Kamis, 18 Desember 2014

Terima Kasih Untuk Cintamu, Ibu


Assalamu’alaikum Ibu!
Kujumpai jua dirimu, meski hanya lewat secarik kertas buram ini. Selalu ada yang ingin tersampaikan dari lisan putrimu. Tapi, mengetahui teramat jauh kau dari pandangku semua itu urung, terbias bersama jarak yang terlanjur memisahkan ragamu dan diriku.
Ibu, teramat rindu hati ini berjumpa dengan wajah cerahmu yang tak pernah melayu, meski panas kian ganas menerpa, aku rindu saat jemari kasarmu mengisi ruang kosong di sela-sela jemari ini.
Duhai ibu, kusadari tugasmu teramat berat. Bukanlah hal yang mudah untuk mendidik aku dan keenam adikku. kelembutan yang selalu mengalir dari tutur katamu ketika mengajari kami cara menyebut namamu untuk pertama kalinya. Sehingga kini ku sadari, mengapa Allah meletakan Surga dibawah telapak kakimu, menyebut namamu tiga kali dalam Hadis kekasih-Nya, Muhammad SAW.
Sungguh perih tatkala menyaksikan wanita yang telah menghadirkanku untuk bermetamorfosa didunia ini, kini kau tak hanya sekedar mendidikku dan adik-adik. Namun, sekali lagi aku menolak. Aku menolak melihat peran hidupmu yang kini mengganda, ketika tulang rusuk harus berganti peran menjadi tulang punggung. Tapi kusadar, itulah bukti baktimu jua pada imammu yang tak lain adalah ayahku. Kau rela bekerja meski disaat adik bungsuku telah siap kau lahirkan kedunia. Ya, ayah memang tak mampu bekerja seorang diri, sakit yang menderita tulangnya, menjadi alasan dari kesemuanya.
Hehh, desah nafasku semakin melambat, berat. Aku tak menyangka begitu mulia peranmu Ibu, andai detik ini aku dapat berjumpa denganmu, tentu tangan kurusku tak kan berhenti menyeka gerimis dari kedua mata air wajahku.
Tak ada tempat termulia yang sanggup menempatkan kemuliaan baktimu sebagai ibu, kecuali jannah-Nya yang tengah menantimu. Betapa ingatan ini melayang pada kilasan waktu beberapa tahun silam. Dimana jemarimu dan jemariku saling melengkapi dalam dekapan jiwamu, tak kau biarkan walau secuil kerikil tajam dan lumpur hitam mendekati kaki kecilku.  bahkan ketika aku terjatuh, seketika naluri keibuanmu bekerja. Dengan lembut kau belai rambut tipisku, kau selalu yakinkan aku bahwa perjalanan menemukan jati diri bukanlah perkara mudah, MENGELUH sama halnya dengan menyerah! Itulah mantra ajaibmu yang tak pernah lekang dari ingatanku.
Ketika kertas buram ini menjumpaimu. Ku mohon, jangan biarkan kristal bening itu berguguran dari kelopak matamu. Karena tangan kurus ini tak mampu menjangkau wajah teduhmu, tak mampu untuk menghapusnya.
Satu yang selalu ku pinta pada Tuhanku, entahlah mungkin Ia bosan medengar ocehan do’aku disetiap perjumpaan malamku dengan-Nya. Namamu, selalu menjadi favoritku. Tidakkah kau ingin mengetahui apa yang kupinta padaNya? Aku pinta suatu ketika, tatkala aku menjadi sepertimu, aku ingin setegar dirimu, sekuat dan sesabar hatimu.
Duhai pahlawan sejatiku, kata cinta saja mungkin tak cukup untuk melukiskan betapa putri sulungmu ini begitu mengidolakanmu. Ingatkah ibu dengan mantra ajaib yang selalu mampir di telingaku setiap malam-malam kita dahulu?  ”Allah kasihilah kedua orang tuaku sebagaimana ia mengasihiku semenjak kecil”. Kau tahu ibu? Mantra itulah pengantar tidurku.
            Terimakasih ibu telah berjuang untuk menghadirkan aku kedunia ini, meski kadang hadirku menjadi bebanmu, tak pernah guratan keluh kesah itu kau tampakkan padaku. Itulah yang menjadikan putrimu ini semakin mengidolakanmu. Ibu aku mencintaimu
Dari putri sulungmu,
Fatima Az Zahra
Gorontalo, 22 November 2014