Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 April 2017

Pergilah Derita

   Tidak ada komentar     
categories: 
Heitt, Cepatlah
Teriak Asiah sambil melayangkan lecutan cambuk, nafasanya kembali tersengal-sengal, sesekali wanita itu berhenti sambil beracak pinggang meluruskan otot-otot punggungnya yang sedikit kaku. Diliriknya mentari yang mulai condong ke arah barat. Hari sebentar lagi akan menemui gelap.
Heeeh. desah Asiah kembali sambil merapikan posisi berdirinya. Meski telah kehabisan separuh tenaga, ia harus merampungkan pekerjaannya. Esok sawah harus segera ditanamani.
 Pulang mari Siah, istirahat! so sore ini” oma Pu’mengingatkan wanita itu.
Sesekali wanita renta itu melepar senyum pada Asiah. Rambutnya memang tak lagi hitam. Tapi masalah tenaga, jangan kau tanya. Setiap sore ia telah terbiasa meminggul seikat kayu di punggungnya. Oma Pu’ hanya memiliki seorang anak perempuan, itupun kini tak lagi serumah dengannya. Lelaki yang meminang putrinya telah memboyong gadis itu ke tanah rantauan di ujung Utara Sulawesi.
Sapaan Oma Pu’ ia balas sekadarnya. Senyum mengisyaratkan bahwa perempuan renta itu bisa pulang lebih dahulu. Tak dapat dipungkiri, Asiah sebenarnya ingin sekali segera meninggalkan pekerjaannya, melemaskan kembali otot-otot tubuh yang sedari tadi diajaknya berpacu membajak sawah. Setidaknya takdir masih sedikit memihak Asiah dibanding Oma Pu’.
Dirinya tak seorang diri mencari nafkah. Suami masih ada untukknya, tapi sayang. Suaminya tak mampu melakukan pekerjaan membajak sawah. Dua tahun lalu, sebuah angkot tak sengaja menabrak sepeda Wadihulana, hingga membuat lelaki bertubuh kurus itu terjerembab ke dalam sungai. Peristiwa itu sudah berlalu, tapi tidak dengan luka di kaki lelaki itu. Kejadian itu membuat Wadihulana harus rela berjalan dibantu tongkat kayu buatannya.
Asiah bukan wanita sembarangan. Ia lahir bermarga Monoarfa, sebuah marga yang menandakanmu bergaris keturunan bangsawan di Gorontalo. Satu windu yang lalu Wadihulana meminangnya. Atas nama cinta, mereka mengingat janji sehidup semati. Demi terbina dongeng bahagia yang mereka rancang, Asiah rela meninggalkan hidup mewah di tengah keluarganya. Bukan mudah mereka mengikat janji. Wadihulana bukan lelaki yang menjemputnya dengan kendaraan mewah, hanya sebuah wisma kumuh peninggalan sang ayah di pinggiran desa Kabila yang ia punyai. Pernikahan sempat tak direstui karena uang mahar yang diminta keluarga Asiah terlampau jauh dari kesanggupan Wadihulana. Selain itu, ayah Asiah tak benar-benar merestui pernikahan mereka.
Asiah juga tak pernah memusingkan masalah ini dan itu. Ia sekokoh baja menjalani getir kehidupan yang ia rasa bersama suaminya. Bahkan kini, ketika akhirnya ia tak miliki rupiah untuk mengantarkan putri bungsunya berobat di Puskesmas, ia tetap tabah. Tapi, rengekan putrinya yang kian menusuk hati membuat wanita itu kian risau. Dua hari lalu, sebelum suami meninggalkannya. Sebuah pesan dititip untuknya bahwa ia belum bisa meninggalkan uang untuk keluarganya, karena upah dari pande besi belum ia terima.
Asiah hanya bisa terdiam bagai batu ketika mendengar ucapan suaminya. Bayangan pertamanya tak lain adalah pada nasib si bungsu. Bagaimana cara agar putrinya sembuh tanpa harus menguras “Rupiah”?
