Heitt, Cepatlah
Teriak Asiah sambil melayangkan lecutan cambuk, nafasanya kembali
tersengal-sengal, sesekali wanita itu
berhenti sambil beracak pinggang meluruskan otot-otot punggungnya yang sedikit kaku. Diliriknya mentari yang mulai
condong ke arah barat. Hari sebentar lagi akan menemui gelap.
“Heeeh.” desah Asiah kembali sambil
merapikan posisi berdirinya. Meski telah
kehabisan separuh tenaga, ia harus merampungkan pekerjaannya. Esok sawah harus
segera ditanamani.
“Pulang mari
Siah, istirahat! so sore ini” oma Pu’mengingatkan wanita itu.
Sesekali wanita renta itu melepar senyum pada Asiah. Rambutnya
memang tak lagi hitam. Tapi masalah tenaga, jangan kau tanya. Setiap sore ia
telah terbiasa meminggul seikat kayu di punggungnya. Oma Pu’ hanya
memiliki seorang anak perempuan, itupun kini tak lagi serumah dengannya. Lelaki
yang meminang putrinya telah memboyong gadis itu ke tanah rantauan di ujung
Utara Sulawesi.
Sapaan Oma Pu’ ia balas sekadarnya. Senyum mengisyaratkan
bahwa perempuan renta itu bisa pulang lebih dahulu. Tak
dapat dipungkiri, Asiah sebenarnya ingin sekali segera meninggalkan
pekerjaannya, melemaskan kembali otot-otot tubuh yang sedari tadi diajaknya
berpacu membajak sawah. Setidaknya takdir masih
sedikit memihak Asiah dibanding Oma Pu’.
Dirinya tak seorang diri mencari nafkah. Suami masih
ada untukknya, tapi sayang. Suaminya tak mampu melakukan pekerjaan membajak
sawah. Dua tahun lalu, sebuah angkot tak sengaja menabrak sepeda Wadihulana,
hingga membuat lelaki bertubuh kurus itu terjerembab ke dalam sungai. Peristiwa
itu sudah berlalu, tapi tidak dengan luka di kaki lelaki itu. Kejadian itu
membuat Wadihulana harus rela berjalan dibantu tongkat kayu buatannya.
Asiah bukan wanita sembarangan. Ia lahir bermarga Monoarfa,
sebuah marga yang menandakanmu bergaris keturunan bangsawan di Gorontalo. Satu
windu yang lalu Wadihulana meminangnya. Atas nama cinta, mereka mengingat janji
sehidup semati. Demi terbina dongeng bahagia yang mereka rancang, Asiah rela
meninggalkan hidup mewah di tengah keluarganya. Bukan mudah mereka mengikat janji.
Wadihulana bukan lelaki yang menjemputnya dengan kendaraan mewah, hanya sebuah
wisma kumuh peninggalan sang ayah di pinggiran desa Kabila yang ia punyai. Pernikahan
sempat tak direstui karena uang mahar yang diminta keluarga Asiah terlampau
jauh dari kesanggupan Wadihulana. Selain itu, ayah Asiah tak benar-benar
merestui pernikahan mereka.
Asiah juga tak pernah memusingkan masalah ini dan itu.
Ia sekokoh baja menjalani getir kehidupan yang ia rasa bersama suaminya. Bahkan
kini, ketika akhirnya ia tak miliki rupiah untuk mengantarkan putri bungsunya
berobat di Puskesmas, ia tetap tabah. Tapi, rengekan
putrinya yang kian menusuk hati membuat wanita itu kian risau. Dua hari lalu, sebelum suami meninggalkannya. Sebuah
pesan dititip untuknya bahwa ia belum bisa meninggalkan uang untuk keluarganya, karena
upah dari pande besi belum ia terima.
Asiah
hanya bisa terdiam bagai batu ketika mendengar ucapan suaminya. Bayangan
pertamanya tak lain adalah pada nasib si bungsu. Bagaimana cara agar putrinya sembuh tanpa harus menguras “Rupiah”?
Telah sering hatinya ingin memberontak pada lelakinya. Tapi, demi Tuhan! Asiah
selalu tak kuasa menahan selaput
bening yang menganak sungai dari matanya. Ini bukan karena apa, ketika ia menemani
sang suami memandai besi seharian, kadang
mereka harus pulang gigit jari, sebab
pandai besi yang mereka kerjakan tak membuahkan hasil yang setimpal. Jika
kebetulan pelanggan memberikan upah, mungkin hanya
cukup untuk makan sehari saja, kemudian esok harinya ia dan suami akan memutar
otak bagaimana caranya agar perut bisa
terisi.
