Assalamu’alaikum
Ibu!
Kujumpai
jua dirimu, meski hanya lewat secarik kertas buram ini. Selalu ada yang ingin
tersampaikan dari lisan putrimu. Tapi, mengetahui teramat jauh kau dari
pandangku semua itu urung, terbias bersama jarak yang terlanjur memisahkan
ragamu dan diriku.
Ibu,
teramat rindu hati ini berjumpa dengan wajah cerahmu yang tak pernah melayu,
meski panas kian ganas menerpa, aku rindu saat jemari kasarmu mengisi ruang
kosong di sela-sela jemari ini.
Duhai
ibu, kusadari tugasmu teramat berat. Bukanlah hal yang mudah untuk mendidik aku
dan keenam adikku. kelembutan yang selalu mengalir dari tutur katamu ketika
mengajari kami cara menyebut namamu untuk pertama kalinya. Sehingga kini ku
sadari, mengapa Allah meletakan Surga dibawah telapak kakimu, menyebut namamu
tiga kali dalam Hadis kekasih-Nya, Muhammad SAW.
Sungguh
perih tatkala menyaksikan wanita yang telah menghadirkanku untuk bermetamorfosa
didunia ini, kini kau tak hanya sekedar mendidikku dan adik-adik. Namun, sekali
lagi aku menolak. Aku menolak melihat peran hidupmu yang kini mengganda, ketika
tulang rusuk harus berganti peran menjadi tulang punggung. Tapi kusadar, itulah
bukti baktimu jua pada imammu yang tak lain adalah ayahku. Kau rela bekerja
meski disaat adik bungsuku telah siap kau lahirkan kedunia. Ya, ayah memang tak
mampu bekerja seorang diri, sakit yang menderita tulangnya, menjadi alasan dari
kesemuanya.
Hehh,
desah nafasku semakin melambat, berat. Aku tak menyangka begitu mulia peranmu Ibu,
andai detik ini aku dapat berjumpa denganmu, tentu tangan kurusku tak kan
berhenti menyeka gerimis dari kedua mata air wajahku.
Tak ada
tempat termulia yang sanggup menempatkan kemuliaan baktimu sebagai ibu, kecuali
jannah-Nya yang tengah menantimu. Betapa ingatan ini melayang pada kilasan
waktu beberapa tahun silam. Dimana jemarimu dan jemariku saling melengkapi
dalam dekapan jiwamu, tak kau biarkan walau secuil kerikil tajam dan lumpur
hitam mendekati kaki kecilku. bahkan
ketika aku terjatuh, seketika naluri keibuanmu bekerja. Dengan lembut kau belai
rambut tipisku, kau selalu yakinkan aku bahwa perjalanan menemukan jati diri
bukanlah perkara mudah, MENGELUH sama halnya dengan menyerah! Itulah mantra
ajaibmu yang tak pernah lekang dari ingatanku.
Ketika
kertas buram ini menjumpaimu. Ku mohon, jangan biarkan kristal bening itu
berguguran dari kelopak matamu. Karena tangan kurus ini tak mampu menjangkau
wajah teduhmu, tak mampu untuk menghapusnya.
Satu
yang selalu ku pinta pada Tuhanku, entahlah mungkin Ia bosan medengar ocehan
do’aku disetiap perjumpaan malamku dengan-Nya. Namamu, selalu menjadi
favoritku. Tidakkah kau ingin mengetahui apa yang kupinta padaNya? Aku pinta
suatu ketika, tatkala aku menjadi sepertimu, aku ingin setegar dirimu, sekuat
dan sesabar hatimu.
Duhai
pahlawan sejatiku, kata cinta saja mungkin tak cukup untuk melukiskan betapa
putri sulungmu ini begitu mengidolakanmu. Ingatkah ibu dengan mantra ajaib yang
selalu mampir di telingaku setiap malam-malam kita dahulu? ”Allah kasihilah kedua orang tuaku sebagaimana
ia mengasihiku semenjak kecil”. Kau tahu ibu? Mantra itulah pengantar tidurku.
Terimakasih ibu telah berjuang untuk menghadirkan aku
kedunia ini, meski kadang hadirku menjadi bebanmu, tak pernah guratan keluh kesah
itu kau tampakkan padaku. Itulah yang menjadikan putrimu ini semakin
mengidolakanmu. Ibu aku mencintaimu
Dari putri sulungmu,
Fatima
Az Zahra
Gorontalo,
22 November 2014