Telah sering hatinya ingin memberontak pada lelakinya. Tapi, demi Tuhan! Asiah selalu tak kuasa menahan selaput bening yang menganak sungai dari matanya. Ini bukan karena apa, ketika ia menemani sang suami memandai besi seharian, kadang mereka harus pulang gigit jari, sebab pandai besi yang mereka kerjakan tak membuahkan hasil yang setimpal. Jika kebetulan pelanggan memberikan upah, mungkin hanya cukup untuk makan sehari saja, kemudian esok harinya ia dan suami akan memutar otak bagaimana caranya agar perut bisa terisi.
Tak jarang ia harus pandai menenangkan buah hatinya ketika merengek, karena sedari pagi hanya meminum air dan memakan udara. Sulung kadang lebih paham kondisi keluarganya yang hampir sering berpuasa. Bahkan ketika pulang sekolah, ia acap kali memungut rongsokan untuk sekadar ditukar dengan nasi kuning dan segelas Akua.
Kehidupan rumah tangga yang dijalani Asiah bersama Wadihulawa memang tak seindah seperti rencana dahulu, ketika mereka mengikat janji cinta suci di hadapan penghulu. Wadihulawa yang memang berlatar belakang lelaki sederhana tak mampu memenuhi segala yang diinginkan Asiah, termasuk memberikan penghidupan yang layak. Bahkan rumah mereka lebih layak disebut gubuk ketimbang sebuah tempat istirahat.
Kini matahari tak lagi nampak di langitannya. Jejak-jejak senja mulai sedikit demi sedikit berlalu. Asiah masih saja asyik membenahi bekal-bekal yang dibawanya di kebun. Ketika hendak melangkahkan kaki meninggalkan petakan sawah, dilihatnya anak sulungnya sedikit berlari di atas pematang sawah. Sayup-sayup terdengar ia tengah memanggil-manggil nama ibunya.
Napas si sulung masih naik seperti bola pimbong yang lempar lalu jatuh lagi ke bawah. Gadis kecil itu terbata-bata mengucap kata. Ada hal penting yang harus segera didengar ibunya.
Mama…. suara itu terdengar dari bibir mungil si sulung.
Melihat sang anak yang mulai kelelahan, Asiah mencoba bertanya
Kenapa Nak, Mama so mau pulang ini. Ujar Asiah
Mama.... ade so tambah parah, depe mata ta balek-balek” ujar gadis kecil bermata bulat itu.
Deegg...
Jantung Asiah seperti memompa lebih kencang aliran darahnya. Napasnya seperti terdiam di kerongkongan. Seketika itu tubuhnya bergetar. Kakinya seperti tertancap jauh dalam pusaran bumi. Tanpa pikir panjang, ia mempercepat langkahnya.
Di jalan, bibir Asiah basah dengan zikir dan doa mengharap kesembuhan putrinya. Kerisauannya bertambah, sebab tak ditemani suami tercintanya ketika pelik semakin menerjang. Sehari yang lalu, berbekal ijazah sekolah menengah pertama, Wadihulawa memberanikan diri mengadu nasib di kota Manado.
Asiah sudah mencoba untuk mencegahnya. Tapi, Suaminya berdalih ingin memberikan penghidupan yang layak untuk keluarga. Ah itu bukan satu-satunya alasan. Mungkinkah Wadihulawa sudah tak sanggup lagi mendengar cemoohan dari orang tua Asiah yang memang tak menyukainya sejak dulu?
“Apa yang bisa dilakukan dengan tongkat di kakimu, Kak?” tanya Asiah saat Wadihulana meminta izin padanya
“Tenanglah Asiah. Kakak hanya membantu Roni menjalankan usaha meubel dan itu bisa dikerjakan sambil duduk” pungkas lelaki itu.
Brukkk...
Sepatu boat yang setia menemaninya membajak sawah, kini dilemparnya begitu ia tiba di rumah. Pandangannya kosong menerawang lorong sempit di hadapannya. Memasuki ruang rumah yang tak begitu besar, ia mulai memangil-manggil nama anaknya. Langkah wanita itu terhenti ketika menyaksikan keadaan putri bungsunya. Wajah gadis itu pucat pasi. Nampak bibirnya pecah-pecah karena jarang diakrabi air. Di ruang tempat putrinya terbaring itu tak ada selimut tebal apalagi penghangat ruangan. Hanya ada sebuah ranjang lusuh tanpa kasur. Di samping ranjang ada meja kayu dengan sebuah ketel dan gelas di atasnya. Beberapa gantungan baju di sudut ruangan dan sebuah jendela kayu yang mendencit nyaring ketika di buka.