Tak jarang ia harus pandai menenangkan buah hatinya
ketika merengek, karena sedari pagi hanya meminum air dan memakan udara. Sulung
kadang lebih paham kondisi keluarganya yang hampir sering berpuasa. Bahkan ketika
pulang sekolah, ia acap kali memungut rongsokan untuk sekadar ditukar dengan
nasi kuning dan segelas Akua.
Kehidupan
rumah tangga yang dijalani Asiah bersama Wadihulawa memang tak seindah seperti
rencana dahulu, ketika mereka
mengikat janji cinta suci di hadapan penghulu. Wadihulawa yang memang berlatar
belakang lelaki sederhana tak mampu memenuhi segala yang diinginkan Asiah,
termasuk memberikan penghidupan yang layak. Bahkan rumah mereka lebih layak
disebut gubuk ketimbang sebuah tempat istirahat.
Kini
matahari tak lagi nampak di langitannya.
Jejak-jejak senja mulai sedikit demi
sedikit berlalu. Asiah masih saja asyik membenahi bekal-bekal yang dibawanya di
kebun. Ketika hendak melangkahkan kaki meninggalkan petakan sawah, dilihatnya
anak sulungnya sedikit berlari di atas
pematang sawah. Sayup-sayup terdengar ia tengah memanggil-manggil nama ibunya.
Napas si sulung masih naik seperti bola pimbong yang lempar lalu jatuh lagi ke
bawah. Gadis kecil itu terbata-bata mengucap kata. Ada hal
penting yang harus segera didengar ibunya.
Mama….
suara itu terdengar dari bibir mungil si sulung.
Melihat
sang anak yang mulai kelelahan, Asiah mencoba bertanya
“Kenapa Nak,
Mama so mau pulang ini. Ujar Asiah
“Mama.... ade so
tambah parah, depe mata ta balek-balek” ujar gadis kecil bermata bulat itu.
Deegg...
Jantung Asiah seperti memompa lebih kencang aliran darahnya. Napasnya
seperti terdiam di kerongkongan.
Seketika itu tubuhnya bergetar.
Kakinya seperti tertancap jauh dalam pusaran bumi. Tanpa pikir panjang, ia mempercepat langkahnya.
Di jalan, bibir
Asiah basah dengan zikir dan doa mengharap kesembuhan putrinya. Kerisauannya
bertambah, sebab tak ditemani suami tercintanya ketika pelik semakin menerjang.
Sehari yang lalu, berbekal ijazah sekolah menengah pertama, Wadihulawa
memberanikan diri mengadu nasib di kota Manado.
Asiah
sudah mencoba untuk mencegahnya. Tapi, Suaminya
berdalih ingin memberikan penghidupan yang layak untuk
keluarga. Ah itu bukan satu-satunya alasan. Mungkinkah Wadihulawa sudah tak
sanggup lagi mendengar cemoohan dari orang tua Asiah yang memang tak menyukainya sejak dulu?
“Apa yang bisa dilakukan dengan tongkat di kakimu, Kak?”
tanya Asiah saat Wadihulana meminta izin padanya
“Tenanglah Asiah. Kakak hanya membantu Roni menjalankan
usaha meubel dan itu bisa dikerjakan sambil
duduk” pungkas lelaki itu.
Brukkk...
Sepatu boat yang
setia menemaninya membajak sawah, kini dilemparnya begitu ia tiba di rumah. Pandangannya kosong menerawang
lorong sempit di hadapannya. Memasuki ruang rumah yang tak begitu besar, ia
mulai memangil-manggil nama anaknya. Langkah wanita itu terhenti ketika menyaksikan keadaan putri bungsunya. Wajah gadis itu pucat pasi. Nampak bibirnya
pecah-pecah karena jarang diakrabi air. Di ruang tempat putrinya terbaring itu tak
ada selimut tebal apalagi penghangat ruangan. Hanya ada sebuah
ranjang lusuh tanpa kasur. Di samping ranjang ada meja
kayu dengan sebuah ketel dan gelas di atasnya. Beberapa gantungan baju di sudut
ruangan dan sebuah jendela kayu yang mendencit nyaring ketika di buka.
