Selasa, 04 April 2017

Pergilah Derita

   Tidak ada komentar     
categories: 
Heitt, Cepatlah
Teriak Asiah sambil melayangkan lecutan cambuk, nafasanya kembali tersengal-sengal, sesekali wanita itu berhenti sambil beracak pinggang meluruskan otot-otot punggungnya yang sedikit kaku. Diliriknya mentari yang mulai condong ke arah barat. Hari sebentar lagi akan menemui gelap.
Heeeh. desah Asiah kembali sambil merapikan posisi berdirinya. Meski telah kehabisan separuh tenaga, ia harus merampungkan pekerjaannya. Esok sawah harus segera ditanamani.
 Pulang mari Siah, istirahat! so sore ini” oma Pu’mengingatkan wanita itu.
Sesekali wanita renta itu melepar senyum pada Asiah. Rambutnya memang tak lagi hitam. Tapi masalah tenaga, jangan kau tanya. Setiap sore ia telah terbiasa meminggul seikat kayu di punggungnya. Oma Pu’ hanya memiliki seorang anak perempuan, itupun kini tak lagi serumah dengannya. Lelaki yang meminang putrinya telah memboyong gadis itu ke tanah rantauan di ujung Utara Sulawesi.
Sapaan Oma Pu’ ia balas sekadarnya. Senyum mengisyaratkan bahwa perempuan renta itu bisa pulang lebih dahulu. Tak dapat dipungkiri, Asiah sebenarnya ingin sekali segera meninggalkan pekerjaannya, melemaskan kembali otot-otot tubuh yang sedari tadi diajaknya berpacu membajak sawah. Setidaknya takdir masih sedikit memihak Asiah dibanding Oma Pu’.
Dirinya tak seorang diri mencari nafkah. Suami masih ada untukknya, tapi sayang. Suaminya tak mampu melakukan pekerjaan membajak sawah. Dua tahun lalu, sebuah angkot tak sengaja menabrak sepeda Wadihulana, hingga membuat lelaki bertubuh kurus itu terjerembab ke dalam sungai. Peristiwa itu sudah berlalu, tapi tidak dengan luka di kaki lelaki itu. Kejadian itu membuat Wadihulana harus rela berjalan dibantu tongkat kayu buatannya.
Asiah bukan wanita sembarangan. Ia lahir bermarga Monoarfa, sebuah marga yang menandakanmu bergaris keturunan bangsawan di Gorontalo. Satu windu yang lalu Wadihulana meminangnya. Atas nama cinta, mereka mengingat janji sehidup semati. Demi terbina dongeng bahagia yang mereka rancang, Asiah rela meninggalkan hidup mewah di tengah keluarganya. Bukan mudah mereka mengikat janji. Wadihulana bukan lelaki yang menjemputnya dengan kendaraan mewah, hanya sebuah wisma kumuh peninggalan sang ayah di pinggiran desa Kabila yang ia punyai. Pernikahan sempat tak direstui karena uang mahar yang diminta keluarga Asiah terlampau jauh dari kesanggupan Wadihulana. Selain itu, ayah Asiah tak benar-benar merestui pernikahan mereka.
Asiah juga tak pernah memusingkan masalah ini dan itu. Ia sekokoh baja menjalani getir kehidupan yang ia rasa bersama suaminya. Bahkan kini, ketika akhirnya ia tak miliki rupiah untuk mengantarkan putri bungsunya berobat di Puskesmas, ia tetap tabah. Tapi, rengekan putrinya yang kian menusuk hati membuat wanita itu kian risau. Dua hari lalu, sebelum suami meninggalkannya. Sebuah pesan dititip untuknya bahwa ia belum bisa meninggalkan uang untuk keluarganya, karena upah dari pande besi belum ia terima.
Asiah hanya bisa terdiam bagai batu ketika mendengar ucapan suaminya. Bayangan pertamanya tak lain adalah pada nasib si bungsu. Bagaimana cara agar putrinya sembuh tanpa harus menguras “Rupiah”?
Telah sering hatinya ingin memberontak pada lelakinya. Tapi, demi Tuhan! Asiah selalu tak kuasa menahan selaput bening yang menganak sungai dari matanya. Ini bukan karena apa, ketika ia menemani sang suami memandai besi seharian, kadang mereka harus pulang gigit jari, sebab pandai besi yang mereka kerjakan tak membuahkan hasil yang setimpal. Jika kebetulan pelanggan memberikan upah, mungkin hanya cukup untuk makan sehari saja, kemudian esok harinya ia dan suami akan memutar otak bagaimana caranya agar perut bisa terisi.