Asiah mengangkat tubuh putrinya yang kian melemas. Ia mengecup kening si bungsu. Tanda kasih sayang seorang ibu untuk anakknya. Setidaknya apa yang ia lakukan bisa menenangkan hati putrinya. Sungguh, tak sampai hati ia melihat kondisi buah hatinya yang semakin melemas. Persetan dengan rupiah, ia harus segera membawa si bungsu ke Puskesmas.
“Bagaimana pak?” Tanya Asiah penuh selidik, matanya tajam menghadap sang dokter, ia ingin segera mengetahui keadaan putrinya.
Anak ibu terkena step akibat kondisi tubuh yang terlalu panas, baiknya dikompres dengan air dingin. Ibu juga bisa membalurnya dengan parutan bawang merah di tubuhnya.” Ucap sang dokter, membuat hati Asiah sedikit lega.
Sedikit sunggingan senyum bermuara di bibir wanita itu. Dengan sisa kekuatannya, ia menggendong si bungsu kembali menuju gubuk sederhana mereka.
Ketika semburat mentari mulai redup. Asiah kembali teringat akan lembaran episode kehidupannya. Ingin rasanya ia berteriak sekuat tenaga. Mengapa hidupnya begitu menderita. Tak cukup rasanya Tuhan mengujinya dengan pernikahan tanpa restu orang tua. Sekarang ditambah lagi dengan kondisi kehidupan keluarganya yang sangat jauh dari kata cukup. hati Asiah kian hari kian tercabik-cabik. Bahkan sekeping demi sekeping umpatan sang ayah selalu melayang di telinganya. Namun, tak sekali wajah kecut itu ia tampakkan di depan sang ayah. Bahkan baktinya pada orang tuanya tercurahkan tiada tara.
Seminggu yang lalu, Asiah kembali menjalankan rutinitas sehariannya, membersihkan rumah orang tuanya, meski ketika ia sampai di rumah kedua orang tuanya, bukan jawaban salam yang diterimanya melainkan lemparan cibiran yang kian menyayat hati dari sang ayah, tapi tak sedikitpun hati Asiah menafikkannya. Ia tetap setia melayani hidup sang ibu yang kini hanya bisa menikmati sisa hidupnya di ranjang. Setiap pagi dan sore Asiah harus menyiapkan air hangat untuk memandikan sang bunda, menggantikannya pakaian kemudian menyuapinya. Ia tak pernah memperdulikan cibiran ayahnya. Semua ia lakukan karena baktinya pada orang tua. Suatu ketika sang ayah dengan beracak pinggang menemui Asiah di rumahnya. Dengan sombong ia meminta Asiah untuk meningalkan kehidupan susahnya bersama Wadihulawa.
“Siah, kinapa tidak pisah saja dengan Wadi, tidak bosankah kamu hidup menderita? Belum lagi lelaki itu jarang memberimu. Begini sudah, jika anak tak menurui perkataan orang tua.” gerutu sang ayah
“Siah sudah mengibar layar bersama Kak Wadi Papa, pantang bagi Siah untuk mengulur kembali, apalagi kembali ke daratan” pungkasnya
Asiah tak habis pikir, mengapa ayah begitu membenci menantu yang bahkan sudah 8 tahun bersama dengan anaknya. Belakangan Asiah mengetahui bahwa alasan ayahnya sangat membenci keluarga Wadihulawa karena perkara masa lalu. Kedua ayah mereka pernah bersitegang lantaran memperebutkan seorang gadis, ya gadis yang akhirnya kini menjadi ibu dari Asiah. Tapi ayah Asiah tetap menganggap keluarga Wadihulana selamanya adalah rival baginya.
Ahhh.....