Asiah
mengangkat tubuh putrinya yang kian melemas. Ia mengecup kening si bungsu. Tanda kasih sayang seorang ibu untuk anakknya. Setidaknya apa yang ia lakukan
bisa menenangkan hati putrinya. Sungguh, tak sampai
hati ia melihat kondisi buah hatinya yang semakin melemas. Persetan dengan rupiah, ia harus segera membawa si
bungsu ke Puskesmas.
“Bagaimana pak?” Tanya Asiah penuh selidik, matanya tajam menghadap
sang dokter, ia ingin segera mengetahui keadaan putrinya.
“Anak ibu terkena
step akibat kondisi tubuh yang terlalu panas, baiknya dikompres dengan air
dingin. Ibu juga bisa membalurnya dengan parutan bawang merah di tubuhnya.”
Ucap sang dokter, membuat hati Asiah sedikit lega.
Sedikit sunggingan
senyum bermuara di bibir wanita itu. Dengan sisa kekuatannya, ia menggendong si
bungsu kembali menuju
gubuk sederhana mereka.
Ketika semburat mentari mulai redup. Asiah kembali teringat akan
lembaran episode kehidupannya. Ingin rasanya ia berteriak sekuat tenaga.
Mengapa hidupnya begitu menderita. Tak cukup rasanya Tuhan mengujinya dengan pernikahan
tanpa restu orang tua. Sekarang ditambah lagi dengan kondisi kehidupan
keluarganya yang sangat jauh dari kata cukup. hati Asiah kian hari kian tercabik-cabik.
Bahkan sekeping demi sekeping umpatan sang ayah selalu melayang di telinganya.
Namun, tak sekali wajah kecut itu ia tampakkan di depan sang ayah. Bahkan baktinya pada orang tuanya
tercurahkan tiada tara.
Seminggu yang lalu, Asiah kembali menjalankan rutinitas sehariannya,
membersihkan rumah orang tuanya, meski ketika ia sampai di rumah kedua orang
tuanya, bukan jawaban salam yang diterimanya melainkan lemparan cibiran yang
kian menyayat hati dari sang ayah, tapi tak sedikitpun hati Asiah
menafikkannya. Ia tetap setia melayani hidup sang ibu yang kini hanya bisa
menikmati sisa hidupnya di ranjang. Setiap pagi dan sore Asiah harus menyiapkan
air hangat untuk memandikan sang bunda, menggantikannya pakaian kemudian
menyuapinya. Ia tak pernah memperdulikan cibiran ayahnya. Semua ia lakukan
karena baktinya pada orang tua. Suatu ketika sang ayah dengan beracak pinggang
menemui Asiah di rumahnya. Dengan sombong ia meminta Asiah untuk meningalkan
kehidupan susahnya bersama Wadihulawa.
“Siah, kinapa tidak pisah saja dengan Wadi, tidak bosankah kamu hidup menderita? Belum lagi lelaki itu
jarang memberimu. Begini sudah, jika anak tak menurui perkataan orang tua.” gerutu
sang ayah
“Siah sudah mengibar layar bersama Kak Wadi
Papa, pantang bagi Siah untuk mengulur kembali, apalagi kembali ke daratan”
pungkasnya
Asiah tak habis pikir, mengapa ayah begitu membenci menantu yang bahkan
sudah 8 tahun bersama dengan anaknya. Belakangan Asiah mengetahui bahwa alasan
ayahnya sangat membenci keluarga Wadihulawa karena perkara masa lalu. Kedua ayah mereka
pernah bersitegang lantaran memperebutkan seorang
gadis, ya gadis yang akhirnya kini menjadi ibu dari Asiah. Tapi ayah Asiah tetap menganggap keluarga Wadihulana
selamanya adalah rival baginya.
Ahhh.....
Asiah menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, diusirnya seluruh
bayangan-bayangan tentang ayah dan ibunya yang tak menyukai rumah tangganya. Ia
bertekad apapun yang terjadi ia tak akan pernah meninggalkan Wadihulawa, sebab
mereka sudah terlanjur mengikat cinta dalam tali suci pernikahan. ia tak
mungkin melepas ikatan itu hanya karena terpaan badai yang tak sebanding dengan besarnya pegorbanan mereka.
Mentari
sudah terbenam di langit Kabila,
Sebentar lagi langit serambi madinah akan kembali menemui gelap. Nyanyian katak mulai bersahutan menyambut
datangnya hari yang menghitam. Dipandangnya
perut langit yang mulai membuncit karena mendung, sebentar lagi bulir-bulir
hujan akan memanah wajah bumi.
Bumi Kabila telah basah.