Tak jarang ia harus pandai menenangkan buah hatinya ketika merengek, karena sedari pagi hanya meminum air dan memakan udara. Sulung kadang lebih paham kondisi keluarganya yang hampir sering berpuasa. Bahkan ketika pulang sekolah, ia acap kali memungut rongsokan untuk sekadar ditukar dengan nasi kuning dan segelas Akua.
Kehidupan rumah tangga yang dijalani Asiah bersama Wadihulawa memang tak seindah seperti rencana dahulu, ketika mereka mengikat janji cinta suci di hadapan penghulu. Wadihulawa yang memang berlatar belakang lelaki sederhana tak mampu memenuhi segala yang diinginkan Asiah, termasuk memberikan penghidupan yang layak. Bahkan rumah mereka lebih layak disebut gubuk ketimbang sebuah tempat istirahat.
Kini matahari tak lagi nampak di langitannya. Jejak-jejak senja mulai sedikit demi sedikit berlalu. Asiah masih saja asyik membenahi bekal-bekal yang dibawanya di kebun. Ketika hendak melangkahkan kaki meninggalkan petakan sawah, dilihatnya anak sulungnya sedikit berlari di atas pematang sawah. Sayup-sayup terdengar ia tengah memanggil-manggil nama ibunya.
Napas si sulung masih naik seperti bola pimbong yang lempar lalu jatuh lagi ke bawah. Gadis kecil itu terbata-bata mengucap kata. Ada hal penting yang harus segera didengar ibunya.
Mama…. suara itu terdengar dari bibir mungil si sulung.
Melihat sang anak yang mulai kelelahan, Asiah mencoba bertanya
Kenapa Nak, Mama so mau pulang ini. Ujar Asiah
Mama.... ade so tambah parah, depe mata ta balek-balek” ujar gadis kecil bermata bulat itu.
Deegg...
Jantung Asiah seperti memompa lebih kencang aliran darahnya. Napasnya seperti terdiam di kerongkongan. Seketika itu tubuhnya bergetar. Kakinya seperti tertancap jauh dalam pusaran bumi. Tanpa pikir panjang, ia mempercepat langkahnya.
Di jalan, bibir Asiah basah dengan zikir dan doa mengharap kesembuhan putrinya. Kerisauannya bertambah, sebab tak ditemani suami tercintanya ketika pelik semakin menerjang. Sehari yang lalu, berbekal ijazah sekolah menengah pertama, Wadihulawa memberanikan diri mengadu nasib di kota Manado.
Asiah sudah mencoba untuk mencegahnya. Tapi, Suaminya berdalih ingin memberikan penghidupan yang layak untuk keluarga. Ah itu bukan satu-satunya alasan. Mungkinkah Wadihulawa sudah tak sanggup lagi mendengar cemoohan dari orang tua Asiah yang memang tak menyukainya sejak dulu?
“Apa yang bisa dilakukan dengan tongkat di kakimu, Kak?” tanya Asiah saat Wadihulana meminta izin padanya
“Tenanglah Asiah. Kakak hanya membantu Roni menjalankan usaha meubel dan itu bisa dikerjakan sambil duduk” pungkas lelaki itu.
Brukkk...
Sepatu boat yang setia menemaninya membajak sawah, kini dilemparnya begitu ia tiba di rumah. Pandangannya kosong menerawang lorong sempit di hadapannya. Memasuki ruang rumah yang tak begitu besar, ia mulai memangil-manggil nama anaknya. Langkah wanita itu terhenti ketika menyaksikan keadaan putri bungsunya. Wajah gadis itu pucat pasi. Nampak bibirnya pecah-pecah karena jarang diakrabi air. Di ruang tempat putrinya terbaring itu tak ada selimut tebal apalagi penghangat ruangan. Hanya ada sebuah ranjang lusuh tanpa kasur. Di samping ranjang ada meja kayu dengan sebuah ketel dan gelas di atasnya. Beberapa gantungan baju di sudut ruangan dan sebuah jendela kayu yang mendencit nyaring ketika di buka.