Asiah menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, diusirnya seluruh bayangan-bayangan tentang ayah dan ibunya yang tak menyukai rumah tangganya. Ia bertekad apapun yang terjadi ia tak akan pernah meninggalkan Wadihulawa, sebab mereka sudah terlanjur mengikat cinta dalam tali suci pernikahan. ia tak mungkin melepas ikatan itu hanya karena terpaan badai yang tak sebanding dengan besarnya pegorbanan mereka.
            Mentari sudah terbenam di langit Kabila, Sebentar lagi langit serambi madinah akan kembali menemui gelap. Nyanyian katak mulai bersahutan menyambut datangnya hari yang menghitam. Dipandangnya perut langit yang mulai membuncit karena mendung, sebentar lagi bulir-bulir hujan akan memanah wajah bumi. Bumi Kabila telah basah.

Minggu, 28 Agustus 2016

Bidadari Pun Cemburu Padaku

   1 komentar     
categories: 

Lelaki Soleh adalah dambaan wanita salihah.  Sandaran bagi jiwa sepi yang merindukkan kasih sayang di saat kasih sayang telah kehilangan arti. Jari-jari yang menggenapi sela-sela kosong di antara jemari.  Pundak kokoh yang menahan sandaran kepala disaat kepala tak sanggup berdiri sendiri. Kaulah Lelaki Soleh. Tapi apa jadinya jika Tuhan berkata, Lelaki Soleh itu bukan untuk dirimu?


***




 “Maafkan kami bu, kecelakaan itu memang telah menjadi penyebabnya. Ia mengalami benturan keras di bagian kepala” lirih sang dokter.
Dokter itu mengatakan hal yang salah! Itu tak mungkin! Duniaku masih ada kan? Aku tak mungkin kehilangan mataku?
Berkali-kali kucoba meraba, berusaha menemukan satu titik cahaya. Tapi nihil, aku tetap menjumpai gelap di setiap sudut yang coba kulihat.
Dokter memvonisku buta, walaupun vonisku bukanlah buta permanen, namun berita itu sanggup memukul jiwaku, dada ini semakin terasa sesak. Nafas kian lamban bagai mengendap di kerongkongan.
Hari-hari kujalani tanpa semangat. Hidup menjadi tak berwarna lagi. Aku  mengurung diri di kamar. Lebih banyak diam, tak ada interaksi dengan sahabatku ditambahlah lagi aku optimis mendapat donor kornea dalam setahun ini, hingga kuputuskan untuk cuti kuliah. Alih-alih menenangkan diri, padahal sebenarnya aku tak ingin sahabatku mengetahui jika aku saat ini tak bisa lagi menikmati indahnya bunga desember yang bermekaran di taman kampus, tak bisa lagi duduk berkumpul memandangi danau limboto dara puncak banteng Otanaha, dan semua yang aku lakukan sebelumnya tak bisa aku lakukan saat ini. Sungguh aku membencinya.
***

Ibu kan tahu Ima buta! Siapa yang mau melamar gadis buta sepertiku, Ibu? Dia pasti lelaki yang tak waras!” bentakku pada wanita yang kupanggil ibu
“Nak, dengarkan ibu dulu! “ timpalnya
“Tidak, ibu yang harus memahami Ima, apa kurang cukup penderitaan Ima dengan kebutaan ini? Apakah ibu ingin putri semata wayangmu ini menjadi berita utama di cannel mertuaku nanti? “desakku sambal terus menyeka bulir bening yang kini sudah menganak sungai.
“Ibu benar-benar tega! “lirihku dalam hati
 “Nak, ibu bukan ingin menambah deritamu, justru Ibu sangat menyayangimu Nak!” Ibu hanya ingin melihatmu bahagia bersanding dengan lelaki yang akan menggantikan posisi ibu sebelum Tuhan memanggilku! “lanjutnya
“Ibu, tolong jangan paksa Ima dengan kata itu lagi. Selalu kata ajaib itu kau jadikan mantra peluluh hatiku.
Saat itu, aku hanya terdiam. Haruskan diriku memilih ego atau kebahagiaan wanita ini?  
“Lantas, apakah Ima harus menerima lelaki itu?”
Kerongkonganku semakin mongering. Kata-kata itu terlontar begitu saja.
