggu waktu berganti begitu berat! Padahal penantian di padang mahsar kelak akan jauh lebih lama dan panjang di banding sekarang.
Udara di tempat ini begitu melalaikan, ia sejuk dan tak berbau, bahkan harum. Sedikit aku memandang ke arah gadis pengagum JKT48 itu, ia masih tetap sama sepertiku, memandang ke arah teller berharap segera disebut nomer urut kami.
“So setengah sembilan!”
Tiba-tiba ia berucap, seperti mengingatkanku pada waktu. Ini siyarat bahwa sudah 4o menit kami duduk di kursi yang sama.
Aku merogoh saku mencoba menemukan benda kecil yang menjadi bank segala informasi, entah kuliah ataupun rapat. Tapi tunggu, dimana benda itu?
Pikiranku mulai kacau
“ala uti, ana pe hp dapa tinggal di bentor”
        Beberapa saat, otakku berpaling fokus, aku sudah tidak lagi berpikir tentang rekening baru yang akan kami buka untuk usaha ini. tak memikirkan lagi, jika pulang ke kampus mau naik apa. Bahkan kuliah jam 9 seperti tak terpikir.
Saat itu, aku berdoa semoga allah masih berkenan mempertemukan aku dengan bank informasiku. Ini bukan soal materi, ini soal cinta. Aku sudah mencintainya sejak setahun belakang ini, kami berkawan dan berkarib bagai amplop dan perangko, tapi kini ia meninggalkanku.
“Insya Allah masih rezeki!” ucapku mencoba menenangkan hati
Dan, gadis pengangum JKT 48 itu melanyangkan senyum padaku, seperti sebuah isyarat bahwa anggapanku pasti benar.
Kami berajalan pulang, menelusuri trotoar yang kian memelah dan usang sebab terlalu sering berkarib mentari dan kotorang sepatu dari para pelintas jalan yang menggunakan jasanya.
“Aisyah, mau langsung ke kampus?”

#Terimakasih untuk hari ini kawan, semoga senantiasa bersama.
#Catatan Putri Sulung


0 komentar:

Posting Komentar