Asiah mengangkat tubuh putrinya yang kian melemas. Ia mengecup kening si bungsu. Tanda kasih sayang seorang ibu untuk anakknya. Setidaknya apa yang ia lakukan bisa menenangkan hati putrinya. Sungguh, tak sampai hati ia melihat kondisi buah hatinya yang semakin melemas. Persetan dengan rupiah, ia harus segera membawa si bungsu ke Puskesmas.
“Bagaimana pak?” Tanya Asiah penuh selidik, matanya tajam menghadap sang dokter, ia ingin segera mengetahui keadaan putrinya.
Anak ibu terkena step akibat kondisi tubuh yang terlalu panas, baiknya dikompres dengan air dingin. Ibu juga bisa membalurnya dengan parutan bawang merah di tubuhnya.” Ucap sang dokter, membuat hati Asiah sedikit lega.
Sedikit sunggingan senyum bermuara di bibir wanita itu. Dengan sisa kekuatannya, ia menggendong si bungsu kembali menuju gubuk sederhana mereka.
Ketika semburat mentari mulai redup. Asiah kembali teringat akan lembaran episode kehidupannya. Ingin rasanya ia berteriak sekuat tenaga. Mengapa hidupnya begitu menderita. Tak cukup rasanya Tuhan mengujinya dengan pernikahan tanpa restu orang tua. Sekarang ditambah lagi dengan kondisi kehidupan keluarganya yang sangat jauh dari kata cukup. hati Asiah kian hari kian tercabik-cabik. Bahkan sekeping demi sekeping umpatan sang ayah selalu melayang di telinganya. Namun, tak sekali wajah kecut itu ia tampakkan di depan sang ayah. Bahkan baktinya pada orang tuanya tercurahkan tiada tara.
Seminggu yang lalu, Asiah kembali menjalankan rutinitas sehariannya, membersihkan rumah orang tuanya, meski ketika ia sampai di rumah kedua orang tuanya, bukan jawaban salam yang diterimanya melainkan lemparan cibiran yang kian menyayat hati dari sang ayah, tapi tak sedikitpun hati Asiah menafikkannya. Ia tetap setia melayani hidup sang ibu yang kini hanya bisa menikmati sisa hidupnya di ranjang. Setiap pagi dan sore Asiah harus menyiapkan air hangat untuk memandikan sang bunda, menggantikannya pakaian kemudian menyuapinya. Ia tak pernah memperdulikan cibiran ayahnya. Semua ia lakukan karena baktinya pada orang tua. Suatu ketika sang ayah dengan beracak pinggang menemui Asiah di rumahnya. Dengan sombong ia meminta Asiah untuk meningalkan kehidupan susahnya bersama Wadihulawa.
“Siah, kinapa tidak pisah saja dengan Wadi, tidak bosankah kamu hidup menderita? Belum lagi lelaki itu jarang memberimu. Begini sudah, jika anak tak menurui perkataan orang tua.” gerutu sang ayah
“Siah sudah mengibar layar bersama Kak Wadi Papa, pantang bagi Siah untuk mengulur kembali, apalagi kembali ke daratan” pungkasnya
Asiah tak habis pikir, mengapa ayah begitu membenci menantu yang bahkan sudah 8 tahun bersama dengan anaknya. Belakangan Asiah mengetahui bahwa alasan ayahnya sangat membenci keluarga Wadihulawa karena perkara masa lalu. Kedua ayah mereka pernah bersitegang lantaran memperebutkan seorang gadis, ya gadis yang akhirnya kini menjadi ibu dari Asiah. Tapi ayah Asiah tetap menganggap keluarga Wadihulana selamanya adalah rival baginya.
Ahhh.....
Asiah menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, diusirnya seluruh bayangan-bayangan tentang ayah dan ibunya yang tak menyukai rumah tangganya. Ia bertekad apapun yang terjadi ia tak akan pernah meninggalkan Wadihulawa, sebab mereka sudah terlanjur mengikat cinta dalam tali suci pernikahan. ia tak mungkin melepas ikatan itu hanya karena terpaan badai yang tak sebanding dengan besarnya pegorbanan mereka.
            Mentari sudah terbenam di langit Kabila, Sebentar lagi langit serambi madinah akan kembali menemui gelap. Nyanyian katak mulai bersahutan menyambut datangnya hari yang menghitam. Dipandangnya perut langit yang mulai membuncit karena mendung, sebentar lagi bulir-bulir hujan akan memanah wajah bumi. Bumi Kabila telah basah.