Ibu akan sangat bahagia, Nak. Jika kau berkenan menerimanya. Ibu yakin ia adalah lelaki baik. Ia adalah Ali yang dikirimkan Tuhan sebagai jawaban do’amu anakku, dan kini Ali itu sedang meminta hatimu menerima hadirnya. “lanjutnya
Duhai ibu, mengapa pilihan ini kau beri padaku di saat aku tak siap menyambut kedatanganya, mana mungkin Fatimah akan menyambut Ali dengan mata tertutup? Bagaimana Fatimah bisa tahu jika Ali mengenggam tangannya dengan senyum atau dengan linangan air mata?
“Ibu yakin. Kau akan bersanding dengannya dalam ikatan Mistaqon ghalizan!”
Entahlah, aku pasrah. Siapa dia, mungkin ia adalah Ali dalam istikharahku. Aku berusaha untuk tak ambil pusing dengan ini.
***
Malam ini, suasana rumahku terasa berbeda, ada keramaian yang tak biasanya kudengar. Dari sekian banyak suara kebahagiaan, suara ibulah yang paling jelas terdengar. Mungkinkah ia bahagia menyambut kedatangan lelaki yang akan merubah statusku. Aku tak berani memunculkan wajahku. Percakapan mereka hanya kunikmati dari balik gorden kamarku. Aku mencoba meraba suara lelaki yang katanya hendak melamarku. Susah memang mengetahui siapa yang berbicara tanpa mengetahui wajahnya. Sempat aku berpikir bahwa lelaki itu adalah salah satu ikhwah di kampus, tapi nihil ternyata namanya tak kukenali. Sejauh yang kuketahui ia bernama Ali.
Sekali lagi, aku mencoba mengingat-ingat suara itu. Suaranya begitu adem di hati. Inikah yang dirasakan Fatimah Azzahra saat mengetahui Ali Bin Abi Thalib memintanya untuk menjadi bidadarinya pada Baginda Rasulullah? Mengapa tiba-tiba aku seperti terpaut dengan suara itu. Ia begitu akrab di telingaku. Aku yakin pernah bertemu pemilik suara ini. Tapi entah dimana?
***
 “Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah Azzahra Binti Muhammad dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan hafalan surah Al-Mulk dibayar tunai”
kata-kata itu mengguncang hatiku, nurani bagai melayang di angkasa menembus tujuh pelata langit. Aku ingin mengabarkan pada ribuan abdi-Nya bahwa detik ini aku amat bahagia. Duhai para bidadari yang jelita  kuharap kau tahu aku disini tersenyum dengan ridhoNya. Petala langit bergetar dan mendo’akan kami. Mungkinkah kau cemburu?
Entah mengapa aku masih ingin mendengar suara itu. Suara yang ternyata dimiliki olehnya. Ya, dialah pacar halalku. Muhammad Ali Abdillah. Nama itu baru kutahu saat ayah memanggilnya sebelum akad itu berlangsung. Tepat saat tangan ayahku menggenggam erat tanganya dengan mantap dan penuh aliran do’a.
Akad telah terjadi. Kini aku menjadi makmum yang siap untuk taat padanya, tapi satu hal yang aku tak ketahui. Apalagi jika bukan wajahnya. Meski ia selalu berkata kau pasti sembuh, Dek. Tapi hati serasa penuh dosa, mengingat ia yang senantiasa harus selalu menuntunku setiap saat, mencarikan baju untuk berganti, menyiapkan air untuk mandi dan mengantarkan aku untuk rutin cek mata ke dokter. Aku jadi semakin merasa bersalah. Tapi, dialah Ali-ku, pelengkap bahagia yang Tuhan siapkan dibalik musibah yang menimpaku enam bulan lalu.
Aku tak ingin mengingatnya. Membayangkannya membuatku teringat wajah itu. Dialah dunia kelamku juga dunia pahitku. Luka ini tak akan ada jika ia tak bersikeras mengejarku. Sungguh aku membencinya!
“Dek… kenapa melamun? “tegur Mas Ali, kok mukanya jadi kucel gitu sih, kan gak cantik lagi ! lanjutnya
“Enggak kenapa-napa, Mas !” ketusku singkat
“Dek, apa sebenci itu kamu sama dia?”
“Hah, enggak Mas, maksud adik…”
Aku jadi kikuk menjawab pertanyaan Mas Ali, ingin aku katakan tak membencinya, tapi semua ini karenanya. Aku kehilangan duniaku, kehilangan keindahan dunia. Tapi, jika bukan karenanya, apakah aku akan bertemu dengan Mas Ali?
“Kenapa Mas tanya itu terus, Mas kenal sama orang yang ngejar aku dulu sampai ketabrak?”Lanjutku sambal sedikit mengejeknya
“Dia enggak berniat begitu, Dek!”jawabnya singkat
“Kok Mas bisa yakin gitu, emang sih enggak boleh suuzhon. Tapi Mas, dia itu preman yang sering malakin orang-orang dan nyuri barang di pasar. Mungkin aja dulu dia mau nyopet Adik.
“Enggak kok, Mas yakin dia orang baik, mungkin ada niat lain yang kamu gak tahu Dek,”jawab Mas Ali
Ya mungkin. Tapi kalau dingat-ingat Mas. Dek sedih banget. Sebenarnya, Dek ingin ngelupain kejadian itu Mas, tapi tetap enggak bisa.
“Sesakit itukah yang kamu rasakan Dek? Maafkan Mas ya!”
“Kok Mas minta maaf, gak ada yang salah, aku sayang sama Mas Lillah, Mas jugakan?
“Iya Dek, Insya Allah karena Allah. Mas menyayangimu lahir batin.
Jawaban itu membuat hatiku berbunga-bunga.
Tiba-tiba mas Ali memegang tanganku, kurasakan tubuhnya begitu gemetar, aku sedikit bingung dengannya.
“Dek, sebenarnya malam ini ada kado spesial yang ingin Mas berikan untukmu sebagai kado pernikahan kita!”
Aduh semakin terbang melayang tinggi diriku, sungguh Tuhan menganugerahkan aku Imam soleh nan romatis seperti dirinya adalah kado yang terindah. Sungguh, aku tak butuh kado apapun darimu Mas, cukuplah dirimu dan imanmu yang menjadi pelipur laraku.  
“Besok kita ke rumah sakit ya?”
“Mau ngapain Mas? Katanya dikasi kado, kok ke rumah sakit?”
“Iya, kadonya ada di rumah sakit, Dek!” jawab lelaki itu singkat
Aku bingung mengapa ia memberiku kado dan harus memberikannya di rumah sakit. Semalaman aku berpikir, dan pagi ini terjawablah sudah, lelaki itu, imamku telah memberikan kado terinda kedua, ia mengembalikan keindahan duniaku. Tuhan mengirimnya untuk diriku. Ya sungguh untuk diriku. Tuhan kembalikan duniaku melalui kehadiran dirinya.
Pasca operasi nanti, ibu Fatima membutuhkan waktu setidaknya seminggu untuk istirahat total dirumah sakit, dan kami akan membuka perban matanya di hari minggu depan. Insya Allah malam ini akan langsung kami eksekusi!” ucap sang dokter dengan penuh keyakinan dan semangat.
“Alhamdulillah!”.
Aku tak peduli dimana diriku berada, sontak aku langsung sujud syukur di hadapan dokter dan suamiku. Beribu syukur aku panjatkan kepad Tuhan yang tak henti-hentinya memberiku jutaan nikmat.
***

Seminggu sudah operasiku selesai, berdebar-debar dadaku ketika menanti lapis demi lapis proses pembukaan kain perban di mataku, namun ada hal yang aneh saat proses pembukaan kain perbanku. Suara mas Ali sama sekali tak terdengar, hanya suara keluargaku dan ayah-ibu yang sudah tak sabar menyaksikan anak semata wayangnya dapat melihat dunia lagi.