Jumat, 24 Februari 2017

Sendiri itu

Sendiri dalam ketaatan bukanlah sebuah luka
karena yang berdua belum pasti suka
ada sendiri, agar kita memaknai bersama itu mahal
ada sendiri, agar diri fokus mengabdi di barisan jundi

ketaatan pun kadang muncul saat sendiri
karena saat demikian kau temui Tuhanmu lah pengamat setiamu

karena yang berlelah akan dikalahkan oleh yang berlillah
yang berdua akan terkalahkan oleh yang setia
berdua dalam Mistaqan Ghalizon bukan seperti ajang lomba lari
pemenangnya tak pasti yang duluan mencapai garis finish
tetap istiqomah dalam kesendirian
karena Rahwana pasti mencari Dewi Sinta

Kamis, 17 November 2016

Seperti Khadijah

“Ketika kita mengharapkan yang datang adalah pribadi seperti Muhammad Saw, kitalah dahulu yang menjadi Khadijah”
Saudariku, kita umpamakan  saat menangkap ikan pada bejana kecil.  Sudah jelas kan kita tahu bagaimana besar ikan itu, warnanya apa dan seperti gerak geriknya, mudah untuk menangkapnya, sehingga kita tidak perlu menyediakan banyak alat atau tenaga yang kuat. Cukuplah sediakan kedua tangan kita, ikan itu pasti akan tertangkap.
Tapi bagaimana jika kita hendak menangkap ikan di lautan lepas yang belum kita ketahui bagaiamana kondisinya, besarnya seperti apa, dan bagaiamana bentuknya. Bisa jadi ikan itu kecil sehingga kita tidak butuh kekuatan lebih untuk menangkapnya. Bisa jadi ia bukan ikan tapi ubur-ubur, sehingga kita harus menyiapkan baju renang anti sengatan untuk menangkapannya, atau jaring khusus. Bisa jadi ia cumi-cumi sehingga kita harus memilki trik khusus untuk menangkapnya agar tak terkena racun.
Demikianlah, hal nya dalam menangkap ikan. Ada yang sudah jelas ada yang belum jelas. Jodoh itu bukan hal yang sudah jelas seperti ikan dalam bejana kecil. Jodo itu hal yang ajaib, seperti menangkap ika di lauatan lepas.
Perlu ada persiapan khusus yang harus kita penuhi. Mulai dari periapan lahir maupun batin. Tak cukup dengan hanya mengatakan saya siap menyambut jodoh, tapi apa persiapan kita sudah sampai pada titik maksimal?
Jangan salahkan ketika kita hanya siap di lisan dalam menyambut jodoh, maka jodoh yang datang pun adalah jodoh pas-pasan yang bisa jadi sayangnya pas-pasan, ya pas habis nikah aja. Bisa jadi solehnya juga pas-pasan, pas shalatnya yang wajib saja
Beberapa waktu lalu, saya sempat cerita dengan seorang muslimah,
Ya Mba, Insya Allah saya gak mau dapat jodoh orang sini. Apalagi belangnya mereka sudah pada ketahuan, katanya aktivis dakwah. Tapi masih sering smsan sama yang bukan mahram. Katanya aktivis dakwah. Tapi masih sering tebar pesona gak jelas di hadapan para wanita. Disuruh tundukin pandangan, malah kita perempuan yang disuruh pakai burdah. Ih, pokoknya saya mau cari yang seperti Nabi Muhammad. Ya minimal 10% akhalaknya Muhammad.
Oh jadi kamu inginnya dapat suami yang seperti muhamad?
Iya dong. Muhamad itu, sosok lelaki yang sempurna. Beliau itu sungguh memuliakan wanita. Saat wanita mengeluh karena sakit atau menderita akibat suaminya mati di medan jihad, maka Muhammad akan menyelamatkan wanita itu.
Ingat kan kisah nabi Muhammad yang pulang larut malam kemudian mengetahui bahwa rumahnya telah terkunci rapat, karena takut jika ia mengetuk pintu, Aisyah akan terbangun dan merasa bersalah. Makai Nabi pun tidur di depan pintu. Ketika pagi datang, betapa kagetnya si Humairah melihat kekasihnya tidur di depan pintu. Maka saat itu, Aisyah langsung meminta maaf pada suaminya. Muhammad yang melihat Aisyah minta maaf, langsung menyambut tangan istri beliau dan saling berebut meminta maaf dan mengaku salah. Romantiskan muhamad?
Iya, Muhammad memang sang uswah yang wajib untuk kita teladani akhlaknya. Yakin, kamu benar-benar menginginkan sosok seperti Muhamad menjadi imammu?
Insya Allah, aku yakin.
Nah, kamunya sudah seperti bunda Khadijah belum?
***
Tersadar apa tidak, kita memang selalu mengharapkan yang muluk-muluk untuk hidup kita. Lebih-lebih perkara jodoh, seperti hal nya persiapan menangkap ikan yang butuh banyak alat dan kesiapan. Begitu pula dengan jodoh.
Ketika kita mengharapkan yang datang adalah pribadi seperti Muhammad Saw, tentunya kitalah dahulu yang menjadi Bunda Khadijah. Minimal mendekati
Jodoh itu cerminan diri, seperti apa kita begitu pula jodoh kita.
Menginginkan sosok seperti Muhammad itu sah-sah saja. Bahkan dianjurkan, setidaknya sebagai motivasi kita memperbaiki diri, Khadijahkan diri kita Maka insya Allah Muhammad pun akan datang.