“Bu, Mas Ali dimana?” Tanyaku
“Ali sudah bilang dia akan datang sedikit telat, mungkin setelah pelapasan kain perban matamu, katanya sedang menyiapkan kejutan untukmu” jawab ibu
“Ah, mas Ali ada-ada saja, menyiapkan kejutan segala, begitu romantis” diam-diam aku tersenyum simpul
Saatnya aku membuka mataku, pelan-pelan namun masih begitu kabur, penglihatanku masih belum jelas, setelah terapi sedikit dengan mengedip-ngedip mataku, sedikit demi sedikit penglihatanku mulai jelas. Namun aku begitu kaget, mengapa ia berada disini? dimana ibu dan ayahku? dimana keluargaku? dimana mas Ali? mengapa mereka membiarkan aku bersama lelaki ini? mengapa ia tak mencegahnya? darimana ia datang? mengapa dia bisa masuk dikamarku? Pertanyaan demi pertanyaan muncul bertubi-tubi di pikiranku.
Aku kaget bukan kepalang, didetik pertama aku melihat dunia, mengapa harus wajahnya yang pertama kali aku lihat. Sosok itu semakin mendekatiku, namun kali ini wajah setengah tahun silam yang telah merenggut keindahan dunia muncul kembali. Dulu wajah itu yang terakhir kulihat, sebelum semuanya hilang dan berganti menjadi gelap, dan mengapa saat ini aku harus melihat wajah ini dahulu sebelum melihat keindahan dunia. Ah, atau setidaknya keindahan wajah suamiku.
Mengapa dia sini, apakah dia keluarga mas Ali? Ah mana mungkin suamiku dengan perangai begitu mulia bersaudara dengan brandalan pasar yang begitu kejam ini, tubuhku pun semakin bergeser ke ujung ranjang kecil ini, namun tiba-tiba kalimat itu menghentikan penolakanku terhadap kehadirannya.
Dek,
Tunggu suara itu, suara itu hanya berhak dimilikinya. Tak seoarangpun boleh atau bisa menirukannya. Suara itu tak mungkin memiliki peniru, ia tak akan sama perish,sis kecuali diucapkan oleh pemiliknya.
Tidak! Ini tidak mungkin, Mas Ali?
Mulutku terbata-bata, mencoba bertanya namun belum sempat sebutir katapun terucap dari bibirku yang kering, sosok itu sudah mendahuluiku
Dek, kembali ia memanggilku. Jiwaku berperang, mengapa suara itu begitu teduh terdengar, bahkan ia mampu menirukan suara mas Ali sama persis.
“Dek,. Ini Mas Ali, suamimu.”
Bukan, kau bukan dirinya. Aku tak percaya ini, tolong siapa saja usir dia dari hadapanku. jantungku seperti terjatuh ketika mendengar kalimat yang terucap dari sosok yang sekarang berada tepat dihadapanku, ia mengaku dirinya mas Ali.
“Maafkan Mas mu ini tidak jujur terhadap Dek selama ini, jujur Mas tak sanggup untuk berkata sejujurnya, rahasia ini telah Mas simpan selama setangah tahun lamanya hanya terhadap Adek seorang. Demi Tuhan! hati Mas begitu hancur saat menyaksikan tubuhmu tertabrak truk kala itu, Mas hanya bisa meratapi dan menangisi kesalahan Mas karena telah mencoba mendekatimu sehingga membuatmu takut dan berlari ke tengah jalan.”
“Jika kau adalah mas Ali, kenapa mas? Mengapa dirimu begitu menakutkan dan begitu kejam kala itu? Apakah dirimu ini hanya kepura-puraan untuk dapat menyakitiku lagi?” Tanyaku dengan sedikit merintih, aku sungguh kecewa, imamku yang selama ini sangat aku agungkan tak lain adalah seorang brandalan pasar yang aku benci.
“Dek, tolonglah jangan salah faham dengan Mas, jujur  Mas dahulu tetap sama dengan sekarang, Mas dulu membiarkan rambut gondrong dan jenggot serta pakaian yang kumal, karena saat itu Mas tengah di dera masalah, sebelum kedua orang tua Mas meninggal mereka sudah mewariskan seluruh hartanya kepada Mas dan Jihan. Namun karena kejahatan ibu tiri, ia mencoba membuat Mas dan Jihan menderita dengan mengusir kami dari rumah, ia bahkan tak mebiarkan kami hidup. Beberapa kali ia menyewa preman untuk membunuh kami, Karen tatkut kami melapor ke polisi karena mengetahui kejahatannya telah meracuni ibu kandung kami di belakang papa. Dan setelah tahu kami masih hidup dan tinggal di pasar ia kemudian menyebarkan berita bohong kepada seluruh pedangan di pasar bahwa Mas adalah brandalan yang kejam, jenggot dan rambut gondrong Mas mendukung kebenaran berita bohong itu, walhasil semua masyarakat pasar takut terhadap Mas dan amat membenci Mas, Jihan adik malang Mas tak ayalnya menjadi bulan-bulanan mereka, sering kali mereka melempari Jihan dengan buah dan sayuran busuk.” Ceritanya sambil berurai air mata
Gerimis diwajahku mulai turun ketika mendengar kisah hidup memilukan suamiku, ya Allah maafkan hambamu ini yang telah salah faham terhadap suamiku sendiri. Namun kejadian dengan kecelakaanku aku masih penasaran karena sedari tadi Mas Ali tak menyinggung sedikitpun tentang mengapa ia mengejarku saat itu.
“Lalu, mengapa waktu itu Mas mengejarku?”
Mendengar aku menanyakan kejadian setengah tahun silam, mas Ali hanya tertunduk, jelas dari wajahnya terpancar penyesalan yang mendalam. Namun ia tak menjawab pertanyaanku.
Dek, coba lihatlah jari manis tangan kirimu, sebelum benda kuning itu melingkar dijarimu, adakah benda lain yang mendahuluinya?” Tanya suamiku
Aku baru tersadar, cincin pemberian ibuku, aku letakkan dimana benda itu, aku seperti sudah tak mengenakannya sejak lama, apakah ibu mengambilnya ketika aku di ruang UGD setangah tahun silam. Tiba-tiba benda itu muncul dari genggaman tangan mas Ali.
“Ini kah yang Dek cari? Tanyanya.
Melihat ku menatap dengan wajah penuh tanya mas Ali kemudian melanjutkan kembali ucapannya.
“Ketahuilah Dek, benda inilah yang telah membuatku mengejarmu. Namun malangnya kala itu, Dek malah mengira Mas ingin berbuat jahat terhadapmu. Sebenarnya ayah dan ibu telah mengetahui hal ini sejak lama, karena Mas lah yang telah mengantarmu ke rumah sakit, diperjalanan bibir Mas seolah basah dengan ucapan do’a untuk kesembuhanmu, dan kala itu juga Mas beertekad untuk menjadikanmu satu-satunya bidadari belahan jiwaku. Namun Mas begitu terpukul ketika mengetahui kalau Dek mengalami kebutaan karenaku, lalu sejak saat itu Mas bertekad sebelum berani meminangmu Mas harus mampu menemukan kornea mata yang cocok denganmu, sehingga Allah menjawabnya melalui kepergian Jihan. Ia yang mengetahui bahwa  Mas sangat ingin menemukan mata penganti untukmu, maka dengan ikhlas ia mengatakan bahwa Jihan ingin tetap hidup bersama Mas dengan bersemayam di bola mata indah mba’ Fatima, itulah kata-kata terakhir Jihan yang selalu terngiang di telinga Mas hingga saat ini.
Mas Ali menyudahi ceritanya, air mataku sudah menganak sungai, seluruh pipiku sembab karena mengingat betapa bersalahnya aku selama ini padanya, bahkan mata suci adikknya kini ia berikan padaku.
Kupeluk sosok teduh dihadapanku.
“Maafkan Dek, Mas” ujarnya
“Dek ini bukan salahmu, inilah lembaran takdir yang telah Ia gariskan untuk mempertemukan dan menyatukan kita.“ sahut Mas Ali
***
Hujan rintik kian membelah langit,. gundukan tanah yang masih baru itu kini berada di hadapanku, di dalam sana ada tubuh Jihan yang mulia. Tanganku sedikit mulai bergerak menaburi bunga melati di makamnya. Terima kasih Jihan, ku yakin bidadari di surga-Nya tengah cemburu padamu.
“Mas, aku bahagia.  Aku ingin menganalmu, bersamamu, lebih dari kata Selamanya!”
“Begitupun aku, Dek!”